
"Gak mungkin, ini pasti salah," Raina seolah tak terima kalau dirinya hamil.
Namun sesaat kemudian ia terduduk di lantai.Ia sadar mengelak pun tidak bisa. Nasi sudah menjadi bubur. "Bagaimana ini?" lirih Raina sambil terisak.
Raina hanya bisa pasrah menjalani kehidupannya.Mau bagaimanapun ia tidak bisa menutupi kehamilannya itu.Meski perutnya kian harii kian membesar, wanita itu tak berniat menggugurkan kandungannya.
Suatu hari ketika Raina sedang menitipkan kue buatannya di warung langganan, seorang ibu-ibu membicarakan Raina.
"Gila ya, cantik-cantik bunting tanpa suami,"
"Cih, jangan salah jeng, yang cantik biasanya sering goda laki orang," yang lain menimpali.
Raina mengambil nafasnya panjang. Ia berusaha tenang agar tak termakan omongan ibu-ibu yang suka ghibah tersebut.
"Permisi ibu, saya numpang lewat," ucap Raina sambil tersenyum. Tak sedikitpun wajahnya menunjukkan kekesalan.
Sesampainya di rumah Raina menutup pintu dan mulai terisak. Walau bagaimanapun ia bukan patung. Ia hanya wanita biasa yang punya perasaan. Tega sekali mereka omong seenaknya padahal mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Tubuhnya merosot dan air mata yang sengaja ia tahan tadi akhirnya bisa tertumpahkan. Ia menangisi nasib buruknya. "Maafkan ibu nak, membuatmu selalu stress seperti ini," ucap Raina di tengah tangisannya seraya memegang perut.
Sore harinya Raina menjenguk nek Mia. Saat ia mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam rumah. Kemudian Raina mencoba membuka pintu rumah itu. "Nek, apa nenek di rumah?" teriak Raina.
Raina memberanikan diri berjalan hingga ke ruang makan. Ternyata nek Mia sudah tergeletak di bawah meja makan. Raina kaget, ia pun segera menghampiri nek Mia.
"Nenek apa yang terjadi?" Raina menggoyang tubuhnya tapi tidak ada reaksi.
Kemudian Raina keluar rumah lalu ia memanggil orang yang lewat di depan rumah nek Mia. "Tolong pak tolong nek Mia," pinta Raina.
Dua orang laki-laki yang ia mintai tolong masuk ke dalam rumah besar itu kemudian mengangkat nek Mia dan membawanya ke rumah sakit.
Beberapa dari ibu-ibu yang menyaksikan kejadian itu menggunjing di belakang Raina. Meski pelan wanita yang sedang hamil itu mendengarnya dengan jelas.
"Dasar gak tahu diri, udah sering ditolong bu Mia sekarang malah mencelakainya,"
"Maksdunya gimana jeng?" tanya salah seorang teman ibu-ibu itu.
"Ya jelaslah jeng dia yang mencelakai orang dia mau ngambil hartanya," kerumunan ibu-ibu itu pun semakin riuh membicarakan Raina. Raina tak ambil pusing. Yang ia pikirkan sekarang adalah menelpon keluarga nek Mia.
Ia pun mencari nomor telepon di handphone yang ditinggalkan nenek tua itu di dalam kamar.Karena ia tidak mengunci pintu rumah nek Mia dua orang wanita yang lebih tua darinya ikut masuk ke dalam kamar nek Mia.
"Heh kamu mau nyuri hp nya ya," teriak seorang wanita yang sedang berada di ambang pintu.
Saat itu posisi Raina sedang memegang hp nek Mia untuk mencari nama anaknya.Namun sayang orang lain salah sangka dengannya. Niat tulusnya untuk menolong tak berjalan mulus.
"Aw sakit bu lepaskan saya mohon," ibu-ibu berbadan gempal itu menjambak rambut Raina hingga ia mengaduh kesakitan.
"Keluar kamu dari sini," usir ibu itu.
"Baik bu, tapi izinkan saya menghubungi keluarga beliau, bukankah lebih baik kalau nek Mia ada yang menjaga," Raina berbicara dengan sopan meskipun wanita tadi telah memperlakukan dirinya kurang baik.
Akhirnya mereka mengizinkan Raina menghubungi pihak keluarga nek Mia. Raina menelpon di depan semua orang yang berada di sana.
"Hallo, apa benar ini dengan nyonya Mutiara anak dari nek Mia?" tanya Raina.
"Ya betul, anda siapa? kenapa menelpon dsri handphone ibu saya?" tanya mom Ara panik.
"Oh baiklah, kami akan ke sana, terima kasih sudah mengabari kami," ucap mam Ara kemudian memutus sambungan teleponnya.
"Sudah bu," Raina memberi laporan pada orang-orang yang ada di hadapannya kalau dirinya sudah mengabari keluarga nek Mia.
"Ya sudah ayo kita keluar," ajak salah seorang kemudian mengunci pintu rumah nek Mia.
"Pak tolong kuncinya nanti jangan lupa dikasihkan ke pihak keluarganya," pesan Raina pada lelaki yang mengunci pintu rumah tersebut.
"Baik mbak,"
Setelah itu mom Ara menyampaikan niatnya untuk mengunjungi sang ibu sayangnya Rasya tidak bisa ikut karena harus keluar kota. Oleh karena itu mam Ara meminta Jaden mengantarnya ke Sukabumi.
"Bia boleh ikut ma?" tanya Berlian pada ibunya.
"Tentu saja, tapi nanti di sana kamu tidak usah ikut menginap, kalian lamgsung pulang saja setelah mengantar mama," pesan mama Ara pada putri kesayangannya.
"Baik ma," jawab Ara.
Setelah menempuh perjalanan selama lima jam mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Mama Ara, Jaden dan Berlian menuju ke resepsionis untuk menanyakan tempat bu Mia dirawat.
Saat itu, Raina mendengar nama bu Mia disebut sehingga ia mendekat ke arah mama Ara."Maaf apa anda keluarga nek Mia?" tanya Raina.
Deg
"Dia??" Raina kaget melihat wajah yang sangat ia ingat. Wajah laki-laki yang telah merenggut kesuciannya.
Raina mengepalkan tangan. Ia mencoba menahan air mata yang ingin keluar dari matanya. Ia yakin laki-laki itu tidak mengingat wajahnya. Raina berusaha tenang. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Mari saya antar," ucap Raina dengan nada bergetar.
"Maaf kamu siapa?" tanya Berlian.
Raina menoleh. "Saya Raina, tetangga nek Mia," ucapnya lalu melenggang ke ruangan bu Mia.
"Terima kasih sudah mengantar saya nak," ucap mam Ara dengan tulus. Raina mengingatkan pada Berlian ketika sedang hamil.
"Saya pulang dulu," pamit Raina.
"Dia benar-benar tidak mengingatku," saking stressnya Raina memikirkan hal itu perutnya berkontraksi.
"Aw..." Raina memegang perutnya yang sakit.
Melihat seseorang menjerit Jaden dan Berlian termasuk mam Ara menoleh. Mereka berlari ke arah Raina. Perawat lainnya juga segera menghampiri Raina yang sudah terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit.
Dengan sigap Jaden mengangkat tubuh Raina kemudian diletakkan di atas brankar. Saat itu Berlian menangkap sesuatu yang berbeda dari tatapan Raina terhadap suaminya.
"Nak dimana suamimu kami akan menghubunginya," tanya mama Ara sambil memegang tangan Raina. Raina menggeleng. Ia menangis. Mama Ara hanya bisa melihat wanita itu dibawa masuk oleh perawat.
Saat di ruang bersalin, perawat menanyakan keluarga yang bisa dihubungi pada Raina. Tapi wanita yang sedang diambang melahirkan itu menjawab tidak memiliki keluarga sama sekali. Pihak rumah sakit jadi bingung. Mendengar itu mama Ara tidak tinggal diam. Ia membiayai proses kelahiran anak Raina. Entah dorongan darimana mam Ara yakin Raina adalah wanita yang baik karena telah menolong ibunya.
...❤️❤️❤️...
Mohon dukungan kakak-kakak sekalian dengan kasih vote, gift dan koment.