
"Apaan sih lo?" protes Sandra pada Ciara.
"Gue bisa bantu kok," sahut Alex.
"Nggak usah makasih nanti gue cari sendiri di kamus." Sandra menolak bantuan yang ditawarkan oleh Alex.
"Gue udah khatam bahasa Jerman, jadi elo bisa anggap gue kamus berjalan," kata Alex dengan Jumawa.
"Dih, sombongnya," Sandra berjalan meninggalkan Alex.
Saat Sandra baru keluar dari kelas, Zidan tak sengaja menabraknya. "Sorry," ucapnya sambil memungut buku-buku Sandra yang berserakan. Lalu ia berdiri dan memberikan buku-buku Sandra.
"Iya nggak apa-apa, lain kali kalau jalan hati-hati." Sandra memperingatkan Zidan dengan bahasa yang halus.
"Mau bareng nggak? Aku bawa mobil." Zidan menawarkan tumpangan.
"Dia bareng gue," sahut Alex.
"Nggak, gue naik ojek," kata Sandra lalu ia berjalan setengah berlari meninggalkan keduanya.
"Gue udah pernah ingatin elo kan?" Alex menatap tidak suka pada sepupunya itu. Zidan tersenyum sinis.
"Gue mau nantang elo main basket besok saat jam istirahat, kalau salah satu kita menang boleh mendekati Sandra dan yang kalah harus menjauhinya, gimana elo setuju dengan tantangan gue?"
"Oke, gue terima tantangan lo," jawab Alex yang tak gentar dengan tantangan sepupunya itu. Zidan pun pergi setelah mendengar jawaban Alex.
"Yakin bos mau ngelawan sepupu lo sendiri?" Tanya Andi.
"Yakin lah, gue nggak mau Sandra dipacarin sama dia," kata Alex sambil mengepalkan tangannya.
...***...
Ketika di perjalanan pulang ke rumahnya, ojek yang dinaiki Sandra tiba-tiba macet. "Eh, kenapa, Bang?" tanya Sandra pada driver ojol tersebut.
"Duh, maaf Neng saya lupa isi bahan bakar, mana pom bensinnya jauh lagi dari sini," kata kang ojol tersebut.
Bahu Sandra jadi meluruh. Ia pun membatalkan pesanan ojol melalui aplikasinya dan mengulang orderan. Sedangkan driver tadi menuntun motornya dan meninggalkan Sandra di pinggir jalan.
Sebuah mobil hitam yang mewah berhenti di depan Sandra. Jaden keluar dari dalam mobil. Waktu itu kebetulan Jaden dari kantor akan pulang ke rumah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Namun, di tengah perjalanan ia melihat Sandra yang berhenti di pinggir jalan.
"Kamu temannya Alex kan?" tanya Jaden pada gadis yang seusia anaknya itu.
"Iya, Om. Papanya Alex ya?" tanya Sandra balik. Jaden mengangguk.
"Kamu ngapain berdiri di sini?"
"Sedang menunggu driver ojol, Om."
"Mau saya antarkan pulang?"
"Tidak usah, Om. Nanti malah ngerepotin," tolak Sandra yang merasa tidak enak apabila harus satu mobil dengan orang tua Alex.
Sandra hanya diam saat berada di dalam mobil. Jaden pun tak banyak bicara. Ayah Alex itu hanya bertanya dimana alamat rumah Sandra. Gadis itu hanya menjawab seperlunya saja.
Di depan rumah, Chloe sengaja menunggu kepulangan Sandra karena ia ingin mengomeli Alex yang selalu mengajaknya pulang telat akhir-akhir ini.
Chloe berjalan mendekat ke arah mobil yang ditumpangi oleh Sandra. "Mama," ucap Sandra lirih.
Jaden turun karena mengenali wanita itu. Chloe tak kalah terkejut. "Jadi dia anak kamu?" Chloe mengangguk pelan.
"Saya hanya mengantarnya pulang saat kebetulan saya lihat dia sedang berada di pinggir jalan," imbuhnya.
Chloe tersenyum pada Jaden. "Iya, terima kasih banyak sudah mengantarkan anakku." Jaden mengangguk lalu ia memasuki mobilnya.
"Tunggu, apa kau tidak mau masuk dulu?"
"Tidak, lain kali saja," tolak Jaden yang berkata dari dalam mobil. Ia pun melajukan mobil yang ia kendarai.
Sandra memandang wajah ibunya dengan aneh. Tidak biasanya mamanya itu bersikap ramah pada seseorang. "Mama kenal?" Tanya Sandra.
"Bukan urusan kamu," jawab Chloe dengan ketus.
...***...
Jaden tidak menyangka dia akan bertemu wanita di masa lalunya. Meski tidak sampai menjalin hubungan yang serius tapi Jaden pernah berciuman dengan Chloe saat itu.
Berbeda dengan Jaden yang tak pernah menyimpan perasaan selain pada istrinya, Chloe ternyata tidak bisa move on dari Jaden. Itulah yang menyebabkan pernikahannya dengan Vero tidak berjalan lancar.
Chloe dan Vero menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh orang tua mereka. Chloe tidak menyukai Vero meski wajahnya tampan dan kaya. Chloe sempat menentang perjodohannya tapi sang ayah memaksa agar ia tetap menikah dengan Vero. Meski sudah dikaruniai seorang anak secantik Sandra, Chloe tidak pernah bersyukur dengan kehidupan keluarganya.
...***...
Keesokan harinya Alex memenuhi tantangan Zidan di jam istirahat seperti janjinya kemaren.
"Zidan, Zidan, Zidan," seru anak-anak perempuan dari kelas X.
"Alex, Alex, Alex," seru anak-anak dari XI terutama anggota geng A4. Agung, Andi dan Amar berteriak dengan kencang saat pertandingan berlangsung.
"San, elo nggak mau lihat Alex sama Zidan bertanding basket? Kata Ciara.
Sandra masih sibuk membaca novel baru yang dibelikan Vero kemaren. Vero memang suka membelikan anaknya itu buku bacaan agar Sandra tidak bosan di rumah. "Nggak tertarik," jawab Sandra tanpa melihat wajah Ciara.
Ciara yang kesal lalu menangkup wajah Sandra. "Elo nggak pengen tahu siapa yang akan menang di antara mereka?" Tanya Ciara. Sandra benar-benar cuek. "Itu semua demi elo," perkataan Ciara membuat Sandra terkejut.
...🌼🌼🌼...
Apa reaksi Sandra selanjutnya ya? Apa ia akan memarahi keduanya setelah tahu ia dijadikan sebagai bahan taruhan? Atau ia masih saja cuek.
Ikuti kisah selanjutnya ya!