My Beloved Partner

My Beloved Partner
148



"Dasar gombal," cibir Sandra. Alex menarik ujung bibirnya.


"Lex," panggil seorang wanita berhijab yang sangat cantik.


"Di sini juga?" Tanya Alex. Sandra mengerutkan keningnya. Sepertinya mereka akrab, pikir Sandra.


"Sama siapa Lex?" Tanya Sovia.


"Dia..." belum sempat Alex memperkenalkan Sandra pada Sovia, Sandra malah pamit.


"Maaf, gue pulang duluan Lex, udah sore gue takut dicariin sama nyokap," kata Sandra beralasan.


"Gue anter,"kata Alex sambil menarik tangan Sandra. Sandra menepis tangan pemuda itu. "Nggak usah, gue naik taksi online," tolak Sandra.


Alex terpaksa mengizinkan Sandra pulang sendirian. "Cemburu tuh kayaknya sama gue," ledek Sovia.


"Bagus dong," timpal Alex. Sovia mengerutkan keningnya. "Berarti gue nggak bertepuk sebelah tangan," imbuh pemuda itu sambil menarik ujung bibirnya.


Sandra pulang naik ojek online seperti biasa. "Gila si Alex, playboy emang tu bocah, seenak jidatnya nebak gue, padahal udah punya cewek" gerutu Sandra yang sedang membonceng kang ojol.


"Pacarnya selingkuh neng?" sahut kang ojol.


"Eh, apaan sih bang, enggak kali, saya nggak punya pacar," elak Sandra.


Tak lama kemudian Sandra tiba di depan rumahnya. "Makasih bang," ucap Sandra sambil memberikan uang untuk membayar jasa kang ojol tersebut.


"Neng, kalau butuh pacar saya mau jadi pacarnya," goda kang ojol tersebut sambil terkekeh.


"Ya ampun si abang inget anak istri di rumah," sindir Sandra sambil menggelengkan kepalanya.


Sandra pun masuk ke dalam rumah. Ia terkejut saat sang ayah sudah ada di ruang tamu sedang membaca koran. "Tumben Pa udah pulang jam segini?" Tanya Sandra.


"Owh, papa sudah tidak ada pekerjaan di kantor jadi papa pikir bisa menemani kamu di rumah. Pulangnya naik apa tadi?" Tanya Vero pada putrinya itu.


"Naik ojek seperti biasa," jawab Sandra dengan santai.


"Besok papa cariin supir aja ya buat kamu," tawar Vero. Ia sangat peduli pada putrinya itu. Ia tak ingin putrinya berpanas-panasan ketika di jalan. Padahal mereka tergolong keluarga mampu. Mampu membeli mobil bahkan menyewa supir sekalipun. Namun, Chloe sering melarang suaminya memanjakan Sandra. Padahal kebanyakan keluarga kaya memperlakukan putri mereka layaknya putri raja sungguhan.


Sandra menuju ke kamarnya untuk ganti baju. Tapi matanya seakan susah diajak kompromi jadi ia ketiduran di atas kasur tanpa mengganti seragamnya terlebih dulu.


Chloe mengecek kamar Sandra. Ia geram saat melihat putrinya itu yang bermalas-malasan. "Bangun!" Chloe menarik tangan Sandra. Sandra jad tersentak kaget. "Maaf, Ma," kata Sandra sedikit takut.


"Anak cewek jam segini kok belum mandi, dasar pemalas," sungut Chloe.


Vero yang mendengar anaknya dimarahi oleh sang istri langsung menuju kamar Sandra. "Ada apa ini?" Tanya Vero.


"Anak kamu nih belum mandi jam segini," teriak Chloe.


"Kamu terlalu memanjakan anak ini," kata Chloe tak terima.


Sandra ketakutan saat orang tua mereka bertengkar. "Tidak usah menangis, aku tahu kamu hanya berpura-pura," kata Chloe dengan pedas.


"Sebenarnya apa masalahmu, kenapa kamu selalu memarahi Sandra dengan alasan yang tidak jelas seperti ini? Dia itu anak kamu," kata Vero memberi pengertian pada istrinya.


Sandra memilih keluar dari rumah untuk menangkan diri. Ia menangis di pinggir jalan malam-malam.


Sandra masih mengenakan seragam sekolahnya. Tiba-tiba di jalan dua orang asing menggodanya. "Malam-malam gini mau kemana Neng?" Tanya salah seorang di antaranya.


Sandra tak menjawab. Ia ingin berlari tapi jalannya dihadang. Lalu ia memutar untuk kembai ke rumah tapi jalannya juga terhalang oleh orang asing tersebut.


"Minggir, atau aku teriak," ancam Sandra.


Mereka malah tertawa mendengar ancaman dari Sandra. Sandra nekat berlari tapi dua orang itu memegangi lengannya. "Lepasin be*go," umpat Sandra.


Salah seorang yang memegangnya mendorong Sandra hingga terjatuh. Sandra tersungkur ke belakang.


Bug


Seseorang menendang salah seorang di antara laki-laki asing itu dengan kakinya. Kedua laki-laki itu berniat melecehkan Sandra. Alex yang saat itu melihatnya jadi geram. Ia pun turun dari motornya lalu mengangkat kaki untuk menendangnya.


"Breng*sek kalian," teriak Alex yang masih mengenakan helm full face di kepalanya.


Sandra menyingkir sementara. Ia melihat ketiga laki-laki itu bertarung. "Alex ternyata jago beladiri juga," gumam Sandra di balik pohon. Ia mengawasi kalau-kalau Alex kenapa-kenapa. Ia ingin merogoh ponselnya di dalam saku, tapi ternyata tidak ada. "Duh, nggak bawa handphone." Sandra merutuki kebodohannya.


Alex meninju muka salah satu laki-laki breng*sek yang mencoba melecehkan Sandra. Lalu meninju satunya lagi. Keduanya mundur ke belakang tapi mereka tidak menyerah. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan pisau.


Ia mengarahkan pisau itu ke Alex. Alex menangkap tangannya dan mematahkan hingga pisaunya terjatuh. Lalu ia menarik tangan yang masih ia pegang kemudian ia menyikut bagian dada pria breng*sek itu.


Pria itu meringis kesakitan dibuatnya. Salah seorang lagi ketakutan. Jadi ia memilih untuk membantu temannya bangun lalu kabur dari hadapan Alex. Alex semakin menggertak mereka. Keduanya pun lari terbirit-birit.


Alex berjalan ke arah Sandra. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Alex yang telah membuka helm fullfacenya.


Sandra tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya. Alex menjadi bingung. Ia pikir mungkin Sandra ketakutan jadi Alex memeluknya untuk menenangkan Sandra.


...❤️❤️❤️...


Netizen : Yaelah, Pelukan mulu thor?


Othor : Malam-malam Sandra nggak bawa jaket keles


Netizen : Bilang aja othor yang pengen


Othor : Tau aja kang komen 😂