My Beloved Partner

My Beloved Partner
64



Saat ini Berlian berada di ruangannya sedang menunggu klien yang akan bekerja sama dengannya. "Key elo udah cek kan nama orang yang mau kerja sama bareng kita?" tanya Bia memastikan kerja asistennya.


Keyla mengambil berkas yang berisi profil pengusaha tersebut. "Udah, namanya Pratama Wijaya," kata Keyla.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar membuat keduanya menoleh. Seseorang menyembul dari balik pintu."Bu Berlian, tuan Pratama Wijaya sudah datang," kata salah seorang pegawai Bia di kantor.


"Persilahkan masuk," titah Bia pada pegawainya.


Dua orang laki-laki memakai jas rapi memasuki ruangan Berlian."Selamat sore nona Berlian," sapa Pratama Wijaya.


Bia yang sedang berdiskusi dengan Keyla pun menoleh ke sumber suara. "Dani?" batin Bia.


Bia kaget pasalnya ia tidak mengundang mantan pacarnya itu ke kantor. "Key kok bisa sih?" bisik Bia ke telinga Keyla.


Keyla agak menunduk."Gue gak tahu Bi, beneran," Keyla bersumpah seraya membentuk jarinya bentuk huruf V.


"Kalau gue tahu Pratama Wijaya itu mantan lo alias si Dani gue gak akan mau kerja sama bareng dia." Keyla membela diri. Kemudian kembali berdiri tegak di samping sahabat sekaligus atasannya itu.


Ehem


Dani berdehem untuk memberi tahu keberadaannya. Bia dan Keyla pun menoleh. "Maaf tuan Dani, ups maksud saya tuan Pratama Wijaya silahkan duduk," Bia mempersilahkan Dani dan asistennya duduk. Wanita itu mencoba bersikap profesional.


"Santai aja Bi, bukankah kita teman?" ucap Dani dengan santainya.


Bia memutar bola matanya jengah. "Cih, temenan sama lo, gak banget," batin Bia.


Bia duduk di hadapan Dani. "Kita langsung saja ke inti pembahasan," sahut Bia. Ia ingin kerjasama dengan Dani cepat selesai.


Dani mencondongkan badannya."Oke,Perlu kamu tahu di sini saya tidak menanam modal tapi saya mengajak kamu barter," kata Dani.


Dani kembali tegak. "Karena perusahaan saya bergerak dalam bidang travel saya ingin perusahaan kamu yang menyediakan jasa angkutnya," imbuh Dani.


Bia berfikir sejenak. Ia tampak berbisik dengan Keyla sebelum mengambil keputusan. "Tentu kami siap untuk itu," jawab Bia yakin.


Dani tersenyum mendengar jawaban mantan kekasihnya itu. "Sementara pembicaraan kita sampai di sini saja, asisten saya akan mengatur kontrak kerjasama antara kita." Dani berdiri lalu mengulurkan tangan. Bia mengerutkan keningnya.


Dani kembali menggoyangkan telapak tangan agar Bia menerima uluran tangannya. Akhirnya Bia berdiri dan mau berjabat tangan dengan Dani meski dia merasa risih.


Laki-laki itu tampak senang saat Bia membalas uluran tangannya. "Aku harap ini awal yang baik untuk hubungan kita," ucap Dani sebelum pergi.


Bia menghentakkan kaki lalu meremas udara setelah memastikan mantan kekasihnya itu keluar dari ruangannya.Ia merasa sangat kesal. Sedangkan Keyla bernafas lega setelah urusan dengan Dani selesai.


"Gila gue sampai tahan nafas saking tegangnya," seloroh Keyla.


"Kenapa elo terima Bi padahal elo benci banget sama tuh orang?" tanya Keyla penasaran.


"Gue cuma lihat peluang bagus aja, yang penting cuan bosque," Bia menirukan jargon salah satu acara televisi sambil menggesek ibu jari dan telunjuknya.


"Ah dasar mata duitan lo," umpat Keyla.


Bia menatap asistennya dengan tatapan yang sangat tajam. "Gaji lo gue potong 10% bulan ini," ancam Bia lalu berjalan dengan santainya.


Tin tin


Suara klakson mobil Jaden menghentikan percakapan di antara keduanya.


"Gue balik dulu ya Key, kak Jaden udah jemput nih." Bia melambaikan tangan.


"Yagh nasib gue gimana dong nih?" Keyla menghentakkan kakinya karena kesal. Ia hanya bisa memandangi kepergian Berlian dengan frustasi.


"Pas banget padahal aku belum kasih kabar," kata Bia senang mendapat jemputan dari suaminya.


"Aku gitu loh, sebenernya mommy minta aku beli perlengkapan bayi Yang, tapi aku gak ngerti temenin yuk," ucap Jaden pada istrinya


"Assiap bos, berangkat bang," Bia menirukan omongan penumpang yang akan berangkat menaiki ojek.


"Yagh dikira lagi naik ojek," Bia terkekeh.


Sesampainya di sebuah toko perlengkapan bayi. Bia turun lebih dulu dibanding suaminya. Jaden hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang begitu antusias berbelanja kebutuhan bayi.


Ya setahun lalu saat dirinya akan melahirkan seorang bayi Berlian sangat antusias memilih keperluan bayi untuk persiapan kelahiran anaknya. Sayangnya barang-barang yang ia beli hanya bisa ia simpan karena anak yang ia lahirkan meninggal setelah Berlian mengalami kecelakaan karena terpeleset saat menaiki tangga.


Saat itu perutnya mendapat benturan yang keras saat terjatuh hingga ia mengalami pendarahan. Beruntung saat itu nyawanya masih tertolong meskipun anak yang ia kandung akhirnya meninggal setelah dilahirkan.


Saat itu Bia sangat terpuruk, tapi Jaden malah meninggalkan dirinya. Pernikahan keduanya hampir saja kandas. Namun Berlian memilih memaafkan suaminya. Kini Berlian berkesempatan memilih perlengkapan bayi untuk anak Julian dan Raina. Wanita itu tidak melewatkan kesempatan yang ada hampir saja seluruh pakaian bayi di toko itu diborong oleh Bia kalau saja Jaden tidak mengingatkan untuk membeli seperlunya aja.


"Ih cantik-cantik banget bajunya, ini nih lihat deh kak ada rumbai-rumbainya gitu, gemes deh," kata Bia memperlihatkan satu stel baju bayi perempuan yang sedang ia pegang.


"Warnanya kok pink semua sih Yang?" tanya Jaden.


Bia memicingkan mata ke arah suaminya. "Yagh namanya juga anak cewek, ya harus pakai warna yang girly gitu masak iya warna hitam," jawab Bia agak nyolot.


"Ya kan bisa pilih warna lain," Jaden memberi pendapat. Ia tampak memilah satu baju lalu ia tunjukkan pada istrinya. "Ini juga bagus kan? ada gambar kelincinya," kata Jaden seraya melebarkan baju yang ia pegang.


Bia menoleh ke arah suaminya."Itu masih kebesaran, anaknya bang Jul kan masih newborn masak dipakein pakaian segede itu, kak Jaden bantu doa aja, biar aku yang milih," ledek Bia. Jaden tampak menggerutu.


Setelah satu jam berbelanja di toko bayi. Jaden dan Bia akhirnya sampai di rumah mereka. Jaden tampak kewalahan membawa barang belanjaan yang baru saja diambil dari bagasi mobilnya.


"Gila cewek tuh seneng banget kalau nyiksa cowok kaya gini, dikira gue kacungnya apa," gerutu Jaden dengan pelan tapi terdengar di telinga Bia meski samar-samar.


Bia menghentikan langkahnya. Tangannya bersidekap dan memicingkan matanya.


"Kamu gak ikhlas ya nganter belanja?" tanya Bia pada suaminya.


Jaden kaget melihat istrinya yang tiba-tiba berhenti di depannya sehingga barang bawaannya terjatuh. "Ikhlas dong Yang masak gak ikhlas sih?" jawab Jaden dengan senyum yang dipaksakan.


"Mommy," teriak Bia saat masuk ke dalam rumah mertuanya.


...💓💓💓...


Hallo aku udah up ya, aku usahakan up tiap hari tapi riview kadang lama banget jadi yang sabar ya.


Typo udah aku perbaiki jadi minta dukungannya ya