My Beloved Partner

My Beloved Partner
180



"Bodoh kerja gitu saja tidak becus," geram Dewi ketika melihat berita tentang kecelakaan yang dialami Agung.


Ia menyadari kalau mobil yang dibawa Agung itu adalah mobil Sandra. "Gagal rencanaku buat jauhin dia dari Alex."


Ketika berada di kampus, Dewi memandang muak pada Sandra yang semakin hari semakin menempel pada Alex. "Cih, dasar wanita sialan, jangan panggil aku Dewi kalau aku tidak bisa melenyapkanmu," gumam Dewi menatap tajam pada Sandra.


Nabil tak sengaja melihat Dewi menatap Sandra dengan tatapan yang tak biasa. "Bil," panggil Amar.


Nabil menjadi kaget. "Eh, udah selesai kuliahnya?" Tanya Nabil.


"Udah. Elo jadi ikut kita jenguk Agung?" Tanya Amar.


"Iya, tapi aku nebeng kamu ya," kata Nabil.


"Naik motor nggak apa kan?" Tanya Amar karena sejujurnya dia tidak memiliki mobil seperti yang lainnya.


"Nggak papa, lagian aku juga nggak biasa naik mobil," gurau Nabil karena dia juga sama seperti Amar yang bukan dari keluarga kaya seperti Sandra ataupun Ciara.


"Yuk jalan," Amar memberikan helm pada Nabil.


"Kok kamu punya dua helm?" Tanya Nabil sambil memasang helm di kepalanya.


"Aku sengaja bawa dua pas kamu bilang mau ikut jenguk Agung," ucapan Amar membuat Nabil tersipu malu.


"Berangkat sekarang?" Tanya Amar ketika Nabil sudah naik ke atas motor matic miliknya. Nabil mengangguk.


Sesampainya di rumah sakit, Agung dan Nabil melihat orang tua Alex berada di sana.


"Om, tante sudah lama?" Tanya Amar.


"Baru saja, kamu sama siapa?" Tanya Bia pada Amar.


"Oh ini Nabil teman satu kosnya Sandra dulu, teman satu fakultas juga sama Alex," jawab Amar.


"Berlian, mamanya Alex," Bia mengulurkan tangannya.


Nabil sempat kagum melihat mamanya Alex yang begitu cantik. Tangannya juga sangat halus saat Nabil menjabat tangannya. "Nabil tante," balas Nabil dengan sopan.


"Ini papanya Alex," tunjuk Bia. Nabil mengangguk sopan pada Jaden.


"Alex nggak ikut tante?" Tanya Amar.


"Nggak, kirain sama kamu," jawab Bia.


"Oh, kami masuk dulu tante," pamit Amar.


Ketika masuk ke dalam ruangan Agung, Amar dan Nabil melihat Kristal sedang menyuapi buah ke mulut Agung. "Udah Yang, cukup!" Kata Agung karena Kristal terus menjejali mulutnya.


"Kesempatan dalam kesempitan lo," ledek Amar yang baru masuk.


"Nih kita bawain buah dikit nggak apa ya Gung," kata Nabil.


"Nggak apa-apa Bil, gue udah kenyang makan buah, tuh dibawain ayang banyak banget," balas Agung.


"Orang tua lo nggak marah dek kalau lihat kalian berduaan di ruangan kayak gini?" Tanya Amar pada Kristal.


"Nggak dong Bang. Aku sama Mas Agung kan udah main dari kecil jadi mereka ngerti," jawab Kristal dengan santai.


"Kalian nggak bareng Abangku?" Tanya Kristal.


"Nggak, palingan lagi sama Sandra dia," jawab Amar.


"By the way gimana ceritanya bro kaki lo bisa sampai diperban kek gitu?"


"Nggak tahu rem mobil Sandra tiba-tiba blong pas gue kendarai," jawab Agung.


"Kok bisa padahal mobilnya Sandra kan baru, terus nasib mobilnya gimana?" Tanya Amar.


Amar terkekeh. "Bukan gitu gue sayang aja mobil baru udah lo rusakin gitu aja, Sandra minta lo ganti rugi nggak?" gurau Amar lalu Agung melempar bantal ke arah Amar.


"Sialan lo nyet," umpat Agung.


...***...


Di tempat lain Alex sedang berada di tempat lain. Ia menangkap kecurigaan tentang kecelakaan yang menimpa Agung karena ia berpikir itu ada kaitannya dengan Sandra.


Alex mencoba mengingat-ingat kembali siapa saja yang membuat masalah akhir-akhir ini dengan Sandra. "Dewi, apa mungkin dia?"


"Sayang, apa kamu ingat sesuatu yang janggal sebelum kejadian yang menimpa kamu dengan Nabil sepulang dari rumahku?"


"Memangnya ada apa Lex?"


"Aku rasa ada yang berniat jahat padamu. Tapi ini baru dugaanku saja. Aku curiga rem mobilmu ada yang mengotak-atik."


"Aku tidak tahu, aku tidak pernah punya musuh." Sandra terlihat sendu. Apalagi kalau mengingat pelecehan yang hampir saja merenggut kesuciannya.


"Maafkan aku sayang aku tahu kamu masih trauma mengingat kejadian malam itu," Alex memeluk Sandra agar gadisnya itu lebih tenang.


"Oh iya aku ingat, aku memesan dengan akun Nabil tapi kenapa dia bisa tahu namaku. Aku tidak sadar kalau driver gadungan itu menyebut namaku. Aku lupa kalau kalau aku memesan atas nama Nabil bukan Sandra."


Alex semakin yakin kalau ada seseorang dibalik kejadian yang menimpa Sandra dan sahabatnya Agung.


Lalu Alex pun mendatangi kantor polisi. Ia ingin bertemu dengan laki-laki yang pada malam itu berusaha mencelakai Sandra.


"Katakan padaku apa kalian diperintah oleh seseorang untuk mencelakai Sandra?" Tanya Alex.


Tanpa ada yang tahu Alex menyalakan perekam suara di handphone nya diam-diam.


"Apa yang kau katakan? Tida ada yang memerintah kami," elak laki-laki bertato itu.


"Lalu kenapa kalian bisa pilih sasaran? Aku tahu niatmu mencelakai driver yang dipesan oleh Sandra itu kau sengaja. Kalian sudah memata-matainya bukan?"


"Omong kosong."


"Jangan mengelak lagi, aku sudah mencari tahu kalau handphone milik driver itu masih dipegangnya dan tidak ada di mobil ketika kejadian berlangsung, lalu dari mana kamu mengetahui kalau nama gadis yang memesan itu Sandra padahal dia meminjam handphone temannya."


Kini penjahat itu merasa terpojok. Ia bangun dan hampir saja meninggalkan Alex.


"Berapa yang dia berikan untuk membayarmu? Aku akan menggantinya tiga kali lipat dari jumlah yang dia berikan," tawar Alex.


Tiga kali lipat? Tentu saja jumlah yang sangat besar. Tapi Dewi bilang ia akan mengancam keluarganya kalau ia menyebut sekali saja namanya.


"Tidak, aku tidak mau nyawa keluargaku terancam," kata penjahat itu langsung masuk kembali ke dalam selnya.


Alex telah mendapatkan rekaman obrolan yang bisa dijadikan bukti kalau ada dalang d balik semua kejadian ini.


"Cukup untuk hari ini, aku akan kembali lagi besok," gumam Alex.


Setelah itu ia pergi meninggalkan lapas tersebut. Alex kembali ke rumahnya.


"Dari mana saja Lex?" Tanya Jaden yang berada di ruang tengah sedang menikmati tehnya.


Alex duduk di depan sang ayah. "Aku dari lapas, Pa."


"Ngapain?" Tanya Jaden yang heran.


"Aku curiga kalau ada dalang di balik kejadian yang menimpa Sandra. Kalau saja waktu itu Agung tidak membawa mobil Sandra maka dia tidak akan kecelakaan."


"Jadi menurut kamu sasaran sebenarnya adalah Sandra?" Tanya Jaden memastikan. Alex mengangguk.


"Dan kejadian yang menimpa Sandra dan Nabil itu disengaja Pa. Aku sudah menanyai pelakunya tapi dia tidak mau menyebutkan siapa orang yang memerintah mereka. Nyawa keluarga mereka dipertaruhkan," terang Alex.


"Ini bukan kejahatan biasa Lex. Tapi dia sudah menargetkan Sandra sebagai korbannya." Jaden menarik kesimpulan atas apa yang diceritakan oleh putranya.