OH MY BOSS

OH MY BOSS
PILIHAN



Kehidupan baru Nena Dan Justin kini diwarnai dengan tangisan-tangisan bayi kembar yang terkadang bersahut-sahutan. Sering terjadi drama pergantian shift jadwal tidur di antara mereka, terkadang malah kedua adiknya ikut mendapat imbas jika keduanya mulai kerepotan.


 


 


Beruntung, Ibu Marlina yang memang sudah berpengalaman selalu tau jika mereka tengah kebingungan.


 


 


Satu tangisan berjuta makna, lapar haus dan merasa tidak nyaman rengekan mereka selalu sama, hal itu terkadang membuat Nena bingung kedua putranya menginginkan apa.


 


 


"Kalo bayi nangis itu banyak kemungkinannya, bisa lapar, haus atau juga buang air, kamu harus peka," ucap Marlina sembari mengganti popok cucunya, sesekali mencium bayi mungil yang usianya baru menginjak minggu pertama, kemarin mereka sudah mengadakan syukuran Aqiqah sesuai anjuran yang diberlakukan. "Cucu Oma harusnya dikasih kalung nih, terus tulisan nama, Oma lupa soalnya mana yang Jino mana yang Nino, mukanya sama."


 


 


Nena jadi tertawa, mungkin hanya dia yang dapat membedakan kedua putranya, bahkan suaminya sendiri saja sering lupa memanggil nama, apalagi Ardi dan Karin. "Yang rambutnya banyakan itu Jino, Bu," ucapnya memberi tahu, keduanya kembali membahas apa saja yang diperlukan agar si kembar merasa nyaman.


 


 


"Sepertinya kita butuh baby sister," ucap Justin saat sang ibu sudah keluar dari kamarnya.


 


 


Nena yang sibuk dengan botol susu kemudian menoleh, "Kenapa?" Tanyanya.


 


 


"Aku nggak bisa terus bantuin kamu begadang, kerjaan aku di kantor banyak," ucapnya sembari menerima satu boto berisi susu formula kemudian ia sodorkan pada satu putranya.


 


 


Nena melakukan hal yang sama pada putranya yang satu lagi, "boleh deh, nanti kita cari di yayasan aja, yang udah berpengalaman."


 


 


Justin mengangguk, teringat sesuatu dia kemudian mendekat, "jadi kapan kamu bisa aku sentuh," bisiknya.


 


 


Nena berdecak, ini sudah yang ke tiga kalinya pria itu bertanya, "jawabannya masih sama kaya kemarin," balas wanita itu.


 


 


Setelah menghela napas berat, Justin kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur, "kok nggak berkurang?" Tanyanya, kemudian menoleh.


 


 


"Berkurang satu hari."


 


 


"Yah, lama."


 


 


Keduanya jadi berdebat, saling menggoda tentang siapa yang merindukan siapa sebenarnya.


 


 


"Mendingan kamu tolongin aku ambil minum gih, airnya abis," ucap Nena.


 


 


Tanpa membantah Justin kemudian beranjak dari kasur dan turun mengambil gelas, pria itu melangkah ke dapur.


 


 


"Ciee kasian yang puasa." Ardi yang tengah meracik kopi tiba-tiba berucap saat melihat abangnya menuang air minum ke dalam gelas.


 


 


"Puasa apa?" Tanya Justin pura-pura tidak mengerti.


 


 


"Puasa menahan hawa nafsu," jawab Ardi kemudian menghindar saat abangnya itu melancarkan sebuah tendangan di kakinya. "Jadi udah sampe berapa hari puasanya?"


 


 


Justin melengos kesal, "baru seminggu, " namun pria itu menjawab juga.


 


 


Ardi jadi tertawa, dan melihat sang abang akan pergi ke kamarnya dia kemudian berkata. "Daripada nungguin lahan yang nggak bisa digarap, mendingan bantuin aku bikin tugas, Bang," serunya, pemuda itu memang sering dibantu saat abangnya sedang senggang.


 


 


Sambil terus melangkah Justin kemudian menoleh, "buatkan aku secangkir kopi, aku mau lembur juga," ucapnya.


 


 


***


 


 


"Jadi kau benar akan pindah?" William bertanya pada Lily yang tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


 


 


Perempuan itu mengangguk, "tentu saja aku harus pergi, kita bahkan bukan suami istri, untuk apa aku terus di sini," balasnya dengan nada bercanda.


 


 


William melengos, "jadi kapan kau mau menjadi istriku?" Tanyanya.


 


 


Lily tertawa pelan, "kau terlalu sering bersenang-senang, aku takut tidak bisa menyenangkanmu dan akhirnya kau akan pergi."


 


 


"Ly, kau masih saja tidak percaya padaku? Aku bahkan sudah tidak pernah berkencan dengan siapapun?"


 


 


Lily yang sudah selesai dengan kopernya kemudian menggeser duduknya untuk mendekati pria bule yang duduk di sofa, "dan karena itu banyak wanita yang datang ke sini dan menanyakan keberadaan mu," ucapnya menyindir.


 


 


"Kamu tidak percaya jika aku tidak lagi menemui salah satu dari mereka? Perlu bukti apa lagi?" Tanya pria itu, dan melihat Lily yang tidak juga memberikan tanggapan, dia menambahkan kalimatnya. "Jadi ini penolakan mu yang ke seratus delapan puluh sembilan, hm?"


 


 


Lily reflek tertawa, "kau menghitung nya, Will? Tanya perempuan itu tidak percaya.


 


 


"Bahkan berapa kali kita melakukannya, itu juga bisa aku hitung."


 


 


"Hey!" Lily reflek mencubit lengan pria yang duduk di hadapannya, "kau bercanda," omelnya dengan tangan terus mengejar lengan pria itu yang sibuk menghindar.


 


 


Tentu saja William hanya bercanda, sejak malam saat perempuan itu mabuk dulu, mereka tidak pernah lagi mengulang kesalahan itu, ya meskipun ingin.


 


 


William tertawa, menangkap tangan Lily dan menariknya untuk mendekat, "tidak ada salam perpisahan untukku?" Tanyanya.


 


 


Lily berdecak, "aku bahkan tidak kemana-mana, hanya pindah apartemen saja."


 


 


"Dan aku tidak bisa lagi melihatmu sibuk di dapur saat terbangun pagi hari? Ah, aku akan rindu."


 


 


"Makanya cari perempuan sana, lalu kau nikahi," ucap Lily memberi saran.


 


 


"Tapi aku mau dirimu," balas William dengan raut wajah yang serius.


 


 


Sesaat Lily terdiam, "aku tidak bisa, kau cari perempuan lain saja, dan tentu akan lebih baik dari aku," bujuknya.


 


 


"Perempuan lain tidak ada yang bisa membuat aku bersikap lebih serius, mereka hanya teman bermain."


 


 


Lily menghela napas, "berhentilah bermain-main, Will, karena pemancing ulung pun akan bosan menunggu umpannya bisa dimakan. Dia akan pergi ke pasar dan membeli ikan yang segar," ucap Lily panjang lebar.


 


 


William terdiam, "dan kau adalah pemancing ulung itu? Aku akan menjadi ikan yang segar agar dapat kau beli."


 


 


Lily terkekeh, "aku hanya penonton Will," ucapnya, kemudian menarik lengannya dari gengaman pria itu. "Cobalah serius pada satu wanita dan kamu akan bahagia," ucapnya.


 


 


William melengos, "itu kalimat Justin, bagaimana kau bisa ikut mengutipnya?"


 


 


 


 


"Benarkah?"


 


 


Lily malas untuk menanggapi, perempuan itu kemudian beranjak berdiri, "aku harus pergi," ucapnya.


 


 


William ikut berdiri, "jika kau terus menolak perasaanku, kemana hati ini akan berlabuh? Mencari sosok baru tidak semudah itu."


 


 


Lily terdiam, dia belum siap jika harus serius dengan William, banyak wanita spesial dalam hati pria itu, dan dia tidak mau menjadi salah satu dari mereka. "Aku ini mudah marah dan cemburu, dan denganmu aku tidak bisa menghentikan semua itu," tuturnya.


 


 


"Kau bahkan menolak percaya bahwa aku telah berubah." William sedikit putus asa, "bagaimana dengan perasaanmu?"


 


 


"Sebaiknya dari sekarang aku memang harus lebih menjaga hati, aku tidak siap jika harus terluka lagi dan lagi saat seseorang mencarimu dan mengatakan bahwa kau adalah kekasihnya."


 


 


William tidak tau bagaimana lagi dirinya harus menyesal, kebiasaan buruknya membuat perempuan yang benar-benar dia suka malah menjadi takut menjalin kisah dengannya, dan selain mencoba untuk menerima, dia bisa apa, toh dirinya tidak bisa memaksakan kehendak orang lain, termasuk Lily, orang yang tidak sengaja ia tiduri. Dan saat dia ingin bertanggung jawab, perempuan itu malah menolaknya.


 


 


"Will, seseorang yang amat suka dengan hujan sekalipun pasti dia akan berteduh, kerena dia tau hal yang dia suka pun ternyata dapat membuatnya menjadi sakit."


 


 


William terdiam, pria itu kemudian mengangguk, "biar ku antar, berikan alamat apartemenmu," ucapnya mencoba tegar.


 


 


Belum sempat Lily menanggapi, suara bel yang berbunyi membuat perhatian keduanya teralihkan. William beranjak ke arah pintu dan Lily mengikutinya.


 


 


"William sayangku."


 


 


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya menjelang senja langsung menghambur pada William dan memeluk pria itu.


 


 


"Mami? Kenapa kau ada di sini?" Tanyanya kemudian menoleh pada Lily.


 


 


Wilona yang adalah ibu kandung dari William kemudian melepaskan pelukan dari putranya, "kau tidak merindukan mami?" Tanyanya berubah kesal.


 


 


"Ya, Ya bukan begitu?"


 


 


Wilona belum menanggapi saat kemudian mata wanita paruh baya itu menangkap sosok Lily yang berdiri di belakang putranya, perempuan muda itu mendekat kemudian mencium punggung tangannya.


 


 


"Apa kabar Tante, Aku Lily. Apakah Tante masih ingat?" Tanya Lily ramah, saat masa kuliah dulu, dia dan Justin sering berkunjung ke rumah William dan sering bertemu dengan wanita itu.


 


 


Wilona sempat berpikir. Namun kemudian terkejut, "ah kau Lily, kekasih Justin? Eh bukankah kudengar Justin sudah menikah."


 


 


Lily tertawa pelan, "itu benar, dan kami masih berteman," balasnya.


 


 


Wilona mengangguk, namun kemudian kembali berpikir, "apakah kalian berpacaran?" Tanyanya merasa curiga.


 


 


Lily langsung menyela dengan telapak tangannya, "tidak Tante, kami hanya berteman, kebetulan aku menginap di sini sementara dan hari ini aku akan pindah," ucapnya sembari menunjuk koper di pojok sana.


 


 


"Ah, bagus lah jika begitu, soalnya aku ke sini ingin membujuk William untuk menghadiri kencan buta dengan anak sahabatku."


 


 


William yang mendengar itu kemudian terdiam, menoleh pada Lily yang raut wajahnya sedikit berubah. "Mami apa kau mau terus berdiri, sebaiknya kita duduk di sofa," ajak pria itu, kemudian meraih koper yang dibawa oleh ibu kandungnya.


 


 


Wilona melihat-lihat ke dalam apartemen putranya, luas, bagus dan begitu rapi, putranya itu memang dari dulu suka akan kebersihan, tapi tentu saja dia pasti berpikir bahwa semua itu tidak lepas dari sentuhan Lily selaku seseorang yang menginap di apartemen putranya.


 


 


"Terimakasih kau telah menjaga William ku dengan baik," ucap Wilona sembari menyentuh tangan Lily saat mereka duduk bersama di sofa.


 


 


Lily tersenyum. "Sama-sama Tante, William bukan pria yang merepotkan," balasnya.


 


 


Wilona menoleh ke arah dapur di mana punggung putranya itu tidak lagi terlihat, "tolong bantu tante membujuk William agar mau dijodohkan, tante ini sudah tua, tante tidak mau melihat anak tante terus membujang seperti itu."


 


 


Lily terdiam, sempat tersenyum canggung kemudian mengangguk mengiyakan, "aku pasti bantu, Tan."


 


 


"Ah baiknya."


 


 


William yang datang dari arah dapur dengan membawa minuman, ikut duduk di sofa tunggal berhadapan dengan dua wanita yang tengah mengobrol itu. "Jangan membicarakan aku di belakang," sindirnya.


 


 


"Oh, Will, akhirnya mami senang, Lily akan membantu membujukmu agar mau dijodohkan dengan anak teman mami, kau pasti tidak akan menolaknya bukan?" Ucap wanita itu, senyumnya tampak berharap.


 


 


Sesaat William terdiam, menoleh pada Lily dengan tatapan yang terluka, harus sampai seberusaha itukah agar dirinya sadar bahwa ia telah berkali-kali mendapat penolakan.


 


 


Pria itu membuang muka, beralih menatap sang mami dengan senyum terpaksa di bibirnya. "Mami atur saja, aku bersedia," tukasnya.


 


 


***iklan****


 


 


Author: Sumbangan votenya buat Noisy girl aja ya, percuma juga vote di sini mubazir 😂


 


 


Netizen:Oh jadinya Lily yang nolak William ya thor. 🤔


 


 


Author: Iya soalnya Bang Bule gonta ganti pacar terus jadinya Lily nggak mau. 😆


 


 


Netizen: Salah siapa tuh Bang Bule begitu 😏


 


 


Author: Salah aku 😑