
"Jadi kalian beri nama siapa cucuku ini?" tanya mama Ara pada Bia dan Jaden.
"Kami sepakat menamainya Diamond Alexander," jawab Jaden.
"Nama yang bagus," puji Dad Darren.
"Oh iya Bi papa sudah kabari keluarga kita yang ada di Jerman mungkin dalam waktu beberapa hari mereka akan datang ke sini," kata Rasya.
"Oh ya? Bagaimana kalau sekalian kita dakam acara syukuran ketika mereka sampai," usul mama Ara.
...***...
"Selamat siang," sapa Keyla yang baru sampai. Ia datang bersama kekasihnya Bagus.
"Eh calon pengantin dateng," ledek Bia. Keyla menjadi tersipu malu.
"Om tante." Keyla menyalami semua irang yang ada di sana.
"Ponakan gue cowok ya Bi?" tanya Keyla antusias. Bia mengangguk cepat.
"Kamu mau gendong Key?" tanya mama Ara.
"Gak tante, saya gak berani," tolak Keyla.
"Eh itung-itung kamu belajar jadi ibu Key," ledek mom Celine. Semua orang jadi tertawa mendengarnya.
...***...
Dua hari kemudian Bia dan bayinya diperbolehkan pulang. "Sementara mama tidur di sini ya nemenin kalian," mama Ara menawarkan diri. Mereka sudah sampai di rumah Jaden. Mama Ara ikut mengantarkan putrinya sampai ke rumah sambil menggendong cucu barunya.
"Gak kasian sama papa tidur sendirian di rumah ma?" tanya Bia saat sedang di mobil.
"Mama udah izin sama papa, kamu tenang aja, nanti mama juga gantian sama mommy kalian," ungkap mama Ara.
Bia tidak bisa melarang ibunya itu tinggal. Bagaimanapun ia belum berpengalaman menjadi ibu. Alangkah senangnya jika mamanya mau membantu mengurus anaknya sampai ia benar-benar siap.
Setelah sampai di rumah, mama Ara dan yang lainnya menuju ke kamar bayi yang sudah disiapkan oleh Jaden untuk putranya.
Bia terperangah, "Kapan kamu menyiapkan ini?" tanyanya pada sang suami.
Jaden menarik pinggang istrinya dengan posesif. "Saat kamu berada di rumah sakit sayang, bagaimana sayang apa kamu suka?" Tanya Jaden pada istri tercintanya. Bia mengangguk.
"Mama boleh tidurin anak kalian gak nih? Jangan menghalangi jalan," sindir mam Ara. Bia dan Jaden tertawa malu karena lagi-lagi tidak memperhatikan sekitar.
Setelah mama Ara meletakkan bayi kecil itu, Jaden meminta mama Ara beristirahat di ruang tamu. "Kamu juga istirahat sayang," pinta Jaden pada istrinya.
"Iya, aku tidur di dekat Alex saja," kata Bia.
"Iya, kalau mau panggil Diamond itu kesannya berlebihan, jadi panggil Alex aja, setuju?" Tanya Bia meminta pendapat suaminya.
"Setuju," balas Jaden.
"Tidurlah! Kamu masih dalam masa pemulihan," kata Jaden. Ia membantu istrinya itu duduk di tepi ranjang. Lalu Jaden merebahkan tubuh istrinya dan menyelimuti Bia. Terakhir dia mengecup kening Bia dalam. "Aku keluar dulu, istirahat ya sayang."
...***...
Di tempat lain Keyla dan Bagus sedang berdiskusi masalah perusahaan. "Aku harap kak Jaden segera kembali ke kantor, kepalaku pusing kalau harus menghandle pekerjaan Bia," keluh Keyla.
"Jangan mengeluh sayang, semangat ya aku bantu ngerjain kalau aku sudah selesai," kata Bagus sambil mengacak rambut calon istrinya itu.
"Mas Bagus memang the best," puji Keyla pada calon suaminya.
"Jadi dipuji doang?" goda Bagus.
"Terus maunya apaan?" Tanya Keyla polos.
Bagus mengetuk pipinya dengan jari telunjuknya. Hal itu membuat wajah Keyla tersipu malu. "Tapi ini kan di kantor," protes Keyla.
Bagus menutup tirai dan mengunci pintu ruangannya. Lalu ia berjalan mendekat ke arah Keyla. Tanpa aba-aba Bagus menarik pinggang kekasihnya. Keyla tersentak kaget. Bagus mendaratkan ciumannya di bibir Keyla dengan lembut. Keyla pun membalas. Keduanya semakin terbuai dan memperdalam ciuman mereka.
Tangan Bagus sudah merayap kemana-mana. Tubuh Keyla meremang. Namun, Keyla terengah-engah saat kekurangan oksigen kemudian ia memukul bahu Bagus. Laki-laki itu pun mengerti dan melwpas pagutannya.
"Mas Bagus jangan gitu ah, tahan sebentar ya setelah kita nikah."
"Kita kawin duluan aja di sini, nikahnya setelah kita kawin," goda Bagus.
Keyla menutup mulutnya tak percaya calon suaminya bisa semesum itu. "Jangan mas, papa bisa membunuhku." Keyla merasa kerakutan.
Bagus terkekeh geli melihat ekspresi wajah calon istrinya itu. "Kamu ini menggemaskan aku makin cinta sama kamu." Bagus mengacak rambut Keyla karena gemas.
...***...
"Kenapa ruangannya dikunci segala sih?" gumam Didu yang akan menyerahkan berkas dari Rasya untuk kantor Bia.
Ayah Keyla itu pun mengetuk pintu ruang kerja Keyla. Bagus dan Keyla menoleh. "Mas ada yang datang," kata Keyla.
Bagus berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Dia terkejut saat melihat calon ayah mertuanya itu sudah berada di belakang pintu.
"Kalian ngapain aja di dalam? Kenapa pintunya dikunci segala?" sungut Didu yang kesal saat mendapati orang yang membukakan pintu ruangan anaknya adalah seorang laki-laki.
Bagus merasa panik pasalnya ia takut ayah mertuanya curiga padanya. Keyla mendekat dan berusaha menengahi. "Kami hanya tidak mau diganggu selama bekerja pa," bohong Keyla.
Didu memberikan tatapan tajam pada Bagus. "Aku harap kalian tidak berbohong."