My Beloved Partner

My Beloved Partner
184



Alex mengajak Sandra ke sebuah butik untuk membeli baju yang akan dikenakan ke acara tunangannya Andi dan Ciara.


"Sayang, aku mau belanja sama Nabil aja sekalian pilihin baju buat dia," tolak Sandra karena merasa malu.


Alex tersenyum. "Dia tuh udah pergi sama Amar. Lagian mereka berdua kan sudah resmi pacaran."


Sandra ikut tersenyum. "Senangnya teman kita sudah punya pasangan semua. Bahkan Andi aja udah mau ngelamar Ciara entar malam. Aku masih nggak percaya."


"Jadi kamu iri ya sama mereka?" Goda Alex membuat wajah Sandra bersemu merah.


"Kalau boleh jujur sih aku iri," jawab Sandra.


"Ya udah ayo kita tunangan!"


"Dih ngomongnya enteng banget. Kamu udah sering melamar aku kayak gini," kata Sandra mencebik kesal.


"Kali ini aku serius." Alex menampakkan mimik wajah seriusnya.


Sandra hanya bisa mengulum senyum lalu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Alex. Alex menaikkan sudut bibirnya.


Lalu mereka memasuki sebuah butik yang di sarankan oleh mamanya Alex. "Apa benar di sini tempatnya?" tanya Sandra memastikan. Alex mengangguk.


"Ayo masuk!" Alex menarik tangan Sandra perlahan.


"Selamat datang," sapa pemilik butik yang setengah gemulai itu.


"Kami mau cari dress buat acara nanti malam," kata Alex.


"Apa anda tuan muda Alex?" Tanya pemilik butik itu. Alex mengangguk.


"Oh Nyonya Berlian sudah memesan gaun untuk calon menantunya. Tunggu sebentar saya ambilkan."


"Mama ngasih kejutan nih buat kamu," ledek Alex. Sandra tersipu malu. Bahkan mamanya Alex sudah menganggap dirinya sebagai calon menantu.


Tak lama kemudian memilih batik itu kembali dengan membawa dua buah baju di tangannya. "Nyonya memberikan pilihan dua baju, satu warna peach dsn satu lagi warna pink. Anda suka yang mana?" Tanyanya pada Sandra.


"Bagaimana kalau dicoba dulu?" Usul Alex. Sandra mengangguk setuju.


Lalu pelayan di toko itu mengantarkan Sandra ke ruang ganti. Sandra merasa senang ketika dia terlihat sangat cantik memakai gaun itu. "Apa ini beneran aku?" tanyanya pada dirinya sendiri ketika sedang bercermin.


"Nona sudah selesai belum?" Tanya pelayan yang melayani Sandra.


"Sudah," jawab Sandra.


"Saya buka ya tirainya," kata pelayan itu.


Kini tirai terbuka Sandra tampak cantik memakai dress warna pink panjang selutut dengan detail swarovski yang tampak mewah namun sangat cantik saat ia pakai.


Alex tertegun melihat kecantikan kekasihnya. "Apakah aku sedang berada di dalam kayangan? Kenapa ada bidadari di sini?" Ucapnya mengagumi kecantikan Sandra.


Sandra tersipu malu mendengar gombalan Alex. Meskipun dia sering digombali oleh Alex tapi kali ini benar-benar membuat jantung Sandra berdebar kencang.


"Bagaimana kalau kita coba kau yang satunya lagi?" Usul pemilik butik.


Alex dan Sandra pun setuju. Tak butuh waktu lama Sandra keluar dengan gaun yang berbeda.


"Aku jadi tidak sabar ingin bertunangan denganmu sayang." Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Alex ketika melihat Sandra berganti baju.


"Tuan muda ini sangat pandai menggoda wanitanya," gurau pemilik butik itu.


"Jadi mau pilih yang mana tuan muda, nona." Ia menatap Alex dan Sandra bergantian.


"Pink," jawab Alex.


"Peach," jawab Sandra.


"Ya sudah beli semuanya," putus Alex lalu ia mengeluarkan kartu kredit no limit miliknya.


Pemilik butik itu menolak kartu pemberian Alex. "Nyonya Berlian bilang dia yang akan membayarnya."


"Lex beli salah satu saja, aku tidak enak sama tante Berlian," kata Sandra.


...***...


Di tempat lain, Nabil mengajak kekasihnya ke pasar tradisional. "Beli baju di sini apa todak apa-apa sayang?" Amar bertanya pada Nabil.


"Uangku tidak cukup untuk membeli pakaian yang mahal-mahal," kata Nabil dengan jujur.


"Ya ampun kasihan sekali dia nasibnya sama sepertiku," batin Amar.


"Ayo kita pilih sesuai seleramu biar aku yang bayar," kata Amar dengan yakin. Nabil bukannya tidak bisa membayar pakaian yang akan ia beli tapi dia sangat senang mendapatkan perhatian dari Amar.


Nabil tersenyum senang lalu dengan reflek ia melingkarkan tangannya ke lengan Amar. "Terima kasih," ucapnya dengan tulus.


Tubuh Amar gemetar karena kulit Nabil menyentuh kulitnya. "Astaghfirullah, belum mahrom sayang," Amar pun melepas tangan Nabil yang melingkar di lengannya.


Nabil terkekeh geli melihat sikap Amar yang sok suci itu. "Maaf pak Ustadz," goda Nabil. Ia tahu kalau kasihnya itu memang menjaga jarak dari wanita yang belum menjadi mahromnya.


"Bagaimana kalau yang ini?" Nabil mengambil sebuah dress simpel yang berwarna putih.


"Tidak tangannya kependekan," protes Amar tidak setuju. Nabil terkekeh.


Lalu ia mengambil setelan yang lain. "Kalau yang ini?" Nabil mengambil setelan warna hitam.


"Warna lain lah sayang masak warna hitam yang lebih terang," protes Amar lagi membuat Nabil geram.


"Ya sudah aku tidak usah pakai baju," kata Nabil sambil mencebik kesal.


"Pakai yang ini saja ya?" Amar memberikan sebuah dress berwarna ungu muda berlengan panjang tapi dengan panjang dress sampai ke lutut.


"Kok ungu sih kaya janda tahu nggak?"


"Hussh jangan ngomong gitu. Aku nggak mau kamu jadi janda, kamu nggak nyumpahin aku mati duluan kan?" Goda Amar.


"Amar," rengek Nabil.


Amar terkekeh. "Aku hanya bercanda," kata Amar kemudian.


Kini giliran Agung dan Kristal yang berbelanja ke mall. "Kita udah keluar masuk butik berapa kali sayang? Aku udah capek," protes Agung pada Kristal.


"Ya sudah sana pulang! biar Ivan yang nemenin aku belanja," bohong Kristal.


"Siapa Ivan?" Tanya Agung dengan emosi yang meledak-ledak.


"Siapa dia kau tidak perlu tahu, yang penting dia pasti akan bersedia bola kusuruh menemani ku berbelanja," sindir Kristal.


"Baiklah, ayo lanjutkan sampai kau menemukan gaun yang kau inginkan, aku rela meski kakiku patah asal jangan Ivan yang menemanimu," kata Agung dengan tegas.


Kristal tersenyum samar. Ia tahu sangat mudah memanas-manasi Agung. Padahal tidak ada satu teman lelakinya yang bernama Ivan. Kristal hanya mengarang nama itu dan Agung berhasil dibohongi.


...***...


Acara pertunangan Andi pun segera dimulai. Andi dan keluarganya menuju ke rumah Ciara. Di rumah Ciara sudah ada Nabil dan Sandra yang menemani Ciara.


"Aku sangat tegang," kata Ciara.


"Padahal baru acara pertunangan tapi semewah ini ya," Nabil merasa kagum.


"Jangan tegang, belum nikah ini, belum ngerasain malam pertama," ledek Sandra mendapatkan cubitan dari Ciara.


"Keluarga laki-laki sudah datang," seru salah satu anggota keluarga Ciara.


Ciara diantar oleh Sandra dan Nabil keluar. Andi terpesona ketika melihat calon tunangannya. Begitu pula dengan Alex yang tak bisa melepas pandangannya dari Sandra. Amar jangan ditanya ia lebih banyak menunduk agar tidak zina mata katanya.


Acara itu berlangsung meriah. Terlebih saat Andi menyematkan cincin di jari manis Ciara. "Selamat ya kalian resmi bertunangan," kata pembawa acara yang bertugas memimpin acara malam itu.


Semua orang bersorak gembira dan memberikan tepuk tangan pada sepasang kekasih itu.


Alex mendekat ke arah Sandra. "Kamu mau nggak kaya mereka, pumpung ada orang tuaku nih?" Goda Alex.