
Pagi ini Jaden sudah siap ke kantor.Bia sedari tadi hanya mengacak-acak makanannya."Kamu kenapa sayang?" tanya Jaden seraya mengelus rambut Bia.
"Aku bosen di rumah,"kata Bia mencebik kesal.
"Mainlah ke rumah mama atau mommy!" kata Jaden memberi saran.
"Apa aku boleh kerja?" pinta Bia pada suaminya sambil memasang wajah puppy eyes.
"Tidak, kamu tidak boleh capek-capek," tolak Jaden.
"Aku hanya duduk di sana sambil mengawasi pekerjaan Keyla, aku janji tidak akan kecapekan," mohon Bia sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Jaden mendesah."Baiklah, tapi aku yang akan antar kamu, selain itu jangan naik turun tangga, jangan pakai hak tinggi," Jaden dengan segala larangannya.
"Baik paduka," kelakar Bia.
Akhirnya mau tak mau Jaden mengantarkan Bia ke kantor."Sayang kamu gak usah meeting di luar ya, pokoknya semua pekerjaan berat kamu alihkan ke Keyla," kata Jaden sambil melirik Keyla.
"Dih, gue dijadiin korban," batin Keyla.
Setelah itu Jaden pamit ke hotelnya.Lalu Bia pergi ke toilet.Seyelah itu dia berpapasan dengan Dani."Eh Bi kamu..." Dani kaget saat tahu Bia hamil.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Bia.Ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh mantan pacarnya itu.
"Pantas saja Jaden menyembunyikanmu aku kira kamu sakit parah sampai dia menggantikan posisimu," ucap Dani yang merasa lega.
"Ada apa ke sini?" tanya Bia.
"Aku hanya ingin menyerahkan berkas ini pada suamimu ternyata kau yang memimpin pagi ini, oh ya aku juga sedang menunggu seseorang," kata Dani.Bia mengerutkan keningnya.
Tak lama kemudian Ruby datang."Apa sudah lama menunggu?" tanya Ruby yang baru tiba.
"Kak Ruby? Kalian?" Bia memandang Dani lalu Ruby bergantian.
"Jangan salah paham, Pak Dani ini memperluas kerjasamanya dengan hotel daddy mu juga," terang Ruby.Bia manggut-manggut.
"Ya sudah aku pamit, semua berkas sudah aku tanda tangani lalu ku serahkan pada Keyla, nona Ruby apa kau mau aku antar?" Dani menawarkan tumpangan.
"Oh kebetulan sekali saya tidak membawa mobil," jawab Ruby.
"Sidah lama Bi," jawab Ruby.Bai beroh-oh ria.
...***...
"Kamu sudah siap?" tanya Dani saat sudah berada di depan kendali setir.Ruby mengangguk.
Dani tertarik dengan Ruby sejak pertemuan pertamanya dengan asisten Julian itu.Dani pun gencar mendekati Ruby dengan berbagai alasan. Secara perlahan Dani mulai melupakan Bia.Ia lebih fokus mengejar Ruby.
Awalnya Ruby adalah wanita yang sulit di dekati.Namun, pesona cassanova yang dimiliki Dani membuat Ruby akhirnya jatuh hati.
Wanita yang melajang cukup lama itu lama kelamaan luluh dengan rayuan Dani.Ruby tidak munafik ia juga membutuhkan seorang pasangan.
Padahal awalnya Jaden dan Julian hanya menjadikannya umpan agar Dani bisa melupakan Berlian.Itupun tanpa diketahui oleh Ruby.Namun, siapa sangka Dani benar-benar masuk perangkap.
Dani melajukan mobilnya pelan.Ia tak rela kalau cepat-cepat berpisah dengan kekasih barunya.
Sepanjang jalan ia habiskan untuk mengobrol dengan berbagai macam cerita.Ruby yang biasanya pendiam saat berada di dekat Julian sekarang menjadi sanagt cerewet saat berada di depan kekasihnya, Dani.
"Aku turun dulu ya," Ruby mencium bibir Dani singkat.Dani mengangguk."Apa nanti pas pulang mau aku jemput sekalian makan malam," kata laki-laki itu.
"Tidak aku belum tahu kapan akan pulang hari ini adalah akhir bulan biasanya kami harus mengecek banyak laporan," tolak Ruby.
Jaden dan Julian yang baru saja keluar dari lobi tak sengaja melihat Ruby turundari mobil seseorang.
"Kau tahu siapa laki-laki yang mengantar Ruby?" tanya Jaden pada kakaknya.
"Dani," jawab Julian.
"Oh my dad, sejak kapan mereka dekat, aku tidak menyangka Dani benar-benar masuk perangkap," kata Jaden kemudian tertawa lantang.
"Kami di sini?" tanya Ruby pada Jaden.
"Ya aku kasian dengan abangku dia ditinggal sekertarisnya jadi aku menemaninya pagi ini," sindir Jaden.
"Enak saja kau, aku pergi juga atas perintah kakakmu," kata Ruby membela diri.
"Baiklah baiklah, tapi aku penasaran siapa yang mengantarmu tadi? sepertinya aku mengenal mobil itu," selidik Jaden.