My Beloved Partner

My Beloved Partner
76



"Assalamualaikum mom," Bia telah sampai di rumah mertuanya.


"Bi untung kamu segera datang,dari tadi Sovia nangis terus mommy sampai kewalahan," keluh mom Celine.


Bia mengambil alih gendongan dari tangan mertuanya itu."Coba aku bawa ke kamar," Bia pun melangkah ke kamar anak bayi tersebut.


Jaden mengikuti istrinya. "Kakak mau ngapain?" tanya Bia.


"Tidurlah sayang masa udah larut gini mau kerja, atau kamu nunggu aku kerjain?" goda Jaden.


Bia mendorong suaminya dengan satu tangan."Ih jauh-jauh nanti Sovia nangisnya makin kenceng tau," Jaden terkekeh.


Setelah itu Bia menidurkan bayi itu bersamanya di atas ranjang. Ajaibnya Sovia tidak menangis lagi. Mungkin anak itu membutuhkan kehangatan seorang ibu saat tidur bersama.


"Udah tidur?" Jaden bicara sambil berbisik. Bia mengangguk.


Tanpa aba-aba Jaden kemudian merangkul pinggang istrinya. Saat akan menciumnya Sovia kembali menangis. Bia terkekeh tapi ia merasa kasian pada suaminya. "Ditahan dulu lah, masih ada besok," ledeknya.


Keesokan harinya Julian dan Raina kembali dari hotel. Mereka kaget saat melihat Bia dan Jaden berada di rumah Darren.


"Kalian ngapain di sini pagi-pagi tumben banget," tanya Julian.


"Sovia nangis semalam, maunya tidur sama Bia," keluh Jaden sambil mengerucutkan bibirnya.


"Lo kaya kurang jatah aja,lemes amat," ejek Julian."Emang," jawab Jaden kesal.


Raina segera menghampiri bayinya. "Makasih banyak ya Bi, maaf merepotkan kamu dari kemaren," ucap Raina yang merasa tidak enak.


"It's oke gapapa kalian kan baru menikah gue paham ko," jawab Bia.


"Kita mau berangkat kerja," pamit Jaden seraya merangkul tangan istrinya.


"Lho Bi kalian gak sarapan dulu?" mom Celine melarangnya pergi.


"Kita udah telat mom," tolak Jaden.


Setelah berpamitan dengan semua anggota keluarga Jaden dan Berlian pun berangkat ke kantor mereka masing-masing.


"Kak nanti pulangnya jemput aku ya," kata Bia.


"Oke sayang," Jaden mengecup kening istrinya sebelum Bia turun.


"Bu bos,elo udah ditunggu tuh," kata Keyla saat ia bru sampai. Bia mengerutkan keningnya.


"Morning Bi," sapa Dani.


"Ngapain ni orang pagi-pagi datang ke sini?" batin Bia sambil mencebik kesal.


"Bukankah kita harus membicarakan soal proyek selanjutnya Bi," sahut Dani. Dia seolah bisa membaca pikiran Bia saat Bia memberikan tatapan tajamnya ke laki-laki itu.


Dani dan Bia pernah menjalin hubungan semasa kuliah dulu. Paling tidak laki-laki itu mengenal Bia cukup dekat. Meskipun hubungan mereka harus berakhir karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Dani. Kini Dani menyesal telah menyia-nyiakannya dulu.Ia berniat mendekati BIa lagi sayangnya Bia sudah lebih dulu diperistri oleh Jaden.


"Oke," jawab Bia. Wanita itu membawa Dani dan asistennya masuk ke dalam ruang kerjanya.


Sementara itu di hotel J&B milik suami Bia telah menumpuk berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Jaden.


Setelah dua hari tidak masuk kantor karena mempersiapkan pernikahan kakaknya, Jaden telah ditunggu oleh segunung pekerjaaan yang mungkin akan membuatnya lembur hari ini.


"Oh ya Gus tolong pesankan kopi ekspresso aku sangat mengantuk karena semalam tidurku kurang nyenyak," Jaden menghela nafas.


"Baik pak," Bagus menunduk patuh dan segera membeli kopi pesanan bosnya itu.


Saat ia sudah sampai di kafe tempatnya akan memesan pesanan Jaden, Bagusberpapasan dengan Keyla.Keyla terlihat kewalahan membawa barang-barangnya hingga beberapa barang yang ia bawa pun terjatuh.


Keyla segera berjongkok untuk mengambil barangnya.Seseorang membantu dirinya memunguti berkasnya yang terjatuh.


"Terima kasih," ucap gadis itu tanpa memandang orang yang menolongnya.


Bagus mengulas senyumnya.Saat Keyla mendongak ia seolah terbius melihat senyuman manis Bagus.


"Awas netes," kata-kata Bagus membuyarkan lamunan Keyla.


"Ish menyebalkan," Keyla mulai mengangkat berkas-berkasnya.


"Kamu bawa mobil sendiri? biar aku bantu memasukkan barang-barangmu ke mobil," tawar Bagus yang merasa kasian dengan Keyla.


"Mobil aku lagi di bengkel jadi aku naik taxi," jawabnya.


"Ya sudah tunggu sini aku akan pesan minuman dulu lalu ku antar kamu," Keyla tak sempat menolak karena Bagus sudah melangkahkan kakinya ke kasir.


Setelah selesai dengan pesanannya, Bagus membawa Keyla masuk ke dalam mobilnya. Hal tak terduga yang dilakukan Bagus adalah membukakan pintu untuk Keyla lalu menutup bagian kepala Keyla agar kepalanya tidak terbentur.


Perhatian kecil yang membuat hati wanita manapun meleleh."Makasih," ucap Keyla dengan malu-malu.


Gadis itu jadi salah tingkah dibuatnya.Wajahnya sudah passti merh merona karenanya. Apalagi kali ini sikap Bagus tak sedatar seperti biasanya.


"Ya ampun berasa main film Korea," gumam Keyla sambil berjingkrak dalam hati.


"Apa?" tanya Bagus yang samar-samar mendengar ucapan Keyla.


"Elo mau gue anter kemana? Gue agak sibuk jadi cepetan bilang,"


Wajah Keyla yang awalnya ceria berubah murung."Baru juga dipuji tadi udah pindah haluan aja ni orang, fhuh nyebelin," rutuknya pada Bagus tapi hanya dalam hati.


"Ke kantor guelah," jawab Kela tak kalah ketus.


"Oke," Bagus pun melajukan mobilny adnegan kencang.


"Elo bisa gak sih bawa mobilnya pelan sedikit," protes Keyla pada Bagus.


"Gak bisa," jawab bagus sesekali menoleh ke arah Keyla lalu kembali fokus ke jalan aspal.


Saat sudah berada di depan kantor Keyla Bagus tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Puas lo liat rambut gue acak-acakan seperti ini," geram Keyla.


Keyla hendak keluar tapi tangannya ditahan oleh Bagus. Keyla menoleh."Ngapain lo narik tangan gue?" sungut Keyla dengan memberikan tatapan tajamnya pada asisten Jaden tersebut.


Bagus mencondongkan badannya ke arah Keyla.