My Beloved Partner

My Beloved Partner
113



"Ih kakak tuh ngerepotin deh, jangan sakit lagi aku nggak mau bolak-balik rumah sakit," kata Bia. Jaden sudah sadar sejam yang lalu. Kemaren setelah dioperasi ia tak sadarkan diri selama seharian.


Jaden mengulas senyum dia tahu istrinya itu tidak serius mengatakannya. Jaden menarik tangan istrinya. Lalu ia mengecup punggung tangan sang istri. "Maafin aku ya sayang udah bikin kamu khawatir," kata Jaden dengan lembut.


"Kakak tahu gak aku tuh nangisin kakak seharian," ucapnya sambil berderai air mata.


"Jangan cengeng dong sayang, nanti dedeknya ikut stress," kata Jaden sambil mengelus perut istrinya yang buncit.


"Assalamualaikum," Raina memberi salam.


Wanita berhijab itu datang bersama ibu mertuanya. "Kalian," Bia memeluk Raina dan mom Celine bergantian.


"Kalian ini kenapa sih punya hotel mewah tapi nginepnya malah milih di rumah sakit," gurau mom Celine.


"Mom kak Jaden bikin aku nangisin dia seharian lihat mom mata aku jadi bengkak," rengek Bia sambil memeluk ibu mertuanya.


"Ya ampun kasian banget kamu sayang, ya udah nanti biar Raina anterin kamu ke salon kamu juga perlu di pijat biar gak kecapekan, Jaden biar mama yang jaga," kata mom Celine. Niatnya adalah menggantikan menantunya berjaga. Ia tidak tega di tengah hamil Bia harus tidur di rumah sakit.


"Iya Bi nanti kamu pulang bareng aku aja," ajak Raina.


"Kak Jaden gak papa ditinggal sama aku?" Bia meminta izin.


"Gak apa-apa sayang, kamu pulang aja bareng Raina, oh iya bagaimana kabar Sovia?" tanya Jaden.


"Dia sudah baikan," jawab Raina.


"Bi kamu pulang sekarang aja," perintah mom Celine.


"Titip suami aku ya mom," kata Bia pada ibu mertuanya.


"Yang," panggil Jaden dengan manja.


"Apa?"


"Ini," Jaden menunjuk ke pipinya.


"Oh iya lupa," Bia melangkah lalu mencium pipi suaminya. Kanan kiri begantian lalu Jaden mencuri ciuman bibir istrinya.


"Ih kak Jaden, malu dilihat mommy," bisik Berlian yang merasa tidak enak pada ibu mertua dan kakak iparnya. Kedua wanita tersebut hanya menggeleng melihat pasangan aneh tersebut.


"Hati-hati ya pulangnya," pesan mom Celine.


Setelah Raina dan Bia pergi mom Celine mengupaskan buah untuk Jaden. "Kamu bikin mommy khawatir tahu gak, kasian juga sama istrimu dia kan lagi hamil besar, lain kali jangan bertindak sendirian!" Pesan mom Celine pada putranya.


"Iya mom, ini yang terakhir kali, Jaden juga gak mau anak Jaden gak punya ayah saat dia lahir."


"Hush Jaden jangan bilang kek gitu ah mommy ngeri dengernya, pokoknya kamu harus sembuh," kata mom Celine.


...***...


"Bi kamu mau aku anter kemana?" tanya Raina.


"Antar aku ke makam anakku," ucap Bia dengan wajah yang sendu.


Sesampainya di makam anaknya yang telah meninggal, Bia berdoa dan menyebarkan bunga di atas pusaranya.


"Nak, maafin mama ya karena jarang sekali ke sini. Kamu bentar lagi punya adek," kata Bia sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Bi kita pulang yuk kamu juga harus istirahat," kata Raina memberi saran. Bia mengangguk setuju.


...***...


Dua hari kemudian Jaden diperbolehkan pulang. Bia sudah tidak sabar menyambut kepulangan suaminya. Selama di rumah sakit dia tidak menunggui suaminya karena kondisi tubuhnya yang kurang memungkinkan.


Jaden dan mommy Celine masuk ke dalam rumah. "Sureprise," kata mereka kompak.


Ruangan itubsudah didekor oleh Bia dan yang lainnya dengan hiasan balon-balon untuk menyambut kepulangan Jaden.


Bia berhambur ke pelukan suaminya. "Welcome to your house my husband," ucapnya seraya memberi kecupan singkat di bibirnya.


"Aku nyiapin ini semua buat kamu," kata Bia pada suaminya.


"Terima kasih sayang," Jaden membalas dengan mengecup kening istrinya itu.


"Yuk kita makan dulu mama sudah menyiapkan banyak makanan," ajak mama Ara pada semua orang. Hari itu seperti pesta keluarga saja.


***


Dua bulan kemudian


"Sayang tolong ambilin dasiku ya di lemari," pinta Jaden pada istrinya.


"Iya kak," Bia berjalan ke samping lemari.


"Sayang kamu kenapa meringis begitu?" tanya Jaden pada istrinya.


"Gak tahu mules banget perutku," jawab Bia.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan," tebak Jaden.


"Belum, HPL nya kan masih dua minggu lagi kak," terang Bia.


"Ini cuma kontraksi palsu kak," imbuhnya.


"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Jaden yang khawatir.


"Iya gak apa-apa," jawab Bia sambil tersenyum.


"Aku anterin ke rumah mama aja ya, apa kamu mau ke rumah mommy nengokin Sovia?" tanya Jaden. Dia sangat khawatir kalau meninggalkan istrinya sendirian di rumah.


"Main sama Sovia aja deh," jawabnya bersemangat.


"Ya udah yuk berangkat sekarang," ajak Jaden. Laki-laki itu dengan sabar membantu istrinya jalan. Perutnya yang sudah membesar membuat Bia bergerak lambat.


Jaden pun membukakan pintu mobil untuk istrinya. Kemudian ia memutar dan duduk di kursi kendali mobil.


"Sayang kita mampir di pengisian bahan bakar dulu ya?" kata Jaden. Bia mengangguk.


Sesampainya di SPBU Jaden menghentikan mobilnya untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu mereka menuju ke rumah Darren.


"Dad baru mau berangkat?" tanya Jaden pada ayahnya.


Darren menepuk bahu anaknya. "Iya," jawabnya.


"Pagi dad," sapa Bia.


"Eh menantu daddy yang cantik ikut juga?" tanya Darren.


"Iya, aku gak mau dia sendirian di rumah dad, lebih baik dia disini," sahut Jaden.


"Masuk dulu ya dad," Bia berjalan memasuki rumah mertuanya.


Tak sengaja Julian menyenggol bahu Bia tapi tidak sampai terjatuh saat berpapasan dengannya. "Eh maaf Bi," ucap Julian.


Bia tidak menjawab. Namun, ia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. "Kak Jaden," teriak Bia.Sontak semua orang merasa panik