My Beloved Partner

My Beloved Partner
98



Akhirnya tiba di hari syukuran yang di adakan oleh mom Celine untuk rumah Julian yang baru.Mom Celine juga sekalian mengadakan acara pengajian syukuran untuk kehamilan Bia tapi di rumah Julian.Biar jadi satu kata mom Celine.


"Selamat ya Jaden sebentar lagi kamu akan jadi ayah," ucap Devon,adik dari Darren yang juga diundang hari itu.


"Maafkan om baru datang hari ini, om sibuk sekali mengurus resort yang sempat bermasalah kemaren,"terang Devon.


"Tidak apa om, oh iya kenalkan ini Berlian istriku." Berlian mengangguk pada Devon.


"Oh iya tante Cindy dimana om?" tanya Jaden yang tidak melihat keberadaan istri Devon itu.


"Tante tidak ikut karena dia sedang mengurus anaknya yang sedang sakit, dia titip salam untuk kalian," kata Devon.


"Semoga anak om cepat sembuh," kata Bia menimpali.


"Iya Berlian, cuma demam biasa habis suntik vaksin di sekolahnya."


Darren kemudian ikut bergabung dengan Jaden,Bia dan Devon."Ayo kita makan dulu,sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini," kata Darren sambil merangkul bahu adiknya.


"Mom aku ke belakang dulu ya mau gangi popoknya Sovia,kayaknya di pup," kata Raina saat akan meninggalkan obrolan dengan mom Celine.


Raina pun membawa Sovia ke dalam.Julian mengikuti istrinya dari belakang.Ia memeluk Raina tiba-tiba setelah Raina merebahkan Sovia di kasur untuk melepas ce*la*na anaknya.


"Kak, apaan sih?" Raina merasa geli saat Julian menciumi bahunya.


"Malu tuh dilihat Sovia," kata Raina berusaha melepaskan diri.


Lalu Julian memutar badan istrinya agar menghadap ke arahnya."Aku kangen," kata Julian dengan manja.


Wajah Raina tentu saja menjadi merah karena malu.Mengucapkan kata-kata rindu saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang."Nanti aja ya aku harus ganti popok Sovia dulu," tolak Raina sambil terkekeh.


"Mama," gadis kecil itu mulai memanggil.


"Iya sayang maafkan mama ya, ayo kita masuk ke kamar mandi," Raina pun menggendong anaknya ke kamar mandi.


Julian tidak tahu mana depan mana belakang saat memakaikan diapers untuk anaknya."Ya udah deh pasang aja yang penting pake cela*na," kata ayah Sovia itu.


"Udah belum sayang?" tanya Raina.Lalu ia mengecek tugas yang diberikan pada suaminya."Loh kok kebalik sih masang ce*lananya," Raina hanya tertawa melihat kesalahan suaminya.Julian yang malu jadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Setelah membetulkan ce*lana anaknya Raina mengajak suaminya turun.Tapi Julian mencegahnya."Kata mommy kartu kredit kamu hilang ya?" tanya Julian dengan ekspresi wajah serius.Raina mengangguk.


"Kamu tidak bohong kan?" tanya Julian memastikan.Raina mengangguk.


"Baiklah, nanti aku akan membuatkan kamu kartu kredit yang baru."


Rupanya mom Celine mengadukan pada Julian ketika Raina bilang kartu kreditnya hilang.Julian bukan orang bodoh.Ia pun segera mengecek tagihan yang terakhir kali digunakan pada kartu kredit yang ia berikan pada istrinya itu.


"Tiga puluh juta," Julian membelalakkan mata saat mengetahui pengeluaran yang tidak sedikit itu.


Ia pun curiga lalu meminta Ruby untuk menanyakan pada pihak bank.Setelah itu Ruby mendapatkan laporan dari bank bahwa kartu itu digunakan untuk membayar motor di sebuah showroom.


"Untuk apa Raina membeli motor?" gumam Julian.


Tak hilang akal ia pun mnyelidiki dimana terakhir kali kartu kredit itu di gunakan.Ruby kemudian mendapatkan laporan dari showroom motor tersebut bahwa kartu kredit itu digunakan oleh Hardian.


Julian pikir Raina diam-diam membantu pamannya hingga ia mengamati gerak-gerik Raina akhir-akhir ini.


Raina kembali keluar sendiri untuk berbelanja.Hardian menghampiri Raina untuk kedua kalinya.


"Heh bodoh, kenapa kartu kreditmu tidak bisa digunakan lagi?" bentak Hardian sambil mendorong Raina.


Wanita berhijab itu hampir saja terjatuh ke tanah apabila seseorang tidak menangkap tubuhnya dengan sigap.Raina menoleh ke arahnya.


"Kamu tidak apa-apa?"Raina mengangguk lemah. Hardian ketakutan saat melihat sosok laki-laki itu.