My Beloved Partner

My Beloved Partner
167



Alex tiba di rumah sakit. Sandra terlihat lemas jadi ia mengangkat tubuh Sandra dan membaringkannya di atas brankar. "Tolong dia," kata Alex pada perawat rumah sakit.


Sandra memejamkan matanya. Ia terlihat berantakan. Ada beberapa bagian tubuhnya yang terlihat lebam akibat perbuatan penjahat itu.


Alex mengurusi administrasi dibantu ayahnya. "Lex, papa pulang dulu, kamu mau pulang atau mau di sini?" Tanya Jaden.


"Aku menunggu di sini saja pa," kata Alex. Jaden mengerti situasinya jadi ia mengizinkan Alex bermalam di rumah sakit.


Jaden pulang agar tidak membuat istrinya khawatir. Bia dari tadi cemas sehingga ia menunggu di teras rumahnya. Ia melihat sang suami memarkirkan motor di depan rumah.


"Papa pulang sendirian? Papa nggak ketemu Alex di luar?" Cecar Bia yang panik.


"Mama tenang dulu, Alex sedang menunggui temannya yang ada di rumah sakit," ungkap Jaden.


"Siapa pa?" Tanya Bia sambil mengerucutkan keningnya.


"Sandra," jawab Jaden sambil menghentikan langkahnya.


"Ada apa dengan anak itu pa?" Tanya Bia.


"Dia hampir saja dicelakai oleh driver ojol gadungan ketika ia memesan taksi online," ungkap Jaden.


Bia merasa tidak terima. "Hish malu-maluin perusahaan saja, besok aku akan minta Keyla untuk menyeleksi driver yang bekerja di perusahaanku," geram Bia.


...***...


Alex sedang menunggui Sandra yang telah dipindahkan ke ruang perawatan pasien. "Malang sekali nasib kamu sayang," kata Alex sambil menggenggam tangan Sandra. Sesekali pemuda itu mencium tangan kekasihnya yang masih terpejam.


Malam sudah sangat larut Alex mulai mengantuk. Ia tertidur dalam posisi duduk di samping Sandra. Sandra terbangun setelah merasa baikan. Ia melihat Alex tidur di sampingnya.


"Lex," panggil Sandra.


Alex mengucek matanya yang sepet. "Kamu udah bangun?" Alex memegang pipi Sandra dan mengusapnya dengan lembut.


Sandra bangun dan bersandar di ujung ranjangnya. "Tolong ambilin aku minum!" Pinta Sandra.


Alex menuruti perintah Sandra. Alex memberikan segelas air putih pada kekasihnya. "Terima kasih."


"Lex, aku mau pulang," pinta Sandra.


"Besok pagi aja," jawab Alex dengan nada yang lembut.


"Terima kasih sudah menolongku," kata Sandra sambil terisak. Ia masih trauma dengan kejadian kemaren.


"Sstt, jangan banyak bicara dulu, sebaiknya kamu balik tidur, besok pagi kalau dokter mengizinkan, aku antar kamu pulang," kata Alex yang coba menenangkan kekasihnya.


Sandra menurut kata Alex. Ia kembali merebahkan diri. Alex menaikkan selimut Sandra. Lalu ia mencium keningnya. Berharap Sandra akan lebih tenang.


"Kamu jangan kemana-mana," kata Sandra yang menarik tangan Alex.


"Iya aku di sini," Alex duduk kembali di kursinya.


Sandra mulai terpejam. Alex juga masih mengantuk karena jam menunjukkan pukul dua pagi. Alex merebahkan diri di atas ranjang memeluk kekasihnya. Sandra merasa begitu nyaman ketika mendapat pelukan Alex.


...***...


Sementara itu di tempat kosnya Nabil merasa cemas dengan keadaan Sandra. Ia tidak bisa menelepon ke handphone Sandra karena ia tahu handphone temannya itu sedang rusak.


Lalu ia menelepon Amar yang sempat bertukar nomor telepon saat bertemu di rumah Alex kemaren.


"Hallo, Amar ini gue Nabil,"


"Iya ada apa Bil? Pagi banget, ini aku lagi siap-siap mau kuliah," jawab Amar.


"Kamu tahu nomornya Zidan nggak?" Tanya Nabil ragu-ragu.


Amar terkejut pasalnya ia curiga Nabil memiliki perasaan pada Zidan. "Memangnya kenapa Bil?" Tanya Amar memastikan.


"Apa?" Amar terkejut. Namun, ia tak tahu nomor ponsel Zidan karena antara dirinya dan Zidan memang tidak akrab.


"Gue hubungi bos Alex aja," putus Amar. Pemuda itu langsung mengabari teman-temannya kalau Sandra terkena musibah sesuai omongan Nabil.


...***...


Sementara itu di rumah sakit suster memergoki Alex yang sedang tertidur memeluk Sandra. Ia menggelengkan kepala ketika melihat adegan mesra tersebut.


"Ehem," suster itu berdehem agar keduanya terbangun.


Sandra terbangun lebih dulu. Ia merasa nyaman tidur semalaman bersama Alex tapi ia sangat malu ketika suster melihatnya.


"Lex bangun," Sandra mencoba membangunkan kekasihnya. Alex pun mengerjapkan mata. Ia segera bangun ketika Sandra memukul lengannya.


Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika ketahuan tidur memeluk kekasihnya. "Sus, apa dia boleh pulang?" Tanya Alex kemudian.


"Nanti nunggu keputusan dokter ya," jawab suster itu. Ia lalu melakukan sejumlah perawatan rutin untuk Sandra.


...***...


Di kampus teman-teman Alex heboh setelah mendengar kabar yang menimpa Sandra dari Nabil. "Gung gimana elo udah tanya nomor Zidan ke Kristal?" Tanya Amar pada Agung.


Agung memicingkan matanya. "Ngapain tanya sama my bebeb, langsung aja tanya ke orangnya dia kan kuliah di sini juga," usul Agung.


Amar menepuk jidatnya. "Oh iya gue lupa, kita samperin ke kelasnya Gung," ajak Amar.


Mereka bertiga ditambah Nabil menghampiri Zidan. "Zidan, gimana kabar Sandra?" Tanya Nabil. Ia sangat khawatir pada teman kosnya itu pasalnya mereka mengalami kejadian itu bersama.


Zidan menghela nafas. "Gue belum tahu kabar dari Alex," kata Zidan.


Nabil dan ketiga teman lelakinya saling pandang. "Semalam dia dijemput sama Alex, gue semalam nganterin lo langsung pulang," kata Zidan tidak bersemangat.


Agung terlihat emosi. "Breng*sek lo kenapa elo nggak nolongin Sandra langsung kalau lo yang lihat kejadiannya?" Katanya sambil mencengkram kerah baju Zidan.


Nabil mencoba melerai. "Gung, lepasin dia, kalau bukan karena Zidan yang memanggil bantuan gue sama Sandra nggak akan selamat semalam," bentak Nabil.


Agung melepas cengkeraman tangannya. "Sandra nggak mau pulang sama gue jadi om Jaden nyaranin buat manggil Alex," kata Zidan lalu berlalu meninggalkan mereka semua.


Amar menepuk bahu Agung. "Lo jangan nyalahin Zidan men, pasti nggak mudah buat dia lihat adegan Alex nolongin Sandra," Amar menasehati Agung.


Setelah itu salah satu dari mereka menghubungi Alex. Setelah mendapat jawaban, mereka pun menuju ke rumah sakit dimana Sandra dirawat. Agung dan teman-temannya datang beramai-ramai mengunjungi Sandra.


"Loh kalian kok udah kemas-kemas?" Tanya Agung yang baru sampai.


"Eh kalian, gue udah gak apa-apa, dokter ngebolehin gue pulang," kata Sandra.


Nabil memeluk Sandra. "Gue khawatir banget sama elo, elo nggak apa-apa kan San?" Tanya Nabil memastikan.


"Nggak apa-apa, Alex udah nolongin gue," jawab Sandra.


"Tapi San sebenarnya..."


Alex tahu kemana arah pembicaraan Nabil. Ia pun segera menyela omongannya. "Gimana kalau gue ajak kalian makan, sebagai ganti acara semalam yang berantakan," bujuk Alex.


"Wah boleh banget bos, gue kabari my bebeb Kristal juga ya?" Agung meminta izin pada sang calon kakak ipar.


"Hm," jawab Alex sekenanya.


"Eh gue kabarin Ciara juga deh," kata Andi tak mau ketinggalan.


"Tapi Sandra kan masih sakit?" Sela Nabil.


"Nggak apa-apa kok, nggak ada yang luka juga, gue cuma trauma aja deket-deket cowok," kata Sandra.


"Heleh, semalaman tidur gue peluk juga nggak kenapa-kenapa," ledek Alex dengan lirih di telinga Sandra sehingga gadis itu memerah wajahnya.