
Julian menunggu istrinya di depan ruang bersalin. Dokter sedang membantu persalinan Raina secara normal.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi menggema. Julian berucap syukur. Dokter keluar dan memberitahu Julian bahwa persalinan berjalan lancar.
Julian mengadzani anaknya setelah dibersihkan. Laki-laki itu meneteskan air mata bahagianya karena terharu. Ia juga mencium anaknya sebelum dikembalikan ke dalam box bayi.
Dua hari kemudian Raina diperbolehkan pulang. Semua keluarga menyambut kedatangan Raina bersama anaknya.
"Raina anaknya dikasih nama siapa?" Tanya Bia penasaran.
Raina tersenyum dan meminta dukungan dari suaminya. "Zidan aku kasih nama Zidan Juliar," kata Raina.
"Wah nama yang bagus," puji Bia.
Tujuh tahun kemudian
"Zidan, ayo berangkat sekolah, nak." teriak Raina. Anak laki-laki itu masih sibuk memegang stick game di tangannya. "Bentar lagi, Mom," seru Zidan.
Julian sudah mengingatkan agar segera berangkat karena sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mereka harus berangkat pagi-pagi agar tidak terkena macet.
"Masih belum turun juga," gerutu Raina.
"Biar aku yang panggil mom." Julian melangkahkan kakinya ke kamar Zidan.
"Rupanya kamu sibuk main game ya." Julian menggelitiki tubuh Zidan. "Ampun, Dad."
"Yuk berangkat sekolah dulu, mainnya ntar malam sama daddy." Julian membuat kesepakatan dengan anaknya.
Raina mengantar suami dan anaknya sampai ke depan. Sovia dan Zidan menyalami tangan ibunya. "Di sekolah jangan nakal ya, nak," pesan Raina.
Lalu Raina mencium tangan suaminya. "Hati-hati di jalan ya, Mas." Julian mengangguk.
...***...
Mereka sampai di sekolah internasional yang terkenal di kota itu. Sovia dan Zidan bersekolah yang sama dengan Al.
"Zidan," panggil Al ketika ia melihat sepupunya itu baru sampai. Zidan melambaikan tangan pada Al.
"Zidan jangan lari!" Teriak Julian. "Sayang, tolong jaga adikmu ya di sekolah," pintanya kemudian pada si sulung.
"Baik, Dad." Sovia menyalami tangan ayahnya. Sovia memang menuruni sifat Raina yang lemah lembut. Sedangkan Zidan adalah anak laki-laki yang badung.
"Kamu bawa mainan apa hari ini?" Tanya Al seraya merangkul bahu sepupunya. Al dan Zidan hanya selisih satu tahun jadi mereka layaknya teman sebaya.
"Nih, mainan robot terbaru." Zidan menunjukkan mainannya pada Al.
"Wah keren." Al tampak senang.
Lalu seorang siswa dengan sengaja menabrak Zidan sehingga mainan robotnya rusak karena terjatuh. "Mainanku," Zidan berjongkok dan memungut mainannya yang berserakan.
"Hei, kamu minta maaf sama Zidan!" Perintah Al pada anak laki-laki yang bertubuh tambun itu.
Al malah memukul Roni karena membuat sepupunya Zidan menangis. Roni mengadukan perbuatan Al pada guru.
"Alexander ikut ibu ke ruang guru sekarang!"
"Kamu tahu apa kesalahan kamu?"
Al mengangguk. "Tapi Roni duluan yang merusakkan mainan Zidan hingga membuat Zidan menangis." Al membela diri.
"Tapi nggak boleh memukul, kamu bisa adukan dia ke ibu misalnya. Ibu akan memanggil orang tua kamu."
"Jangan Bu, mama bisa marah," kata Al khawatir.
Lalu guru bernama Ana tersebut menelepon ke ponsel Berlian. "Selamat pagi dengan ibu Berlian orang tua Alexander?" Tanya Bu Ana.
"Ya saya orang tuanya," jawab Bia melalui sambungan telepon.
"Kami harap anda bisa datang ke sekolah karena anak anda bermasalah."
Perkataan guru itu membuat Bia geram. "Ya ampun bikin masalah apa sih dia?" Bia menyambar tas yang ada di meja kerjanya.
"Bu bos mau kemana?" Tanya wanita yang sedang hamil anak Bagus tersebut.
"Mau ke sekolahannya Al, kamu handle dulu masalah di kantor!" Perintah Bia pada Keyla. Keyla menggelengkan kepalanya.
Bia melajukan mobilnya menuju ke sekolah anaknya. Ia menemui guru yang memanggil Al. Ternyata di situ juga ada keponakannya, Zidan.
"Kamu di sini juga, nak?" Tanya Bia pada Zidan. Zidan berhambur ke pelukan Auntinya.
"Aunty anak itu nakal udah ngerusak mainan aku," rengek Zidan sambil menangis.
"Begini, Bu. Al tadi memukul Roni karena Roni tidak sengaja menabrak Zidan sampai mainannya terjatuh."
"Tapi itu karena Roni tidak mau meminta maaf pada Zidan." Al membela diri.
Bia berjongkok menyamakan tingginya dengan sang putra. "Mama tahu Al tidak akan mengecewakan mama, besok jangan diulangi lagi ya, Al tidak mau kan kalau mama marah?" Al mengangguk.
"Sekarang Al harus minta maaf sama teman yang kamu pukul tadi!" Pinta Bia pada anaknya. Al menuruti titah ibunya. Roni pun menerima permintaan maaf dari Al.
"Maafkan kesalahan anak-anak saya, Bu. Saya anggap masalah ini sudah selesai," kata Bia.
"Baik, Bu."
...***...
Sovia mengadukan adiknya pada sang mommy. "Besok mainannya gak usah dibawa ya sayang. Nanti kalau rusak lagi gimana? Zidan nggak punya mainan dong." Raina memperingatkan dengan cara yang halus.
"Baik, mom. Zidan janji Zidan nggak akan bawa mainan ke sekolah." Tangan Zidan membentuk huruf V.
"Iya, mommy percaya sama anak mommy yang ganteng ini." Raina mencolek hidung mbangir Zidan hingga anak kecil itu terkekeh geli.