
"Cie bang Alex yang resmi jadian sama kak Sandra, pj nya mana Bang?" Kristal menengadahkan tangannya. Namun, Alex malah menepuk tangan adiknya. Lalu ia berlalu meninggalkan Kristal.
"Dih, dasar pelit," umpat Kristal. Ia menghentakkan kaki lalu mengikuti abangnya.
"Bang, gak ada pj gitu bang?" Rengek Kristal.
"Telat, orang jadiannya udah lama," kata Alex dengan ketus.
"Bang, es krim."
"Berisik banget sih lo, keluar sana!" Alex mengusir adiknya.
Tiba-tiba Alex memiliki ide untuk mengerjai adiknya. "Tunggu, kalau mau gue traktir besok lo harus bisa ngajak Sandra keluar, gimana?"
"Lah emang apa susahnya ngajak kak Sandra?" Tanya Kristal yang tidak mengerti.
"Nyokapnya galak, kalau elo bisa ngajak dia jogging di taman besok pagi, gue traktir makan es krim sepuas lo," kata Alex mengiming-imingi adiknya.
Kristal tampak berpikir. "Ngajak gebetan boleh?" Tanya Kristal kemudian Alex menyentil keningnya.
"Eh ni bocah gue bilangin sama mama lo, MAMA," teriak Alex. Kristal langsung membungkam mulutnya dengan tangan.
"Abang rese, diam nggak lo, kalau nggak diem gue tendang adik lo," ancam Kristal. Alex langsung mengangguk patuh.
"Serem amat lo ngancemnya," kata Alex.
"Habisnya elo rese sih Bang."
"Oke, deal asal elo bisa bawa Sandra keluar rumah besok," kata Alex sambil tersenyum sinis.
"Ck, kecil itu mah." Kristal menjentikkan jarinya.
Malamnya Alex mengirim pesan pada Sandra supaya besok pagi bersiap-siap jika Kristal mengajaknya joging.
Keesokan harinya sesuai perintah Alex, Kristal pun berkunjung ke rumah Kristal. "Selamat pagi, Tante," sapa Kristal dengan sopan.
"Pagi, kamu siapa?" Tanya Chloe.
"Saya temannya Sandra tante," bohong Kristal.
"Mau apa pagi-pagi datang kemari?" Tanya Chloe lebih lanjut.
"Saya mau ngajak Sandra joging tante, sekitar sini aja," lagi-lagi Kristal berbohong.
"Sebentar saya panggilkan Sandra," Chloe pun menuju ke kamar Sandra.
"Ada teman kamu tuh," kata Chloe memberi tahu.
"Iya, Ma," jawab Sandra.
Sandra keluar lalu menemui Kristal. Ia tahu maksud Kristal datang ke rumahnya. "Gue izin mam gue bentar ya," katanya pada adik Alex.
"Ma, Sandra mau keluar bentar," izin Sandra.Lalu mereka pergi ke tempat yang sudah disepakati.
Sandra mengenakan kaos dan topi yang senada dengan bajunya.
"Mana abang lo?" Tanya Sandra pada Kristal. Kristal memindai ke sekeliling taman. "Nah itu dia orangnya," kata Kristal.
"Lah tu orang bukannya joging malah foto-foto," gerutu Kristal.
"Bang Alex," Kristal menepuk bahu Alex dari belakang. Pemuda itu menoleh ke arah adiknya. Ia juga tersenyum ketika melihat sang kekasih datang bersama adiknya.
"Sayang," sapa Alex.
"Ehem, jangan pada sayang-sayangan deh di depan anak kecil," tegur Kristal yang merasa cemburu.
"Katanya elo ngajak gebetan elo, mana dia?" Tanya Alex.
Kristal clingak-clinguk sambil mengamati jam yang sudah melingkar di pergelangan tangannya. "Nah, tu dia orangnya," kata Kristal menunjuk Agung yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Abang, nanti bedak aku luntur tahu," omel Kristal.
"Ganjen amat," gerutu Alex.
Kristal tersenyum ke arah Agung. "Maaf kalian udah menunggu lama?" Tanya Agung.
"Nggak bru aja kok Mas Agung," kata Kristal dengan suara manja.
"Jadi fungsinya dia apa? Jadi bodyguard?' Ledek Alex.
"Wah bener bos, gue diperintah sama papa buat jagain kalian," jawab Agung. Agung adalah anak dari Bagas yang merupakan asisten pribadi Jaden. Usianya lebih muda beberapa bulan dari Alex tapi lahir di tahun yang sama.
"Dia bukan bodyguard biasa," kata Kristal yang sudah sejak lama mengagumi Agung.
Mereka pun menikmati masa pacaran mereka pagi itu. Tidak hanya sekedar joging dan foto-foto, mereka juga jajan cemilan pokoknya apa yang sering dilakukan oleh kebanyakan anak muda. Apalagi hari minggu pagi seperti ini banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu mereka di taman.
"Terima kasih sudah bikin aku bahagia pagi ini," kata Sandra dengan tulus. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Alex.
Alex melirik wajah Sandra. Ia memfokuskan pandangannya ke bibir yang merah merona itu. Alex hendak mencium bibir Sandra tapi Kristal dan Agung malah mengagetkannya.
"Hayoo, mau mesum ya, gue bilangin mama lo ntar," ancam Kristal.
"Bilangin sono biar gue dikawinin sekalian sama Sandra, iya nggak, Yang?" Alex meminta dukungan pada kekasihnya.
"Dih, kawin aja sendiri," Sandra malah meledek Alex lalu terkekeh setelah itu.
"Awas ya kamu," Alex mengejar Sandra.
...***...
Menjelang siang mereka baru pulang. Sandra masuk ke dalam rumahnya, tapi hal yang mengejutkan terjadi. Sandra melihat Vero dan Chloe bertengkar.
"Dasar laki-laki breng*sek kamu," umpat Chloe sambil membanting vas bunga yang ada di ruangan itu.
Sandra terkejut dan menutup telinganya. Ia berlari ketakutan ke dalam kamar. Vero melihat Sandra berlari menaiki tangga. Ia tahu putrinya itu pasti terkejut dengan pertengkaran hebat antara orang tuanya.
"Aku minta ceraikan aku," kata Chloe. Ia sudah menunggu lama untuk bisa berpisah dengan suaminya itu. Kini ia mendapatkan alasan yang tepat karena suaminya berselingkuh untuk kesekian kali di belakang Chloe.
"Keluar dari rumah ini dan ajak putrimu pergi," kata Chloe dengan nada dingin.
"Baik, aku talak kamu mulai hari ini, aku sudah tidak tahan dnegan sikap kamu yang tidak bisa dikendalikan itu," ungkap Vero. Ia memang berselingkuh tapi itu karena Chloe tidak memenuhi kewajibannya sebagai istri. Sebagai laki-laki normal Vero tentu mencari pelarian untuk menuntaskan hasratnya.
"Aku harap kamu menemukan laki-laki yang tepat dan mau hidup bersama wanita yang kasar seperti dirimu," ejek Vero sambil menarik ujung bibirnya.
"Aaaa," Chloe berteriak dan kembali memecahkan vas bunga. Dia menangis sejadi-jadinya dan terduduk lemas di lantai.
Sandra menangis di dalam kamar. Vero mengetuk pintu kamar Sandra. Sandra mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Boleh papa masuk?" Tanya Vero di ambang pintu.
"Ada apa pa?"
"Ikut papa pindah, kita kemasi barang-barangmu sekarang juga," kata Vero.
"Apa yang terjadi Pa? Kenapa kita harus pindah? Bagaimana dengan mama?" Cecar Sandra.
"Pernikahan mama dan papa sudah tidak bisa dipertahankan, papa harap kamu bisa mengerti," Vero mencoba memberikan pengertian pada putrinya. Sandra mengangguk patuh.
Setelah itu Sandra memberesi semua barang-barangnya dan mengangkatnya ke mobil sang ayah. "KIta mau pindah kemana Pa?" Tanya Sandra.
"Sementara kita tidur di hotel, besok pagi kita pindah ke luar negeri." Perkataan Vero membuat Sandra tidak percaya.
"Aku tidak ikut dengan papa, aku masih mau melanjutkan sekolahku di sini," tolak Sandra.
"Jangan nak, ikutlah dengan papa karena wanita itu tidak akan peduli denganmu." Mau tak mau Sandra pun mengikuti kemauan papanya.
"Alex," gumam Sandra sambil melamun memandang jalan yang ia lalui siang itu.
Sandra hendak menghubungi Alex sayangnya daya handphonenya mati. Ketika ia mencari charger ternyata ketinggalan di dalam kamar.