
Mendengar kabar tentang Sandra dari ibunya Alex pun memutuskan untuk pergi ke cabang supermarket miliknya di daerah K usai pulang kuliah.
Alex menjadi mahasiswa jurusan bisnis dan komunikasi di sebuah universitas bergengsi. Kecerdasan yang diturunkan dari ayahnya membawa Alex diterima dengan mudah melalui jalur beasiswa.
Tapi beasiswa yang didapat oleh Alex diberikan kepada temannya karena baginya membayar uang kuliah berapa pun biaya yang ia keluarkan tidak akan jadi masalah jika ayahnya merupakan pemilik kerajaan bisnis.
Teman Alex yang beruntung itu adalah Amar. Di antara ketiga temannya Amar yang paling kurang beruntung. Keluarganya memang tidak miskin tapi orang tuanya hampir tidak bisa membiayai sekolah Amar dikarenakan jumlah saudara Amar yang sangat banyak.
Dia adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya masih harus membiayai sekolah keempat adiknya, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan segala kebutuhan anak-anaknya.
Amar diminta Alex untuk masuk di jurusan yang sama dengannya. Sedangkan Agung dan Andi kuliah di universitas yang sama tapi beda jurusan. Agung yang memiliki kemapuan berpikir pas-pasan memilih kuliah di jurusan teknik mesin. Ia bercita-cita bekerja di perusahaan bergengsi milik keluarga Alex.
Yang terakhir Andi, pemuda itu kuliah di jurusan perhotelan karena ayahnya merupakan manager yang memegang kendali di salah satu hotel milik Jaden. Beliau juga merupakan orang kepercayaan Jaden selain Bagas, asisten pribadinya. Andi juga ingin menjadi seorang manager hotel di perusahaan milik keluarga Alex. Alex dan keluarganya sudah banyak berjasa untuk Andi dan keluarganya jadi Andi ingin menjadi orang kepercayaan Alex di masa yang akan datang.
...***...
Alex menghubungi nomor Agung. Ia ingin mengajak Agung untuk pergi ke sebuah daerah. "Angkat b*ego, lama bener ngangkat telepon doang," gerutu Alex.
"Bos," teriak Andi memanggil sahabatnya itu.
Alex mematikan handphonenya. "Elo lihat Agung nggak cuy?" Tanya Alex pada Andi.
"Ada noh di kantin lagi makan," tunjuk Andi.
"Sialan tu bocah," Alex berjalan cepat menuju ke kantin. Andi menyusul langkah Alex.
"Woi pada kemana? Tungguin kali, setdah," gerutu Amar yang tertinggal karena baru saja keluar dari toilet.
"Woi makan mulu lo," bentak Alex sambil menggebrak meja.
"Laper bos, mau gue pesenin juga?" Tanya Agung yang sedang menikmati bakso uratnya.
"Boleh deh, tapi nggak usah pakai mi ya?" Kata Alex.
"Elah kaya bocah makan gelondong bakso doang," cibir Agung.
Alex hendak melempar Agung dengan kerupuk yang ada di tangannya tapi tidak jadi. Andi dan Amar baru sampai. "Gung, pesenin gue juga dua mangkuk," seru Amar.
Agung mengaitkan ujung jari telunjuk dengan ibu jarinya membentuk huruf O. "Eh gue pesenin minum deh," kata Andi lalu bangun dari tempat duduknya.
Tak sengaja Andi menubruk bahu seseorang. "Eh sorry," kata Andi tidak enak.
"Nggak papa kali, santai aja," kata gadis berambut ikal berbaju kuning itu. "Eh, Ciara gue kangen," kata Andi lirih.
"Apa?" Ciara tak percaya mendengar omongan Andi. Andi jadi mengerjapkan mata. "Emm maksud gue udah lama nggak ketemu, lo kemana aja?" Tanya Andi berbohong.
"Sibuk sama tugas kuliah," jawab Ciara. Ciara memutuskan satu kampus dengan geng A4 karena ia tahu kampus yang ia masuki itu adalah kampus bergengsi di kotanya. Ciara yang memiliki kemampuan berpikir pas-pasan, berjuang mati-matian di ujian kelulusannya beberapa waktu lalu. Ia bertekad mendapatkan niai bagus agar lolos seleksi masuk kampus melalui jalur prestasi.
So, usaha tidak mengkhianati hasil. Terbukti dengan diterimanya Ciara di kampus itu meski jurusan yang ia inginkan tidak dapat dia gapai. Ciara ingin sekali kuliah di jurusan bisnis dan komunikasi seperti Alex tapi ia hanya bisa diterima di jurusan bisnis dan pemasaran.
"Woi Ndi elah lama amat," protes Agung meneriaki Andi. Andi memicingkan matanya ke arah Agung. "Sabar be*go," umpat Andi karena kesal.
"Gabung yuk sama yang lain juga," ajak Andi. Ciara mengangguk. Mereka berjalan beriringan sambil membawa nampan masing-masing.
"E cie cie jalan bareng, roman-romannya ada yang mau ngasih pj nih," gurau Agung meledek Andi dan Ciara. Wajah Ciara terlihat memerah.
"Kasih tempat ogeb, bikin emosi aja lo," Andi meraup muka Agung. Meski sering bertengkar tapi mereka tidak serius. Nyatanya Agung malah tertawa mendapat perlakuan dari Andi.
"Kalian nih nggak ada yang akur, hidup itu lebih indah kalau kita tidak saling bertengkar..." Belum selesai Amar berceramah ketiga temannya menyahut. "Baik, pak ustadz," seru Andi, Alex dan Agung secara bersamaan.
Ciara tertawa melihat kelucuan geng A4 tersebut. Sudah lama mereka tidak bareng seperti ini. "Coba ada Sandra pasti tambah seru."
Klontang
Alex menjatuhkan sendok yang ia pegang. "Shiit gue lupa, Gung lo ikut gue sekarang!" perintah Alex sambil menarik kerah Agung dari belakang.
"Kemana bos?" Tanya Agung.
"Ke kantor cabang, gue mau ngajak lo survey ke supermarket yang ada di sana," jawab Alex sambil berjalan.
"Salah bos, harusnya elo ngajak Andi dia kan anak pemasaran," protes Agung.
"Jangan banyak cingcong lo nih kunci mobil gue, lo yang nyetir!" Perintah Alex.
"Elah bilang aja mau dijadiin supir," gumam Agung dengan lirih.
"Gung ayo jalan!" Teriak Alex tidak sabaran.
Agung mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya perlahan. "Kita mau kemana bos?" Tanya Agung.
"Kita ke kota K," jawab Alex.
"Setdah itukan empat jam perjalanan dari sini bos," gerutu Agung.
"Tenang aja gue bayar lo," jawab Alex.
"Siap laksanakan," kata Agung.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, mereka sampai di pelataran mall yang ada di kota itu. Mereka sampai pukul empat sore. Kebetulan kuliah Alex selesai pukul siang sebelas siang. Setelah makan di kantin, Alex dan Agung berangkat pukul dua belas siang.
Saat itu jam kantor sudah selesai. Alex bergegas ke bagian kantor yang ada di supermarket tersebut.
"Katakan pada managernya saya ingin bertemu," kata Alex.
"Maaf, pak manager sudah pulang sejak dua jam yang lalu," jawaban karyawan supermarket tersebut membuat Alex mengerutkan keningnya.
"Rupanya dia korupsi waktu kerja," batin Alex.
"Panggil dia ke sini sekarang!" Perintah Alex. Karyawan itu memindai penampilan Alex yang terkesan badboy karena memakai celana jeans yang dipadukan dengan kaos warna putih lengan pendek yang ditutup jaket jeans.
"Anda siapa berani memerintah saya," tantang karyawan tersebut.
"Wah songong nih pegawai," cibir Agung. Agung hendak memukul tapi dihadang oleh Alex. "Sabar!" Perintahnya pada Agung. Agung menurunkan tangannya.
"Telepon sekarang atau saya akan mengadukan kamu ke petinggi di kantor pusat karena menutupi kecurangan manager kamu yang telah korupsi waktu," ancam Alex.
"Ada apa ini?" Suara itu membuat ketiga orang itu menoleh.