My Beloved Partner

My Beloved Partner
127



"Oma?" Tanya wanita asing itu pada Celine dan Darren.


Darren pun mengaku. "Iya, ini cucu kami." Wanita itu menjadi tidak enak lalu pergi.


"Sepertinya kita masih bisa mempertimbangkan untuk memiliki satu momongan lagi mom," goda Darren pada istrinya.


"Daddy jangan becanda, mommy sudah tua sebentar lagi menopause."


"Justru itu mom, manfaatkan masa-masa sebelum menopause," imbuh suami Celine tersebut.


Celine menggelengkan kepalanya mendengar ocehan tidak jelas suaminya. "Oh iya dad, kita akan ketambahan anggota keluarga baru," lapor Celine pada Darren.


"Mommy hamil?" Pertanyaan suaminya itu membuat Celine sebal.


"Bukan mommy, tapi Raina," tukasnya.


"Benarkah? Apa Julian sudah tahu?"


"Belum dad, Raina baru akan memeriksakan diri ke dokter kandungan hari ini, ia ingin memastikan kebenarannya dulu tapi dia bilang sudah telat beberapa minggu terakhir."


"Aku harap dia membawa kabar baik untuk kita. Wah Sovia mau jadi kakak ya?" Darren mencubit gemas pipi cucunya.


Sovia balas mencubit Darren sehingga membuat opa dan omanya tertawa. "Makanya jangan ngajarin anak yang gak bener," ledek Celine.


...***...


Di klinik kandungan Raina sedang diperiksa oleh dokter. "Bagaimana, Dok?" Tanya Raina yang penasaran dengan hasilnya.


"Selamat ya, Bu. Anda positif hamil perkiraan usia kandungan sudah delapan minggu," jawab dokter kandungan itu.


Raina berucap syukur ketika mendengar jawaban dokter. "Terima kasih banyak, Dok," ucapnya dengan senang.


Setelah dokter memberikan resep vitamin yang harus diminum Raina pulang ke kediaman mertuanya. Ia tersenyum ketika melihat kembali selembar kertas yang berisi hasil tes kehamilannya.


Alhamdulillah Allah ngasih kepercayaan aku buat hamil lagi, kamu sehat-sehat ya di dalam perut," gumamnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Kita kemana, Bu?" Tanya sang sopir.


"Ke rumah ibu mertuaku ya, Pak," jawab Raina. Supir itu pun mengangguk paham.


...***...


"Kita pulang yuk sayang," ajak Celine pada cucunya. Ia pun menggendong Sovia.


"Biar opa aja yang gendong." Darren mengambil alih Sovia dari gendongan sang istri.


"Lho daddy tidak kembali ke kantor?" Tanya Celine.


"Kembali, daddy hanya mengantar kalian sampai parkiran. Daddy kasian kalau lihat mommy bawa yang berat-berat."


"Ihk daddy mah mentang-mentang mommy sudah tua," Celine merasa tersinggung.


Meskipun Darren merupakan tipe laki-laki yang selalu bersikap dingin dengan orang yang ditemui, tapi dia selalu bersikap hangat pada keluarganya. Tidak jarang ia sering becanda dengan anak-anaknya meskipun usia mereka tidak muda lagi. Apalagi dengan istrinya, sudah pasti ia akan selalu bersikap romantis layaknya pasangan muda lainnya.*


*Kisah Darren dan Celine bisa dibaca di novel aku yang kedua ya judulnya Mr. Palyboy. Isinya menceritakan kisah Darren yang rela menjadi seorang playboy untuk menemukan wanita yang ia maksud. Beberapa tahun kemudian mereka baru bertemu setelah Celine kembali ke Indonesia.


...***...


Raina lebih dulu sampai ke rumah mertuanya. Tak lama kemudian ia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Wanita cantik yang berhijab itu pun menghampirinya.


"Kalian darimana saja?" Tanya Raina pada ibu mertua dan putrinya setelah mereka membuka mobil.


"Habis jalan-jalan dong mommy," jawab Celine menirukan gaya bicara cucunya.


"Sovia beli apa itu?" Tanyanya lagi ketika melihat putrinya membawa mainan di tangannya.


"Ainan," jawab Sovia dengan bahasa yang kurang jelas.


"Bilang terima kasih sama oma!" Perintah Raina pada balitanya.


"Maacih oma," kata Sovia.


"Sama-sama sayangku," jawab Celine.


"Yuk masuk dulu!" ajak Celine pada keduanya.


"Bagaimana hasilnya, nak?" Celine tidak sabar menanti jawaban dari Raina.


"Positif, Mom. Aku hamil delapan minggu." Jawaban yang pastinya membuat Celine bahagia.


"Selamat ya, nak. Selamat ya cantik kamu akan jadi kakak nanti." Celine mencubit pipi gembul Sovia. Sovia membalas cubitan neneknya sehingga membuat Raina dan Celine terkekeh.


"Jangan gitu ya sayang," ucap Raina menasehati.


"Gak papa nak. Anak sekecil Sovia memang fasenya meniru." Mom Celine memberi tahu.


"Kamu sudah makan siang?" Tanya mom Celine pada menantunya.


"Belum mom, ya sudah mommy siapkan makanan buat kamu dulu ya."


"Eh nggak usah mom, aku makan di rumah saja," tolak Raina secara halus.


Raina dan anaknya pamit pulang. Sesampainya di rumah, Raina mendapati mobil suaminya sudah terparkir di depan rumah.


"Lho Mas Julian sudah pulang?" Tanya Raina pada suaminya yang tidur sembarangan di atas sofa ruang tamu.


Julian bangun. Wajahnya terlihat pucat. "Mas sakit?" Raina menyentuh kening suaminya. Julian mengangguk.


"Aku panggilkan dokter ya," Julian mengangguk lemah. Raina pun mengambil ponsel lalu menelepon dokter.


Setengah jam kemudian dokter keluarga mereka datang untuk memeriksa Julian. Julian menyampaikan keluhannya pada sang dokter. Dokter pun curiga.