My Beloved Partner

My Beloved Partner
22



Pagi itu Jaden merasakan badannya sedikit tidak enak. Penciumannya mendadak menjadi tajam hingga ia bau apapun terasa menyengat.


"Sayang kamu tidak sarapan dulu?" tanya Celine pada putranya.


Jaden menggeleng."No mom Jaden tidak lapar," tolaknya.


"Wajahmu terlihat pucat apa kau sakit?" tanya Celine khawatir.


"Mom Jaden bukan anak kecil lagi, dia itu sudah bangkotan," ejek Julian yang mendapat lemparan sendok ke arahnya dari Jaden.


"Kau juga sama," cibir Jaden. Julian hanya tertawa.


"Mom, Dad aku berangkat sekarang," pamit Jaden yang melewatkan sarapannya.


Badannya terasa sangat lemas tapi ia memaksakan diri untuk menaiki motor. Sesampainya di kantor ia langsung mencari toilet.


"Pak, kita..." asisten Jaden belum sempat meneruskan kata-katanya. Ia melihat atasannya itu berlari ke arah toilet. Karena khawatir Bagus mengikuti Jaden ke toilet.


Hoeek hoeek


"Anda baik-baik saja pak?" tanya Bagus cemas melihat atasannya itu muntah-muntah.


"Aku baik-baik saja mungkin aku hanya masuk angin dan kelelahan," kata Jaden sambil mengusap bibir dengan punggung tangannya.


Setelah itu Jaden memasuki ruang kerjanya.Tak lama kemudian Rasya datang sendiri ke kantor Jaden dengan amarah yang membuncah.


Bruakk


Rasya membuka pintu ruangan kantor Jaden dengan kasar.


"Dasar laki-laki b*ji*gan kamu," umpat Rasya sambil menarik kerah kemeja milik Jaden.


Bagus mencoba melepaskan tangan Rasya yang mencengkeram kerah atasannya namun Jaden memberikan kode untuk menjauh. Jaden tidak mengetahui apa yang menyebabkan Rasya marah. Tapi ia menduga Bia hamil karena ulahnya.


"Mungkinkah Bia hamil hingga membuat om Rasya murka?" tebak Jaden dalam hatinya.


Bug bug bug


Rasya memukul wajah tampan Jaden beberapa kali hingga ia jatuh tersungkur ke lantai.Nampak darah segar mengalir di sudut bibirnya.Ia pun meringis nyeri merasakan pukulan Rasya di wajahnya. Akan tetapi Jaden tidak melawan sama sekali.


Bagus membantu Jaden berdiri. "Pak tolong jangan sakiti pak Jaden,dia..." Jaden kembali menyuruh Bagus diam.


"Ada apa ini?" tanya Darren yang baru memasuki ruang kerja anaknya.


Ia melihat muka Jaden babak belur akibat bogem mentah yang diberikan oleh Rasya.Darren menoleh ke arah laki-laki yang telah memukul wajah putranya itu dengan tatapan tajam.


"Apa alasan anda memukuli anak saya?" tanya Darren geram.


"Tanyalah sendiri apa yang telah dia perbuat pada putri saya," perkataan Rasya membuat Darren kaget seketika.


Rasya memutuskan untuk keluar. Ia tak mau emosinya tidak terkontrol apabila masih di ruangan itu.


"Jaden apa yang terjadi sebenarnya?" sentak Darren.


"Aku telah menodai Berlian putri om Rasya dad," pernyataan Jaden membuat daddynya murka.


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jaden. Jaden sampai memejamkan matanya karena merasakan panas di bagian pipinya.


"Anak kurang ajar, siapa yang menyuruhmu untuk melakukan hal bodoh seperti itu? Kamu boleh suka tapi tidak perlu melakukan hal sepicik itu Jaden," geram Darren.


Kini ia mengerti mengapa Rasya begitu marah pada putranya. Sungguh ia tak menyangka Jaden akan berbuat senekat itu.


"Aku memang salah dad, dari awal aku sudah meminta Berlian menikah denganku untuk mempertanggungjawabkan perbuatan ku tapi gadis itu menolak," terang Jaden dengan wajah sendu.


"Aku tidak bisa membayangkan perasaan mommimu jika dia mendengar berita mengejutkan ini," gumam Darren.


"Bersiaplah kita akan melamar putri tuan Rasya untukmu," ucap Darren pada putranya sebelum dia melangkahkan kakinya keluar.


Jaden terduduk lemas saat sesuatu yang dia harapkan akan berjalan sesuai rencana malah menjadi berantakan seperti saat ini.


Bagus yang masih berdiri di situ menjadi tak tega melihat bosnya dalam keadaan berantakan seperti itu. Ia lalu mengambil kotak obat untuk mengobati wajah atasannya yang memar dan berdarah.


Dengan telaten Bagus merawat luka Jaden. "Aw sakit Gus," keluh Jaden yang merasakan perih saat lukanya disentuh oleh Bagus.


"Bos,bos begini saja kau mengeluh perih tapi kau berani membuat perih wanitamu," cibir Bagus dalam hati sambil menahan tawanya.


***


Darren pulang dalam keadaan marah. Ia melonggarkan dasinya lalu mendudukkan diri di sofa dengan kasar.


"Ada apa dad?" tanya Celine yang melihat suaminya dengan muka yang masam.


"Anakmu berulah mom," jawab Darren singkat.


"Siapa? Jaden atau Julian?" tanya Celine memastikan.


"Jaden, dia menghamili kekasihnya," jawab Darren ketus.


"Apa hamil?" entah mengapa wajah Celine justru sumringah mendengar kabar itu.


"Itu artinya kita akan punya cucu dad sebentar lagi?" tanya Celine seraya mengguncang lengan sang suami.


"Mommy tidak marah pada Jaden?" tanya Darren heran.


"Untuk apa marah dad? putra kita akan memberikan cucu yang lucu-lucu pada kita seharusnya kita bersyukur,kapan kita akan mengadakan syukuran?" katanya dengan wajah berseri-seri.


Darren menepuk jidatnya. Dia tidak habis pikir dengan istrinya. Bukannya marah tapi ia sangat senang mendengar kabar Berlian hamil.


Tak lama kemudian Jaden pulang bersamaan dengan saudara kembarnya. Celine tampak menyambut kedatangan putranya.


"Jaden kenapa kamu rahasiakan berita bagus ini dari mommy?" tanya Celine yang mengampiri Jaden saat itu.


Julian menautkan alisnya. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan sang ibu. "Berita apa mom?" tanya Julian.


"Adikmu akan menikah, sebentar lagi kamu akan memiliki keponakan," jawab Celine denagn senyum yang mengembang di wajahnya.


"Apa?" tanya Julian yang kaget.


"Menikah dengan siapa mom?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja kekasihnya," jawab Celine.


"Kekasih yang mana mom, bukankah selama ini dia tidak mau berhubungan dengan wanita manapun?" tanya Julian.


"Yang mana lagi kalau bukan Berlian," Celine menaik turunkan alisnya.


"Ya ampun mom aku kira mom akan marah padaku," kata Jaden.


"Marah, untuk apa marah, mommy mendukungmu sayang, persiapkan dirimu untuk datang ke rumah orang tua Berlian secepatnya," kata Celine dengan lembut.


***


Di tempat lain, Berlian masih syok mendengar kabar dirinya hamil.


"Aku tidak menginginkan anak ini," kata Bia sambil memukul-mukul perutnya.


"Sayang jangan lakukan itu nak, kau akan menyakitinya," Ara yang baru saja masuk mendekat ke arah putrinya yang terduduk di atas ranjang.


"Maafkan aku mom, akku membuat kalian malu," Bia berhambur ke pelukan ibunya.


Ara membalas pelukan sang putri dan mengelus rambutnya yang halus.


"Sssttt jangan bersedih sayang, mama tahu Jaden pasti akan bertanggung jawab," kata Bia untuk menenangkan putrinya.


Bia melonggarkan pelukannya."Mama benar dari awal dia menawarkan diri untuk menikahi ku tapi aku selalu menolaknya," sesal Bia seraya menundukkan kepalanya.


Ara mengangkat dagu Bia. "Mulai sekarang terimalah dia sebagai pasanganmu, ingat ada bayi yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah saat ini," Ara mengelus perut putrinya yang masih datar.


Ara tak kuasa menahan air matanya. Keduanya nangis berjamaah. Rasya yang hendak masuk ke kamar putrinya urung dilakukan saat melihat ibu dan anak itu sedang manangis.Ia ingin memberikan kesempatan pada putrinya untuk menenangkan diri.