My Beloved Partner

My Beloved Partner
62



Jaden berjalan cepat ke arah abangnya.Dengan nafas yang memburu dan mengepalkan tangan ia sudah siap memukul wajah saudara kembarnya itu."Br*ngs*k elo bang," geram Jaden.


Bug Bug Bug


Julian jatuh tersungkur ke lantai. Darren dan Mom Celine jadi kaget karena putranya saling beradu tinju. Mom Celine segera berjongkok dan melihat keadaan anak sulungnya.


"Kamu baik-baik saja nak?" tanya mom Celine pada Julian.Julian mengangguk meski darah segar mengalir di sudut bibir saudara kembar Jaden itu.


"Jaden apa maksud kamu datang lalu memukuli saudaramu seperti ini," geram Darren pada putra bungsunya.


"Dia laki-laki b*j*ng*n dad, bangun lo bang, gue pikir elo itu bisa jadi panutan gue ternyata elo sama aja br*ngs*knya kek gue," umpat Jaden dengan nafas menggebu.


"Maksud kamu apa nak?" tanya mom Celine yang sudah menangis melihat kedua anaknya bertengkar.


Berlian membawa seorang gadis yang mengenakan hijab masuk ke dalam rumah. Sedangkan di belakangnya ada mama Ara yang sedang menggendong bayi.


Mom Celine dan suaminya kaget dan mereka bisa menebak dari kemarahan Jaden kalau Julianlah yang menghamili wanita berhijab itu sampai memiliki anak.


"Siapa dia?" tanya dad Darren memastikan.


"Dia Raina, elo masih inget namanya kan? atau elo gak tahu namanya bang hm? jawab!" bentak Jaden.


Deg


"Raina? dia Raina? kenapa sekarang dia berhijab? aku, aku lupa wajahnya, apa betul dia wanita yang selama ini aku cari?" Julian bertanya-tanya dalam hati.


"Julian bisa kamu jelaskan masalah ini?" tanya dad Darren yang masih menahan marah dengan mengepalkan tangannya. Ingin sekali menonjok wajah anak sulungnya itu tapi ia tidak enak jika harus bersikap tidak sopan di depan besannya.


Plak


"Kamu punya mulut apa tidak hm? apa kamu memang bersalah?" mom Celine lebih dulu menampar wajah Julian.Ia kecewa dengan sikap anaknya.


"Mommy kecewa sama kamu Julian," mom Celine terduduk di lantai sambil menangis. Berlian kini manghampiri ibu mertuanya. "Mom Bia mohon jangan begini," bujuk Bia secara halus seraya mengusap punggung mom Celine agar lebih tenang.


Julian mendekat ke arah Raina. Raina malah takut hingga ia memundurkan langkahnya. "Tunggu, aku tidak akan menyakiti kamu, aku hanya ingin memastikan apakah kamu gadis yang malam itu bekerja di bar?" tanya Julian.


Sontak semua orang yang ada di sana berfikiran negatif tentang Raina. Raina menoleh ke arah yang lain. Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Iya,apa kau lupa?" Raina bertanya balik pada Julian dengan ekspresi wajah tenang.


Julian meriah tangan wanita yang ada di depannya. "Maafkan aku, maaf karena telah menelantarkanmu dan anak itu?" Julian menoleh ke bayi yang ada di gendongan mama Ara.


Mama Ara mendekat. "Ini anak Raina," mama Ara memperlihatkan bayi perempuan yang sedang tidur terlelap.


Julian meneteskan air mata."Maaf, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh malam itu, selama ini aku mencarimu tapi Jaden malah menemukanmu lebih dulu," kata Julian dengan penuh penyesalan.


"Hei, kemari kau hanya daddy yang belum menghajarmu di sini," melihat kemarahan Darren,Julian kemudian bersembunyi di belakang punggung Raina.


"Dasar anak kurang ajar," Darren terus berteriak hingga membuat bayi kecil itu terbangun.


"Oeeek ooeek," bayi itu menangis dengan kencang. Saat Raina akan mengambilnya, mom Celine lebih dulu menggendong bayi perempuan yang belum memiliki nama tersebut.


"Ssstt cup cup cup sayang, maafkan kakekmu ya," Mom Celine mencoba menenangkan tangisannya.


"Ini semua karenamu dad, coba dulu kau tidak menjadi seorang playboy pasti aku tidak akan memiliki anak-anak yang br*ngs*k sepertimu," sungut mom Celine.


"Mom kenapa selalu mengungkit masa lalu," protes Darren.


Raina tersenyum melihat tingkah keluarga yang menurutnya aneh tapi lucu itu. Tanpa sadar Julian melihat senyum manis Raina. Tampak lesung pipi Raina yang terlihat jelas.


Cup


Julian memberikan kecupan singkat di pipi wanita yang ada di hadapannya itu. Raina menjadi kaget. Wajahnya memerah karena malu. Ingin sekali ia bersembunyi di dalam lubang semut.


"Ngapain sih?" protes Bia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kek mereka lah," jawab Jaden santai.


"Lo juga sama aja ogeb," ledek Julian.


"Ya bedalah, gue kan sama istri sah," Jaden menaik turunkan alisnya. "Nah lo? kapan lo halalin bang?"


"Tunggu, apa benar bayi itu anak Julian?" Darren masih ragu.


"Daddy tenang saja, Jaden sudah melakukan tes DNA pada bayi itu, hasilnya akan keluar besok, orang Jaden akan mengirim hasilnya dari rumah sakit di Sukabumi,"


Brak


Raina pingsan. Untungnya Julian dengan sigap menangkap tubuhnya. Laki-laki itu panik.


"Jangan khawatir mungkin dia terlalu lama berdiri, Raina baru saja melahirkan tiga hari yang lalu," ucap Mama Ara.


"Bawa dia ke kamarmu," perintah mom Celine. Julian mengangguk patuh.


"Mom kakinya mengeluarkan darah," Julian panik.


"Tidak apa bang Jul, itu hanya darah nifas," terang Bia. Julian tidak mengerti.


"Bawa saja ke atas biar aku bantu membersihkannya," kata Bia.


Jaden berniat mengikuti istrinya tapi ia mendapat pelototan sang istri. "Ngapain?" tanya Bia ketus.


"Mo ikut?" Bia menaruh tangannya di pinggang. "Oh baiklah hamba mengerti tuan putri," perlahan Jaden berjalan mundur.


Sementara itu mama Ara, mom Celine dan Darren menimang cucu baru mereka. Ketiganya nampak antusias.


"Siapa nama bayi ini jeng?" tanya mom Celine pada besannya.


"Raina belum memberinya nama," jawab mama Ara.


"Apa? kasian sekali kamu sayang, apa ibumu tidak menginginkanmu hingga ia tidak memberimu nama?" tuduh mam Celine.


"Bukan begitu jeng, Raina sangat menjaga kandungannya, ibu saya bercerita bahwa selama ini Raina sibuk mengurus dirinya seorang sendiri hingga dia tidak sempat mempersiapkan nama untuk bayinya,"terang mama Ara.


"Apa hubungannya dengan ibu anda?" tanya mom Celine.


"Raina tinggal di sebelah rumah ibu saya dan dialah yang menolong ibu saya ketika sedang sakit, percayalah Raina gadis yang baik, ibu saya banyak bercerita tentang keseharian gadis itu, banyak ujian yang sudah ia lewati sendirian, dulu ia memang bekerja di bar tapi dia hanya pelayan, dia terpaksa bekerja di tempat laknat itu agar dia bisa bertahan hidup, dia yatim-piatu," mom Celine yang mendengar kisah hidup Raina menitikkan air mata.


"Nenek janji nasibmu tidak akan seburuk ibumu sayang," mom Celine berbicara pada bayi perempuan yang tidur di pangkuannya.


"Ooaaa ooaaa," bayi itu menangis.


"Mungkin ia ingin menyusu pada ibunya," pikir mama Ara.


Tiba-tiba Julian turun dari tangga setengah berlari.Semua orang yang melihatnya jadi bingung. "Jaden siapkan mobil kita akan ke rumah sakit," kata Julian.


...***...


Apa yang sebenarnya terjadi? kita tunggu kisah selanjutnya di bab berikutnya ya. Jangan lupa vote dan giftnya.


Othor dibuatin grub sama mimin bagi yang berminat bisa gabung ya di grub chat othor.