
"Lah ini 'kan rumah gue?" Bia bingung kenapa Jaden membawanya pulang.
"Gue emang mau anterin lo pulang, udah mau gelap gak baik cewek pulang sendirian, lagian elo kan gak ada uang buat bayar ojek," Bia seperti dibanting ke tanah setelah melambung tinggi mendengar ocehan Jaden.
Bia mencebik kesal. Padahal dia berharap motornya kembali setelah menemui Jaden tapi laki-laki itu malah mengantarnya pulang.
Ketika Jaden dan Bia turun di depan gerbang rumah Bia, mereka berpapasan dengan mobil Rasya.
Mobil Rasya berhenti. Rasya membuka kaca jendela mobilnya saat melihat putrinya sedang bersama seorang laki-laki.Ia pun turun dari mobil.
"Mam*us, papa," umpat Bia dalam hatinya.
"Bia, kamu sama siapa?" Tanya Rasya pada putrinya. Lalu menoleh ke arah Jaden.
"Perkenalkan om, saya Jaden." Jaden mengulurkan tangannya dengan percaya diri.
Rasya tak lantas menerima uluran tangan Jaden. Jaden hanya tersenyum melihatnya. Ia tahu mungkin papa Bia hanya khawatir anak perempuannya dekat dengan pria yang salah, begitu pikirnya.
"Om bisa bicara sebentar." Jaden mengajak Rasya agak menjauh dari Bia.
Bia terus meremas tangannya yang dingin. Ia takut kena hukuman lagi dari papanya. Menarik semua fasilitas Bia sudah membuat dia sengsara lalu hukuman apa lagi yang akan diberikan papanya kalau dia ketahuan pulang diantar seorang cowok?
"Mereka ngomongin apa sih lama banget," batin Bia yang resah melihat Jaden mengobrol dengan orang tuanya.
Beberapa menit berlalu pembicaraan antara Jaden dan Rasya selesai. Mereka terlihat akrab.Terlihat Rasya merangkul bahu Jaden dan keduanya tertawa. Bia mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu om," pamit Jaden pada Rasya. Laki-laki yang masih tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi itu mengangguk.
"Gue balik ya," ucap Jaden seraya tersenyum ke arah Bia dan mengacak rambut gadis itu.
Bia terpaku di tempatnya. Wajahnya bersemu merah mendapat perlakuan manis dari laki-laki yang selalu menyebalkan baginya.
Setelah kepergian laki-laki berusia dua puluh delapan tahun itu, Rasya mengajak putrinya masuk.
...***...
Sementara itu di meja makan. Ara heran melihat suaminya senyum-senyum sendiri. Ara kemudian duduk di hadapan suaminya.
"Papa kenapa sih, dari tadi aku perhatiin senyum-senyum terus, habis dapat tender ya?" Tanya Ara pada suaminya.
Rasya menggeleng. Rasya mengingat perkataan Jaden saat meminta izin mendekati putrinya. "Izinkan saya mendekati putri om."
"Tadi sore ada pemuda yang meminta izin sama papa buat deketin Bia, dia mengingatkan masa muda papa," terang Rasya.
"Siapa pemuda itu?" Tanya Ara penasaran.
"Teman Bia yang mengantarnya pulang tadi sore, itu dia anaknya tanya langsung sama dia," ucap Rasya setelah itu menyesap kopi yang diberikan istrinya.
Tak lama kemudian Bia turun dari kamarnya. Ia ikut bergabung di meja makan bersama kedua orang tuanya.
"Ada apa pa?" Tanya Bia saat mendekati kedua orang tuanya.
"Siapa pemuda yang mengantar kamu pulang tadi sore Bia?" Selidik Ara.
"Jaden," jawab Bia datar.
"Kamu kenal dimana?" Tanya Ara lebih lanjut.
"Dia sering ikut balapan motor juga Ma, pa," jawab Bia dengan ragu saat menatap papanya.
"Tampan tidak?" goda Ara.
"Ih mama apaan sih," Bia mengerucutkan bibirnya.
"Yang mau jadi calon mantu mama harus ganteng, kalau nggak mana bisa mama pamerin ke temen-temen mama." Mendengar ucapan istrinya itu Rasya hanya bisa menggeleng.
"Calon mantu apaan ma, kita cuma temenan," terang Bia.
"Temenan apa demenan?" Ara suka sekali menggoda putrinya yang mulai memerah wajahnya karena malu.
"Pa tadi itu..." Rasya menyela omongan putrinya.
"Whatt??" Kaget Bia. Biasanya papanya selalu overprotektif tapi kenapa sekarang dia meminta Jaden menjadi supirnya.
"Tapi Bia bisa naik ojek kok pa," tolak Bia.
"Tidak ada tapi tapian, nurut kata papa," tegas Rasya.
"Gue gak habis pikir sebenarnya apa sih yang diomongin tadi sampai Jaden bisa merebut hatinya papa," batin Bia.
...***...
Keesokan harinya Jaden sudah menunggu Bia di depan rumah. Bia yang baru keluar rumah memutar bola matanya jengah melihat pemuda itu pagi-pagi sudah berada di pekarangan rumahnya.Bia sedikit terpana melihat mobil mewah yang dikendarai oleh Jaden. Namun Bia berusaha menyembunyikan kekagumannya.
"Hai Bi," sapa Jaden tersenyum ramah.
"Hemm," jawab Bia malas.
Dari dalam rumah, Rasya tampak rapi dengan setelan jasnya. Ia menoleh ke arah Jaden.
"Pagi om." Jaden sedikit menundukkan kepalanya saat bertemu Rasya.
"Pagi, titip Bia ya," ucap Rasya ramah sebelum memasuki mobilnya.
Bia menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya dengan dibatasi uangnya saja sulit bergerak apa lagi sekarang harus diantar jemput sopir, pikirnya.
Jaden mengangguk lalu menoleh ke arah Bia.Laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Bia. Setelah gadis itu masuk, Jaden kembali duduk di belakang setir.
"Jalan sekarang ya?"
"Tahun depan," jawab Bia ketus.
"Ya iyalah sekarang, gue ada kuliah pagi nih setengah jam lagi," ucap Bia seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jangan benci sama gue ntar malah bucin lho," kata Jaden.
"Kalau gue sampai bucin sama elo gue rela elo kawinin," goda Bia diikuti gelak tawa.
Padahal Jaden menganggap omongannya itu serius. Ia berfikir untuk semakin gencar mengambil hati Bia.
"Oke gue terima tantangan lo, jangan ingkar janji ya," balas Jaden.
"Dih apaan sih."
Setelah sampai di kampus Bia turun dari mobil Jaden. Jaden melambaikan tangan pada Bia meski ia tahu Bia tak akan membalasnya.
Dari kejauhan Keyla yang melihat Bia turun dari mobil dengan langkah cepat menghampiri gadis yang usianya dua tahun di atasnya itu.
"Di anter sama siapa Bi, mobilnya keren banget," senggol Keyla.
"Jaden," jawab Bia sambil berlalu meninggalkan Keyla.
"Whatt???" Keyla mengorek-ngorek kupingnya.
"Gue gak salah denger Bi?" teriak Keyla.
Karena penasaran Keyla mengikuti langkah Bia sampai ke kelasnya. Padahal sudah waktunya mata kuliah dimulai.
"Elo serius Bi, ko elo mau diantar sama Jaden?" cecar Keyla yang tak percaya temannya itu bisa berangkat bareng lelaki yang selama ini ia anggap musuhnya.
"Keluar lo bentar lagi dosen masuk, mau kena damprat lo,"
"Ck jawab dulu lah Bi, gue penasaran gimana ceritanya pagi ini elo bisa dianter sama Jaden, bokap lo tahu?" Tanyanya bersemangat.
"Tahu, orang bokap gue yang nyuruh dia jemput gue."
"Whatt??" Teriak Keyla yang semakin tak percaya dengan jawaban temannya itu.
"Apa itu berisik-berisik?" Tanya Dosen yang baru masuk.
Keyla sontak menutup mulutnya. Lalu keluar dari kelas Bia. Semua mahasiswa yang melihat kelakuan Keyla menyoraki dirinya. Keyla sedikit malu hingga ia menutup wajahnya dengan tas.