
Dosen memanggil orangtua Alex dan Sandra. Saat itu Chloe dan Bia datang secara bersamaan. "Kamu," tunjuk Bia pada wanita yang pernah naksir suaminya dulu.
"Apakah kamu dipanggil dosen karena hal yang sama?" Tanya Chloe pada Bia. Bia hanya mengerutkan keningnya.
Lalu mereka menuju ke ruangan dosen. "Selamat datang, bu."
"Sebenarnya ada apa ini Pak? Kenapa saya dipanggil?" Tanya Bia pada dosen itu. Ia melihat Alex dan Sandra berada di ruangan itu.
"Bu, sebenarnya tidak perlu mengundang orang tua kami, kami bisa menerima hukuman dari ibu tanpa melibatkan mereka," sela Alex.
"Tidak bisa, kalian akan diskors tapi orang tua kalian harus tahu kalau perbuatan kalian itu memalukan."
"Apa yang sudah dilakukan oleh putri saya sehingga dia harus diskors?" Tanya Chloe.
"Mereka berciuman di depan banyak mahasiswa, bukankah itu hal memalukan?" Dosen wanita itu meminta dukungan kedua orang tua masing-masing mahasiswanya yang hadir.
Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sandra menunduk malu. Sedangkan Bia melototi putranya. Ia tak menyangka saking bucinnya pada Sandra ia rela mengumbar kemesraan di depan umum.
"Saya rasa mereka sudah dewasa tidak jadi masalah kalau mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," kata Chloe dengan bijak.
"Maksudnya bagaimana Bu?" Tanya Dosen itu pada Chloe.
"Hukum mereka jika itu perlu tapi seharusnya anda tidak melibatkan kami pada masalah sepele seperti ini," ucap Chloe dengan nada dingin. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan dosen.
Dosen itu menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Chloe yang nampak jutek.
"Jadi apa sudah cukup saya diundang kemari?" Tanya Bia. Dosen itu manganggukkan kepalanya.
Bia mengikuti Chloe keluar ruangan. Wanita itu tampak angkuh saat berjalan sembari mengenakan kacamata hitam dan menjinjing tas brandednya.
Setelah itu dosen memberikan skors selama seminggu pada Alex dan juga Sandra. Keduanya tertawa ketika keluar dari ruangan dosen.
"Gara-gara kamu sih," Sandra menyalahkan Alex.
"Kok aku sih, kan kamu yang minta pembuktian segala," protes Alex tak mau kalah.
"Ya caranya nggak gitu juga kali Lex," ucap Sandra tersipu malu.
"Kamu malu-malu tapi mau," ledek Alex pada kekasihnya.
"Gue heran sama kalian dihukum kok malah seneng ya," sahut Agung yang melihat mereka keluar dari ruang dosen.
Zidan makin sakit hati melihat kemesraan mereka. Ia mencoba melupakan Sandra tapi itu sulit. "Aku butuh waktu untuk melupakanmu San," ucapnya.
Sementara itu Dewi semakin geram karena ia melihat Alex mencium Sandra di depan umum. "Sialan cewek itu, dia makin gencar menggoda Alex, gue akan bikin perhitungan sama dia," gumam Dewi dengan seringai liciknya.
...***...
Para pelaku kejahatan yang waktu itu berusaha mengganggu Sandra dan Nabil kini diintrogasi oleh polisi.
"Jadi apa motif kalian mengganggu wanita itu?" Tanya polisi yang mengitrogasi.
"Kami ingin merampas harta bendanya, Pak," aku salah satu penjahat itu.
"Yakin kalian tidak ada kaitannya dengan perdagangan wanita?" Selidik polisi itu.
"Tidak pak."
"Lalu kenapa kalian berkelompok? Apa yang kalian inginkan selain harta bendanya?"
"Tidak ada, Pak."
Dewi telah membayar mereka mahal. Gadis itu juga sudah mengantisipasi kalau mereka tertangkap mereka dilarang menyebut namanya di depan polisi atau orang-orang Dewi akan menghabisi keluarga mereka.
...***...
"Alex mana Ma?" Tanya Jaden yang tidak melihat putra sulungnya itu berada di meja makan.
"Dia nggak kuliah pagi ini?" Tanya Jaden. Tidak biasanya dia bangun siang.
"Dia sedang diskors, Pa."
"Kemaren dia nyium Sandra di depan umum dan ketahuan sama dosennya."
Brusss
Jaden menyemburkan kopi yang sedang ia minum. "Apa?"
"Papa, hampir aja kena muka Kristal. Wah nekad juga tuh abang. Kawinin aja Pa."
"Hush anak kecil nggak boleh ngomong kawin, belajar yang bener," kata Bia pada putrinya.
"Hari ini dia nggak ada kegiatan kan? Bangunin dia ma! Suruh ikut papa ke kantor," perintah Jaden pada sang istri.
"Biarin ajalah Pa, dia belum waktunya kerja," Bia membela anaknya.
"Mama ini laki-laki harus belajar mengelola perusahaan, lagipula sebentar lagi dia juga mau KKN, nanti kalau..."
"Masih nanti kan?" Sela Bia.
Jaden yang tak mau berdebat dengan istrinya memilih berangkat bekerja. "Papa berangkat sekarang ya ma," pamit Jaden sambil mencium kening istrinya.
"Hm."
"Kristal ikut papa," seru Kristal berlari setelah mencium tangan Bia dengan cepat.
Setelah itu, Bia membangunkan Alex. "Abang, bangun!" Bia menarik selimut Alex. Alex malah menaikkan selimutnya.
"Jam berapa Ma?" Tanya Alex yang ingat kalau ia janjian dengan Sandra ingin menemani kekasihnya itu pulang menemui sang ayah.
"Jam setengah delapan," jawab Bia.
"Duh hampir saja kesiangan," Alex segera bangun dan menyambar handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Bia hanya menggelengkan kepalanya.
Satu jam kemudian Alex turun. Ia turun dengan tergesa-gesa. Abang mau kemana udah rapi begitu?" Tanya Bia.
"Ma, abang mau nganterin kekasih abang pualng kampung boleh, Ma?" Alex meminta izin.
"Mau apa? Mau minta restu sama ayahnya?" Ledek Bia.
"Wih mamaku kaya cenayang, kok tahu?" Alex menaikturunkan alisnya.
"Abang," teriak Bia yang kesal.
Alex terkekeh melihat tingkah sang ibu. "Bukan Ma, Sandra sudah satu semester nggak pulang, kebetulan ini dia kan lagi libur jadi bisa mau dimanfaatkan buat jenguk ayahnya yang ada di luar kota," terang Alex.
"Kalian nggak nginep kan?" Tanya Bia.
"Nggak Ma kita langsung pulang," jawab Alex.
"Syukur deh, abang jangan bikin mama jantungan ya, mama nggak mau kalau abang pulang-pulang hamilin anak orang." Bia takut kejadian yang menimpanaya di masa lalu terulang pada putranya.
"Mama jangan ngomong gitu, Alex janji nggak akan ngecewain mama," kata Alex menenangkan pikiran mamanya.
"Ya sudah berangkatnya hati-hati ya sayang, jangan ngebut," pesan Bia pada putra kesayangannya.
Lalu Alex mengeluarkan mobil sportnya dari garasi. Ia akan menuju ke rumah sang kekasih. "Restu mama mertua sudah di tangan, saatnya mengambil hati calon papa mertua," gumam Alex ketika menyetor mobil.
Entah kenapa hukumannya menjadi hari libur yang membahagiakan untuknya karena bisa pergi bersama Sandra.
Tak lama kemudian Alex berada di depan gerbang rumah Sandra. Ia membunyikan klakson mobilnya.
"Ma, Alex sudah nunggu di depan. Mama yakin nggak mau ikut?" Tanya Sandra memastikan.
"Mama masih belum punya muka menghadapi papamu sayang. Sampaikan salam mama pada papamu saja," kata Chloe. Setelah itu Sandra mencium tangan ibunya lalu pergi menemui Alex.
"Sorry aku telat sayang," kata Alex karena dia bangun kesiangan.
"Nggak apa masih keburu kok, semoga cuaca bagus hari ini jadi kita bisa pulang tepat waktu nggak kejebak macet dan kena hujan." Alex mengangguk. Ia pun mulai melajukan mobilnya perlahan.