OH MY BOSS

OH MY BOSS
GILANG CEMBURU!



Rapat dengan beberapa pimpinan bagian pemasaran berlangsung satu jam lamanya. Pelangi yang tidak terbiasa berada di ruang tertutup dan mendengar perbincangan yang tidak dimengertinya sama sekali tentu saja merasa bosan dan mengantuk setengah mati.


Meski begitu, ia berusaha untuk tetap profesional dalam menjalankan pekerjaannya. Toh, Gilang sudah berbaik hati mau menerimanya bekerja di kantor pusat walaupun ia tidak mengerti apa pun. Maklum saja, karena selama ini ia banyak menghabiskan waktu dengan berkebun. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu saat ia akan bekerja di sebuah kantor besar dan bergengsi, dengan bos yang super tampan dan memesona.


Setelah lebih dari satu jam akhirnya Gilang menutup pertemuan dan segera bangkit berdiri, lalu keluar dari ruang rapat diikuti oleh Pelangi dan Toni. Saat berjalan menuju pintu itulah salah seorang asisten dari divisi lain menarik lengan Pelangi, membuat Pelangi menghentikan langkah dan menatap asisten itu dengan kening berkerut.


“Ya, ada apa?” tanya Pelangi.


“Kamu Pelangi, ‘kan?” tanya asisten itu, yang pada kemejanya terdapat name tag bertuliskan Vina. “Kita memang tidak akrab, tapi kamu sering bertugas di ruanganku saat masih menjadi office girl dulu. Sekarang kamu sudah naik pangkat rupanya. Aku pikir kamu benar-benar menikah dengan Pak Gilang, tapi ternyata tidak, ya. Karena jika gosip itu benar, mana mungkin Pak Gilang menjadikan istrinya sebagai asisten pribadinya, ya, ‘kan? Gosip yang menyebar memang sering berlebihan.” Vina terus mengoceh.


Vina adalah salah satu asisten dari bagian pemasaran yang sempat dipindahkan ke kantor cabang jauh sebelum Pelangi dan Gilang menikah, sehingga wanita itu tidak tahu menahu perihal pernikahan Gilang dan Pelangi selain mendengar dari gosip yang menurutnya terlalu mengada-ngada. Apalagi Vina bukanlah tipe wanita yang mau menyibukkan diri untuk membaca majalah bisnis yang memuat edisi kehidupan pribadi Gilang Andreas. Sehingga wanita itu tidak tahu apa-apa, tapi selalu berlagak sok tahu.


Pelangi tidak mengatakan pada Vina bahwa dirinya adalah Raina, bukan Pelangi. Ia justru tersenyum pada wanita itu dengan ramah dan mengatakan, “Kenapa bagimu pernikahanku dan Pak Gilang hannyalah gosip yang terlalu berlebihan? Padahal tidak menutup kemungkinan jika aku memang menikah dengan Pak Gilang, ‘kan.”


Vina memonyongkan bibirnya sesaat, lalu mengatakan, “Ya, itu karena pernikahan kalian terlalu mengada-ngada saja buatku. Mana ada di kehidupan nyata seorang office girl menikah dengan putra pemilik perusahaan. Apalagi putra satu-satunya seperti Pak Gilang. Hal seperti itu hanya terjadi di dalam sinetron dan juga novel yang hampir semuanya memiliki cerita yang sama, pembantu menikahi majikan, asisten menikahi bosnya, dan yang begitu-begitulah. Ini kehidupan nyata, Pelangi, kamu mungkin bisa naik pangkat dengan mudah, tapi menarik hati seorang pria sempurna seperti Pak Gilang itu bukan hal yang mudah. Apalagi Pak Gilang sudah berpacaran dengan Gisel selama bertahun-tahun, tidak mungkin kehadiranmu dapat menarik perhatiannya begitu saja dan membuatnya berpaling dari Gisela yang super model itu, kecuali kamu pakai pelet.” Vina tertawa, lalu menepuk pundak Pelangi dan berlalu pergi.


Ya, apa yang dikatakan Vina terlalu masuk akal bagi Pelangi, yang sayangnya tidak terpikirkan olehnya selama ini. Ingatannya memang belum kembali seutuhnya, hingga ia tidak tahu bagaimana awal mula hubungannya dengan Gilang dimulai. Tidak mungkin Gilang jatuh cinta padanya begitu saja dan memutuskan Gisel yang luar biasa sempurna. Itu semua terlalu impossible!


Pelangi menghela napas, memutuskan untuk memusingkah hal itu nanti saja. Ia lalu melangkah keluar ruangan. Rasanya tidak rugi juga jika ia menjadi dirinya sendiri sebagai Pelangi saat tidak ada Gilang dan Toni di sekitarnya, dengan begitu ia bisa mencari tahu lebih banyak tentang kehidupannya terdahulu agar ingatannya cepat kembali.


“Fighting, Pelangi, Fighting. Sebelum satu bulan aku harus sudah mengingat segalanya. Jika tidak, aku akan menyingkir dan pulang ke desa.” Pelangi bergumam, kemudian berlari keluar ruangan, menyusul Gilang dan Toni yang sudah tidak tampak batang hidungnya.


Di lobi Gilang dan Toni menanti kemunculan Pelangi yang ternyata tidak ada di belakang mereka.


“Ke mana perginya dia. Apa dia tidak tahu bahwa jadwal kita setelah ini adalah bertemu klien di luar kantor?” Gilang bertanya pada Toni.


“Raina sudah membaca semua jadwal kita hari ini. Aku yakin dia pasti tahu. Sabarlah dulu, mungkin dia sedang ke toilet.” Toni menjawab pertanyaan Gilang dengan tenang, khas Toni, selalu tenang dan tidak menggebu-gebu seperti Gilang.


Beberapa saat kemudian Pelangi muncul dari dalam elevator, lalu segera menghampiri Gilang dan Toni. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai bergerak-gerak liar saat ia berlari-lari kecil menyeberangi lobi. Pelangi memang terlihat cantik sekali. Kemeja merah muda yang memiliki tali di bagian depannya menempel pas di tubuhnya yang ramping, dan rok sepan berwarna cream yang ia kenakan membuat penampilannya semakin elegan.


Melihat Pelangi seperti itu, membuat dada Gilang berdebar tidak normal. Ingin rasanya ia menarik Pelangi masuk ke dalam ruangannya alih-alih menghadiri pertemuan dengan klien di restoran. Apalagi penampilan Pelangi yang begitu cantik bisa saja menarik perhatian para klien yang akan ditemuinya siang ini. Jika itu terjadi, maka ia pasti tidak akan terima.


“Siapa yang akan kita temui siang ini?” tanya Gilang pada Toni tiba-tiba, sebelum Pelangi tiba di hadapannya


“Pak Ridwan dari Shava Group.”


“Shit, si mata keranjang itu?” keluh Gilang.


Toni mengernyitkan dahi. “Aku tidak bisa menilai dia mata keranjang atau tidak, karena aku tidak pernah melihat keranjang di matanya.”


Gilang meninju perut Toni, yang dimaksudkan hanya untuk bercanda. “Dia itu mata keranjang. Aku pernah dengar kalau dia itu memiliki tiga istri dan dua selir.”


“Maaf, terlam—“


“Apa kamu bawa blazer atau sejenisnya yang bisa kamu kenakan di luar pakaian ketatmu ini?” tanya Gilang pada Pelangi.


Pelangi menggeleng, lalu memindai penampilannya sendiri dari bawah leher hingga ujung kaki. “Lagi pula, pakaianku tidak ketat, Pak.”


“Iya, Gil, pakaian Raina tidak ketat.”


Gilang berdecak kesal, lalu menarik lengan Pelangi agar wanita itu mendekat ke arahnya, kemudian memutar tubuh Pelangi di hadapannya. “tidak ketat apanya. Lihatlah, setiap lekuk tubuhnya tercetak dengan jelas.” Gilang kemudian membuka jas yang ia kenakan dan memberikannya pada Pelangi. “Pakai ini dan jangan membantah jika tidak ingin kupecat!” ujarnya, saat dilihatnya Pelangi ingin menolak.


Pelangi cemberut dan melempar tatapan kesal ke arah punggung Gilang yang bergerak menjauh.


“Pakailah cepat. Daripada dia marah nanti.” Toni memberi saran sebelum menyusul langkah Gilang, membuat Pelangi akhirnya memasang jas besar milik Gilang di tubuhnya yang langsing.


“Ya, aku seperti mengenakan karung sekarang,” omel Pelangi, kemudian berlari menyusul Gilang dan Toni.


***


HOTEL SWISS 13.05


Pak Ridwan, adalah salah satu klien penting bagi Andreas Group, karena pria berperawakan tinggi besar dengan kepala botak dan perut buncit itu adalah salah satu klien yang selalu menggunakan jasa-jasa yang disediakan Andreas Group dalam setiap usaha yang ia kembangkan. Termasuk usahanya kali ini, yaitu pembangunan sebuah resort di Balikpapan dan Bali.


Andreas Group selain bergerak di bidang pariwisata dan perhotelan, juga bergerak di bidang pelayanan jasa arsitek hingga desain interior dan eksterior. Tidak mengherankan, jika Andreas Group semakin berjaya setiap tahunnya, walau sempat jatuh dan berganti nama beberapa waktu lalu.  


“Ingat, jika dia berkedip padamu, langsung tampar saja,” gumam Gilang pada Pelangi yang berjalan di sebelahnya.


Saat ini mereka telah tiba di King's Resto, dan keberadaan Pak Ridwan yang begitu mencolok dengan setelan jas serba ungunya telah terlihat oleh Gilang, hingga membuat Gilang terdorong untuk memberikan nasihat pada Pelangi agar wanita itu tidak mudah digoda dan masuk dalam daftar tunggu istri ke empat atau selir ketiga.


“Gil, jaga bicaramu,” ucap Toni, yang mendengar perkataan Gilang pada Pelangi.


“Tenang saja, Pak, mana mungkin aku menampar sembarangan orang.” Pelangi menimpali ucapan Toni dengan formal, karena sekarang ini mereka sedang berada di lingkungan kerja.


“Ya, sudah, kalau kamu tidak mau, biar aku saja yang tampar.”


“Walcome, welcome, welcome, Mr. Gilang, Mr. Toni, and Miss ...?” Ridwan mengulurkan tangannya ke Pelangi.


“Raina.” Pelangi menjawab dan mengulurkan tangan, berniat menyambut uluran tangan Ridwan. Namun, Gilang segera menggeser tubuh Pelangi dan menyalami uluran tangan pria berkepala botak itu.


“Haha, ya, ya, senang bertemu dengan Anda, Pak Rid.” Gilang mengguncang tangan Ridwan dengan berlebihan. Kemudian ia meminta Ridwan dan juga asisten Ridwan untuk duduk.


Pelangi dan Toni tersenyum ke arah Ridwan dan asisten Ridwan, lalu ikut duduk di samping kanan dan kiri Gilang.


Pertemuan berjalan hampir dua jam lamanya, karena Ridwan mengajak mereka untuk makan siang sekalian. Setelah pertemuan selesai, Gilang bangkit berdiri dan mengucapkan terima kasih atas traktiran dari Ridwan.


“Lain kali, aku akan mentraktir Anda juga, Pak Rid,” ujar Gilang.


“Ya, sure, kita bisa makan siang atau makan malam bersama lain kali. Aku tidak akan mungkin melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan Miss. Raina kapan pun itu.” Ridwan membungkuk pada Pelangi, seperti sedang membungkuk pada seorang putri raja yang hendak ia lamar.


Pelangi turut membungkuk sembari tersenyum. “Terima kasih, Pak Ridwan, saya sangat tersanjung,” ujar Pelangi.


“Sayang sekali, tapi lain kali saya tidak akan mengajak Raina. Makannya terlalu banyak,” ujar Gilang, lalu pamit undur diri.


Pelangi cemberut dan segera mengekor langkah Gilang, sementara Toni terlihat setengah mati menahan tawa melihat kecemburuan Gilang.


“Hebat sekali, Gilang kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya pada wanita yang sama.”


***


Andrew mengetuk-ngetuk jemari pada kemudi mobilnya dengan tidak sabar. Ia tengah berada di tepi jalan saat ini, menanti kemunculan seorang pria yang beberapa satu hari lalu ia bayar demi menyampaikan sebuah kebohongan.


Kemarin ia mendengar secara langsung semua kebohongan yang pria suruhan itu sampaikan pada si klien. Headset bluetooth yang menempel di telinganya memperdengarkan semua percakapan yang terjadi antara si pria suruhannya dan juga klien bodoh yang menyewa jasa detektif dari kantor detektif swasta beberapa hari lalu. Klien bodoh itu adalah Gisela.


Tindakan yang diambil Gisel sangat mudah untuk ditebak. Tepat di hari kepulangan Gilang dan Pelangi dari kota, Andrew memutuskan untuk memata-matai Gisel, sementara Toni yang bertugas untuk mengatakan pada Gisel bahwa Gilang telah kembali ke rumah. Tujuan keduanya hanya satu, yaitu menunjukkan pada Gisel bahwa Pelangi masih hidup dan kembali berada di sisi Gilang seperti seharusnya. Baik Toni maupun Andrew ingin agar Gisel menyerah dan menjauhi Gilang, karena selama ini Gisel terkesan memanfaatkan kasus hilang ingatan yang Gilang alami dengan cara terus menempel pada Gilang seperti plester.


Akan tetapi, karena Gisel sepertinya enggan menyerah dan malah menyewa seorang detektif untuk menyelidiki latar belakang Pelangi, maka Andrew pun terpaksa mengarang identitas palsu untuk Pelangi. Ia takut jika Gisela kembali merencanakan skenario pembunuhan untuk Pelangi.


Tok, tok!


Ketukan di kaca jendela mobil membuyarkan lamunan Andrew. Ia segera membuka pintu mobil dan meminta si pengetuk untuk masuk.


Aldo, teman lama Andrew membuka topinya saat ia telah duduk di samping Andrew. “Siapa Gisela, dan siapa itu Pelangi dan Raina? Lalu, apa yang kamu kerjakan sekarang? Aku jadi iri karena kamu dikelilingi oleh wanita cantik sekarang ini.” Aldo memberondong Andrew dengan banyak pertanyaan, membuat Andrew tertawa.


“Bertanyalah satu per satu, mana bisa aku menjawab sekaligus,” ujar Andrew, lalu mengeluarkan amplop berwarna putih dari dalam saku jasnya. “Ini, ambilah.”


“Ah, tidak usah, Ndrew, kita berteman dan sebagai teman wajib untuk saling menolong.”


“Ya, memang, sebagai teman juga wajib untuk mengucapkan terima kasih. Anggap saja ini ucapan terima kasihku. Kalau kamu tidak terima aku pasti akan merasa tersinggung.”


Aldo terkekeh. “Ah, tidak perlu seperti itu. Aku pasti akan menerima uang ini, siapa yang akan menolak uang? Yang tadi itu hannyalah pura-pura.”


Andre tertawa. “Dasar kamu ini. Lain kali jika aku butuh bantuanmu lagi, boleh aku hubungi?”


“Tentu. Tapi ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu kerjakan, Ndrew. Apa kamu bekerja sebagai agen rahasia atau jangan-jangan kamu ini terlibat sindikat perdagangan manusia.”


Andrew tertawa mendengar kesimpulan asal-alasan Aldo. “Tidak, aku tidak bekerja untuk siapa-siapa. Aku hanya sedang meluruskan kesalahan yang terjadi dan melindungi seorang wanita yang bernama Pelangi. Itu saja.”


Aldo mengangguk. Dia kekasihmu? Kamu mencintainya.”


Andrew tersenyum masam. “Dia bukan kekasihku, sayang sekali. Tapi, ya, aku mencintainya.”


Aldo menepuk pundak Andrew. “Banyak jalan menuju roma. Jika sekarang dia bukan kekasihmu, jadikanlah dia kekasihmu. Sebelum orang lain yang menjadikannya sebagai kekasih.”


Andrew hanya mengangguk dan tersenyum kepada Aldo. Ia tidak mengatakan kepada Aldo bahwa wanita yang ia cintai telah memiliki suami. Sebenarnya jika ia ingin, ia bisa saja mendekati Pelangi saat ini, memanfaatkan kondisi Pelangi yang tengah hilang ingatan. Namun, hal itu tidak ia lakukan, karena ia tidak ingin menjadi penjahat di antara hubungan Gilang dan Pelangi, terlebih lagi Pelangi terlihat bahagia dengan pernikahan yang dijalani dengan Gilang. Berbeda cerita jika Pelangi hidup menderita dan tidak bahagia pada pernikahannya, ia pasti akan merebut Pelangi dari Gilang bagaimanapun caranya.


Bersambung ....