
"Alex?"
Sandra tidak menyangka ia bertemu Alex di sini, di tempat anak-anak kurang mampu yang putus sekolah.
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Sandra.
"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu?"
"Kak Alex sudah kenal ya sama kak Sandra, dia ini guru..." belum sempat anak itu meneruskan kata-katanya, Sandra lebih dulu menyela. "Andre, kakak berangkat sekolah dulu ya," pamit Sandra.
"Tunggu, bareng aku aja."
"Nggak usah aku bisa naik angkot aja."
"Nggak akan keburu." Alex menunjukkan jam tangannya.
Setelah memberikan seplastik makanan untuk anak-anak jalanan itu, Alex memberikan helm pada Sandra. "Tumben bawa helm dua," kata Sandra.
"Ini pakai juga biar kamu nggak sedekah paha." Alex mencopot jaketnya lalu memberikan pada Sandra.
"Cowok ini baik juga," batin Sandra sambil tersenyum tipis.
Setelah Sandra naik, Alex pun melajukan motornya dengan kencang hingga membuat Sandra terpaksa memegang perut Alex karena kaget. Alex tersenyum tipis ketika melihat tangan Sandra melingkar di perutnya.
"Lex, elo nggak bisa ya pelan sedikit bawa motornya?" Protes Sandra pada pemuda itu.
"Bawel."
Benar saja tak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. alex memarkirkan motornya lalu Sandra turun. "Makasih Lex berkat elo gue jadi nggak telat," kata Sandra setelah melepas helm yang ia kenakan. Alex mengangguk.
Lima menit kemudian, pintu gerbang ditutup oleh satpam. "Pak, bukain, Pak," rengek Agung dan teman-temannya.
Alex melihat teman-temannya itu dari kejauhan. "Makanya, besok-besok kalau bangun yang pagi," cibir Alex.
"Bos kok tumben hari ini nggak telat. Bos pengkhianat nih," protes Andi kemudian. Alex hanya menggedikkan bahunya lalu pergi meninggalkan mereka.
"Hukum aja, Pak," teriak Alex sambil berlalu.
"Sialan si bos," umpat Amar.
Alex memasuki ruang kelasnya. Pandangannya tak lepas dari wajah cantik Sandra. Tak lama kemudian guru mata pelajaran matematika masuk ke dalam kelas.
Setelah menerangkan pelajaran guru itu menunjuk muridnya agar mengerjakan soal di papan tulis. Ia menunjuk Alex karena pemuda itu tak serius belajar, ia sibuk menggambar sesuatu tapi entah apa itu.
"Alex kamu maju ke depan! Kerjakan soal ini," tunjuk guru perempuan itu.
Alex terkejut saat namanya dipanggil. Ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Saya tidak bisa, Bu," akunya.
"Makanya kalau lagi dijelasin kamu jangan main sendiri," omel guru bernama Elsa itu.
Sandra pun maju dan mengerjakan semuanya dengan benar. Setelah ia selsai, ia meletakkan spidol di tempatnya.
"Kamu harus belajar sama Sandra, Lex. Ketua kelas kok nggak bisa jadi panutan anak buahnya," cibir Bu Elsa.
"Saya juga manusia, Bu. Banyak kurangnya." Alex menjawab omongan gurunya. Bu Elsa hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan murid badungnya itu.
"Sandra, noh dengerin kata Bu Elsa, elo harus ngajarin gue," kata Alex. Sandra hanya mencibir.
Jam istirahat pun berbunyi, ketiga teman Alex baru diperbolehkan masuk setelah menjalani hukumannya. Amar, Andi dan Agung langsung menuju ke kantin. Alex mencari keberadaan mereka karena ia merasakan kesepian saat di kelas sendirian.
"Wadaw," Andi mengusap kepalanya yang sakit ketika Alex memukul kepalanya dari belakang.
"Rese, ke kantin nggak ngajak-ngajak." Alex menyambar minuman Agung lalu menyeruputnya.
"Bos bekas gue itu," protes Agung.
"Alah dikit doang pelit amat."
Tak lama kemudian Sandra dan Ciara mengantri untuk membeli minuman di kantin.
Agung yang usil pun menggoda Ciara. "Cia, beliin Aa Agung minuman dong!"
Ciara menoleh. "Idih, dasar lo cowok nggak tahu malu, harusnya cowok yang traktir cewek, ini malah kebalik," cibir Ciara.
Alex berdiri. "Udah kalau gitu biar gue aja yang bayar," kata pemuda itu. Alex pun maju dan membayar jajanan yang dipesan oleh teman-temannya.
"Bos dalam rangka apa?" tanya Andi.
"Pajak jadian gue sama Sandra," goda Alex. Sandra membelalakkan matanya mendengar omongan Alex yang dianggap konyol. Semua orang bersorak kecuali seseorang yang merasa geram ketika mendengar mereka jadian.
Gadis itu pun keluar dari kantin. Ciara mengikuti sahabatnya. "San, emang beneran elo udah jadian sama Alex?" Tanya Ciara yang penasaran.
"Alah omongan cowok belagu lo dengerin," cibir Sandra.
"Eh kita ke sana aja yuk, lihat anak-anak basket tanding," ajak Ciara.
Sandra pun hanya menurut pada temannya itu ketika tangannya ditarik. "Rame banget kan ya," kata Ciara ketika memasuki lapangan basket menerobos kerumunan anak-anak perempuan yang menonton idola mereka.
Tak lama setelah itu giliran tim chear leader yang tampil. Ketika mereka selesai pertunjukan, salah seorang anggota chearleader tersebut menunjuk ke arah Sandra.
"Teman-teman ada temen cewek kita yang mau unjuk kebolehan nih," kata Bella berseru pada teman-temannya di lapangan.
Kemudian ia berjalan ke arah Sandra dan memberikan pom-pomnya. "Ayo San, gue tahu elo bisa chears." Bella tersenyum licik.
Sandra menoleh pada Ciara. "Sandra, Sandra, Sandra." Semua orang di lapangan itu meneriaki.