
"Kak Julian," lirih Raina memanggil nama suaminya itu.
Ia tak menyangka suaminya bisa berada di sana.Hardian ketakutan melihat Julian.Ia pun hendak melarikan diri.Sayangnya Julian membawa beberapa orang bodyguard untuk menangkap Hardian.Ia tahu Hardian pasti akan melawan.
"Saya tidak menyangka anda begitu berani menyakiti keponakan anda sendiri, bahkan setelah anda menerima semua kebaikan dari kami hah?" geram Julian.
"Masuklah ke mobil sayang," Raina mengangguk patuh.
"Kak jangan sakiti dia," pinta Raina sebelum masuk ke dalam mobil.
"Anda dengar, bukankah istriku sangat baik pada anda? Tapi kenapa anda selalu mengganggunya?"
Hardian tak berkutik.Nyalinya menciut saat melihat kemarahan Julian.Terlebih lagi melihat bodyguard yang ia sewa yang memiliki badan kekar.Ia tidak bisa membayangkan apabila ia dipukuli oleh orang-orang itu.
"Maafkan aku," Hardian berlutut di hadapan Julian.
"Sudah sepantasnya kamu mendapatkan pelajaran, bawa dia ke pihak yang berwajib," perintah Julian pada para bodyguardnya.
Raina turun dari mobil saat melihat pamannya diseret oleh orang-orang Julian."Kak aku mohon maafkan dia," pinta Raina.
"Aku sudah memberinya kesempatan untuk berubah, tapi nyatanya dia tidak bisa percaya sayang, sudah sepantasnya dia dikurung di balik jeruji besi."
Raina tidak bisa melawan suaminya.Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk pamannya. "Ayo kita pulang," ajak suaminya kemudian.
...***...
Di lain hari Jaden datang ke kantor kakaknya."Bang elo harus bantuin gue," kata Jaden.
"Bantu apa? Jangan yang aneh-aneh," ancam Julian.
"Bantu gue singkirin musuh gue," kata-kata Julian terkesan ekstrim di telinga Julian.Julian menutup laptopnya kemudian menatap penuh tanya pada adik kembarnya itu."Elo mau bunuh orang?" tanyanya.
"Ck, suudzon lo bang, orang gue mau Dani enggak ngejar-ngejar Bia lagi."
"Dani? Siapa dia?" tanya Julian.
"Mantan cowoknya Bia,sekarang perusahaan dia menjalin kerjasama sama perusahaan Bia, tiap hari dia beralasan untuk menemui Bia, gue sampai gedeg banget sama dia," Jaden kesal sambil meninju tangannya sendiri.
"Gimana gue bisa bantu lo?" tanya Julian.Jaden tersenyum senang.
"Kita jebak dia bang."
"Jebak gimana maksud lo?" tanya Julian tidak mengerti.
"Buat dia tidur sama cewek sampai hamil biar dia bisa melupakan Bia." Julian menggelengkan kepalanya."Darimana elo dapat ide konyol kaya gitu? Berdasarkan pengalaman elo?"
"Cih, elo juga sama kaya gue," sindir Jaden tak mau kalah.
"Kalau gitu buat dia jatuh cinta sama cewek lain atau apalah pokoknya dia harus bisa ngelupain istri gue."
Julian berpikir sejenak."Gue setuju ide lo,tapi kita cari ceweknya dimana?" tanya Julian bingung.
"Tu.." Jaden menunjuk ke arah Ruby dengan dagunya.
"Ah gila lo mau ngasih umpan sahabat lo sendiri,selain dialah kasian tahu,gimana kalau Dani itu cowok brengsek?"
"Kok elo khawatir banget bang, masih suka elo sama Ruby?" Jaden sedikit curiga.
Julian menghela nafas."Ruby itu teman kita sejak kecil masa elo tega jadiin dia umpan?" tanya Julian pada saudara kembarnya.
"Siapa tahu aja mereka jodoh bang, gue juga mikir kali, Ruby tuh udah waktunya menikah,sampai kapan dia sendiri terus?" Jaden mencoba memberi pengertian pada kakaknya.
Omongan Jaden ada benarnya juga,pikir Julian."Terus apa selanjutnya?" tanya Julian yang tertarik dengan usulan Jaden.
"Elo gantiin gue meeting sama Dani," Julian justru mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Jaden.
"Tenang aja muka kita kan sama dia gak akan tahu kalau kita kembar, ajak Ruby, dandani dia secantik mungkin biar Dani jatuh cinta sama dia," kata Jaden menyeringai.
"Oke tapi ini nggak gratis ya bro, suatu hari saat gue butuh bantuan lo, elo harus siap," kata Julian.Jaden menjawab keinginan Julian dengan mengacungkan jempolnya.
Lalu sesuai keinginan Jaden,Julian mengajak Ruby untuk menggantikan adiknya itu meeting dengan Dani.
"Kita mau meeting sama siapa sih pak, ko saya didandani segala," protes Ruby saat dirinya dibawa ke salon.
"Udah kamu nurut aja, gak tiap hari lho saya bayarin perawatan mahal kamu, oh ya jangan sampai Raina tahu dan berujung salah paham oke," ucap Julian memperingatkan asistennya.
"Gak janji deh," goda Ruby kemudian terkekeh.
Seusai dari salon Julian mengajak Ruby ke sebuah restoran mewah tempat dilaksanakannya meeting dengan Dani.
"Apa anda sudah menunggu lama?" Julian bersikap sopan dengan menyapa Dani saat baru tiba.
Dani mengerutkan keningnya pasalnya Jaden yang ia kenal tidak pernah sesopan itu.Tapi perhatian Dani teralihkan setelah melihat penampilan wanita yang diajak oleh Julian.
"Tuan Jaden siapa wanita cantik ini?" tanya Dani sambil menatap Ruby dengan tatapan mesum.
"Dia sekertaris saya, Bagus sedang cuti hari ini jadi saya meminta Ruby untuk menemani saya," kata Julian.
Ruby merasa tidak nyaman mendapatkan tatapan dari klien atasannya itu.Ia berkali-kali menurunkan roknya yang kependekan.
"Awas kamu Julian, elo ngerjain gue dengan memaksa gue make pakaian beginian, nanti gue bales lu," ucap Ruby sambil mengumpat bosnya dalam hati.
Julian melihat ketertarikan terhadap Ruby di mata Dani."Sepertinya dia sudah masuk perangkap," batin Julian menyeringai.