My Beloved Partner

My Beloved Partner
51



"Agh rasanya kenapa tambah gerah begini ya?" keluh Bia yang merasa kepanasan.


Samuel melirik Bia sekilas. Ia tahu obat yang ia masukkan ke dalam minuman itu sedang bekerja. Laki-laki itu mengulas semyum di bibirnya.


"Apa aku naikkan volume AC nya Bi?" kata Samuel. sok perhatian.


Bia terus bergerak-gerak tidak nyaman. "Agh rasanya panas," erang Bia.


Samuel merasa ini momen ini sangat pas. Ia pun berhenti dan menepikan mobilnya. Saat ia mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Bia, seseorang memecahkan kaca mobilnya. Samuel pun kaget dan menutup wajahnya dengan kedua lengannya agar tidak terkena pecahan kaca mobil yang bertebaran kemana-mana.


"Sial," umpat Samuel saat mendapati kaca mobilnya pecah lebih tepatnya dipecahkan oleh seseorang.


Jaden membuka paksa mobil Samuel ketika kaca jendelanya sudah mulai terpecahkan. Ia menarik kerah Samuel dan memberikannya bogem mentah. Laki-laki yang berniat jahat itu terhuyung ke tanah.


"Bren**k lo, mau lo apain bini gue hah?" bentak Jaden yang tidak bisa mengontrol kemarahannya.


"Cih, apa peduli lo?" tanya Samuel sambil tersenyum mengejek.


Tanpa berkata apa-apa Jaden berlutut dan kembali memberikan satu pukulan ke wajah Samuel. Samuel pun tergeletak tak berdaya. Nampak darah segar mengalir di ujung bibirnya.


Jaden berdiri lalu segera menghampiri istrinya yang kini dalam keadaan tidak sadar. "Sayang bangun," Jaden mencoba menepuk-nepuk pipi Bia pelan namun wanita itu tak sadarkan diri.


Jaden kemudian mengangkat tubuhnya dan memindahkan ke dalam mobilnya. Lalu ia meninggalkan Samuel begitu saja.


Jaden masih berusaha menyadarkan istrinya dengan mengguncang tubuh Bia. Ia tahu Bia belum sepenuhnya pingsan. "Eugh...eugh..." Bia melenguh sambil menarik-narik bajunya saat ia mulai tersadar.


"Sayang tenanglah sebentar lagi sampai di rumah," kata Jaden sambil memegang bahu istrinya.


Jaden pun menambah kecepatan mobilnya. Sesampainya di rumahnya sendiri, Jaden mengangkat Bia dan membawanya ke dalam kamar.


Ia membaringkan tubuh Bia di atas ranjang. Namun saat ia sedang menunduk, Bia tiba-tiba saja melingkarkan tangannya ke leher Jaden dan meraih bibirnya. Jaden tersentak kaget.


Ia sangat merindukan istrinya tapi ia tahu Bia sedang di bawah pengaruh obat yang diberikan oleh Samuel ketika berada di restoran tadi.


Jaden yang sesaat berfikir tak bisa lagi menahan rindu pada istrinya. Ia pun membalas ciuman Bia dengan lembut. Tak dipungkiri inilah yang membuatnya tidak bisa jauh-jauh dari Bia. Namun saat itu api cemburu dan perasaan kecewa membuat mata Jaden seakan buta dan melupakan istrinya dalam sebulan lamanya.


Malam panas itu pun mereka lalui bersama. Bia tertidur setelah dibuat kelelahan oleh Jaden. Tapi berbeda dengan Jaden yang merasa de javu. Ia merasa mengulangi kesalahan yang dulu. Ketika ia memperk*sa Bia agar Bia mau menikah dengannya.


Keesokan harinya Bia bangun setelah wajahnya terkena paparan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar.


Ia mengerjapkan matanya. Setelah membuka lebar matanya wanita itu tahu dimana ia berada sekarang. "Gak mungkin," Bia menggeleng beberapa kali.


Namun kenyataannya ia dalam keadaan tak berbusana.Bia memejamkan matanya sejanak, setelah menarik nafas panajng barulah dia membuka matanya kembali.


Saat ia membuka matanya Jaden baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang dililit sebahu. Jaden tersenyum saat melihat istrinya sudah bangun. Bia mengalihkan pandangannya, ia seakan ejggan melihat suaminya itu.


"Apa kamu tidak mau mandi?" tanya Jaden namun Bia hanya diam saja tak menjawab.


"Aku tunggu di bawah, kita harus bicara agar masalah kita sudah selesai," tegas Jaden.


"Masalah kita memang sudah selesai," jawab Bia ketus. Ia berdiri dan berniat masuk ke dalam kamar mandi. Akan tetapi tangan kekar Jaden mencekalnya.


"Bi, aku mohon maafkan aku," ucap Jaden memelas.


Bia menghempaskan tangan Jaden. "Maaf katamu, kesalahanmu sangat banyak padaku, haruskah selesai hanya dengan memberimu maaf," geram Bia dengan nada bergetar. Air matanya tak sempat ia bendung.


Bia memukul-mukul dada bidang Jaden agar suaminya itu melepaskan pelukannya. "Lepaskan aku, lepaskan," mohon Bia sambil terisak.


"Tidak, kali ini aku tidak akan melepaskanmu, aku bodoh sudah menyia-nyiakan dirimu, aku bodoh karena meninggalkanmu di saat kamu terpuruk, maafkan aku Bi maafkan aku," Jaden juga berkata sambil menangis.


Setelah beberapa saat keduanya merasa tenang Jaden melepaskan pelukannya. "Sekarang mandilah, aku tunggu di bawah kita sarapan sama-sama," kata Jaden dengan lembut kemudian mengecup kening istrinya agak lama.


Jaden keluar sedangkan Bia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


...***...


"Ma apa semalam Berlian tidak pulang?" tanya Rasya khawatir.Mam Ara mengangguk.


"Mama sudah hubungi ponselnya?" tanya Rasya sekali lagi.


"Sudah pa tapi tidak diangkat," jawab mama Ara.


"Apakah dia tidur di rumah Keyla? Coba nanti tolong hubungi Keyla ma, papa jadi khawatir tidak biasanya dia pergi tanpa memberi kabar seperti ini," ucapa Rasya kemudian menyelesaikan sarapannya setelah itu berangkat ke kantor.


Mama Ara menelpon Keyla. "Key apa Bia tidur di rumahmu semalam?" tanya mam Ara khawatir.


"Tidak ma, memangnya kenapa ma?" tanya Keyla balik.


"Dia tidak pulang semalam, oh iya apa dia sudah ada di kantor saat ini?" tanya Mama Ara lagi.


"Bia belum datang ma," jawaban Keyla membuat mama Ara semakin khawatir pada putrinya.


"Apa dia bersama suaminya?" batin mama Ara.


Kemudian mama Ara pun berniat mengunjungi rumah Jaden pagi ini. Ia ingin memastikan kalau putrinya baik-baik saja.


...***...


Di rumah Jaden


"Aku akan mengantarmu ke kantor," tawar Jaden.


"Tidak aku naik taxi saja," tolak Bia.


"Sayang aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, aku janji aku tidak akan membiarkan dirimu menderita karena aku," Jaden berusaha meyakinkan istrinya seraya memegang tangan istrinya lembut.


Hati Bia menghangat. Sebenarnya ia sangat marah tapi ia juga tidak mau membohongi dirinya sendiri. Ia masih sangat mencintai suaminya itu.


Bia menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan untuk meredam emosi. "Baiklah," jawab Bia pasrah.


Percuma saja menolak Jaden. Ia akan terus memaksanya. Mau tak mau Bia menerima tumpangan Jaden.


Semoga ini awal yang baik untuk mereka memulai hubungan yang sempat menegang.


Tak lama kemudian terdengar bunyi bel pintu rumah mereka. "Siapa yang datang pagi-pagi sekali, tunggulah aku akan bukakan pintu," Jaden beranjak dari kursinya.


...❤️❤️❤️...


Udah hari senin aja nih, kasih vote nya ya, jangan lupa ikuti terus cerita ini, aku update tiap hari tapi riview dari noveltoon lumayan lama jadi maafkan bila hari berikutnya baru terupload.