
Sesampainya di butik
"Turun sayang, sampai kapan kamu akan memeluk aku seperti ini?" ejek Jaden yang melihat Bia tak kunjung melepas pelukannya.
"Hiss geer," Bia memukul punggung Jaden pelan.
Kemudian mereka turun. Jaden kembali menunjukkan perhatian kecilnya pada calon istrinya dengan membantu Bia melepaskan helm yang wanita itu kenakan.
Bia menatap lekat Jaden dan memindai wajah tampannya.Jaden yang menyadari hal tersebut menahan senyumnya.Lalu laki-laki itu berdehem sehingga membuyarkan lamunan Bia.
"Aku tahu kalau aku tampan," ucap Jaden dengan penuh percaya diri.
"Hih narsis banget sih," ucap Bia seraya tergelak.
Keyla yang baru turun dari mobil merasa iri."Ke sini cuma mau nyuruh gue lihat kalian bermesraan hm?" sindir Keyla.
"Apaan sih Key? masuk yuk," ajak Bia sambil menggandeng lengan Keyla yang sedang mencebik kesal.
"Ma," panggil Bia.
"Kemana saja lama banget?" protes Ara yang telah menunggu sepasang calon pengantin itu.
"Biasa ma pacaran dulu mereka, menikmati jalanan sambil naik motor," sahut Keyla. Keyla memang sudah terbiasa memanggil Ara dengan sebutan mama.
"Apa? kamu naik motor?" kaget Ara ia takut kandungan Bia kenapa-napa.
"Ma tenang aja, aku baik-baik aja ko, lagipula Jaden mengendarainya dengan pelan," ujar Bia.
"Ikh kamu ini bisa tidak yang sopan sama calon suami kamu, panggil dia dengan sebutan kakak," perintah Ara.
"Gak papa tante," Jaden tampaknya tidak mempersalahkan panggilannya itu.
"Ko panggil tante, panggil mama dong, ya sudah kalian coba dulu bajunya," titah Ara.
Kemudian salah seorang pegawai butik menuntun Bia untuk mencoba gaunnya. Ara sengaja memesan gaun pengantin model kebaya Sunda.
"Ya ampun mama mau gue pakai ini? kampungan," keluh Ara.
Ia merasa tidak cocok dengan pilihan mamanya. Lalu ia pun protes pada sang mama. "Ma masak Bia pakai beginian," Bia keluar ruang ganti dengan wajah yang ditekuk.
Semua orang menoleh ke arah Bia. "Cantik," puji Jaden dalam hatinya.
"Ya ampun anak mama cantik banget," puji mama Ara melihat anaknya cocok sekali memakai kebaya yang dia kenakan.
"Cocok darimana ma, ini bukan style aku," protes Bia.
"Hish kamu akan tetap memakai kebaya itu buat acara akad nanti, asal kamu tahu ya kebaya itu mahal harganya, kamu lihat swaroski dimana-mana," ujar Ara.
"Iya Bi elo cantik tahu pakai kebaya ini, kaya emak-emak," ejek Keyla seraya terkekeh kecil.
"Sialan lo, tu kan ma Keyla aja ngejek aku," Bia masih protes.
"Kita tanya Jaden, bagaimana nak Jaden apa Berlian tidak cocok memakai kebaya itu?" tanya Ara pada calon menantunya.
Jaden memindai penampilan Bia dsri ujung rambut sampai ke ujung kaki."Cocok ma," ujarnya.
"Apapun yang Bia kenakan selalu cantik ma," imbuh laki-laki itu sambil menatap wajah Bia.
Sejenak pandangan mereka bertemu.Wajah Bia merona merah. Keyla dan mama Ara yang melihat Bia salah tingkah jadi menahan tawanya.
"Ya sudah terserah mama," kata Bia pasrah.Setelah itu ia melepaskan kebaya yang ia pakai.
"Bia kamu naik mobil," perintah Ara pada Bia.Ara khawatir terjadi sesuatu pada putrinya saat menaiki motor apalagi dirinya sedang mengandung.
"Nak Jaden, Bia bareng mama aja ya, gak apa-apa kan?" tanyanya pada calon menantu.
"Ya ma, kasian kalau dia naik motor, apa mau saya supirin sekalian ma, biar motor saya nanti diambil sama anak buah saya," Jaden menawarkan bantuan.
"Iya," jawab Keyla malas.
"Awas lo Bia gue tagih bayaran setelah ini," batin Keyla geram karena disuruh Bia menjadi supir dadakan.
"Oh baiklah, aku pergi dulu," Jaden mengacak rambut Bia gemas.
"Ma, Keyla saya duluan,titip calon istri ya," imbuh Jaden seraya menoleh ke arah Bia.
"Ih apaan sih, lebay," batin Bia.Tapi Bia selalu senang mendapatkan perhatian dari Jaden.
Jaden tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan ke hotel Danz Smith yang kini pengelolaan nya diserahkan kepada Julian.
"Bang bantu gue ngurusin dekor, rencananya gue mau pakai hotel gue ndiri," pinta Jaden pada Julian.
"Katanya mau konsep yang sederhana?" tanya Julian.
"Gue juga maunya gitu, elo atur ya bang," perintah Jaden pada sang kakak.
"Huh merepotkan saja," keluh Julian namun ia tidak bisa mengabaikan permintaan adiknya.
Hari yang ditunggu tiba. Hari ini Bia dan Jaden akan melangsungkan pernikahannya di hotel J&B milik calon mempelai pria.
Berlian masih dimake up oleh make up artis yang didatangkan mama Celine khusus untuk merias wajah calon manantunya agar terlihat cantik di momen pernikahan mereka.
"Sayang kamu sudah selesai?" tanya mama Ara yang menyembul di balik pintu kamar tempat putrinya di rias.
"Sudah ma," jawab Bia seraya menoleh.
Mama Ara melihat gaun kebaya yang dikenakan putrinya itu sedikit berbeda dari yang dia pesa dulu. Lalu ia pun masuk dan mengomeli Bia.
"Ya ampun Bia kamu apakan gaunnya?" tanya mama Ara yang geram melihat gaun yang dipakai putrinya itu menjadi seksi di bagian dada.
Setelah acara fitting baju beberapa hari yang lalu, Berlian meminta desainer baju kebaya itu untuk mengubah model bagian depan kebayanya yang awalnya menutup leher dijahit menjadi memperlihatkan belahan dadanya.
"Bagus kan ma?" tanya Bia meminta pendapat mamanya sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri di depan cermin.
"Tidak buruk, tapi kamu seenaknya saja mengubah modelnya. Ini gaun mahal tahu," protes mama Ara.
"Hish mama protes mulu soal harganya, papa Rasya kan kaya ma, bahkan sampai tujuh turunan juga hartanya gak akan habis," kata Bia yang malah mendapat pukulan kecil di bahunya.
"Sudah ayo kita ke depan, calon suamimu sudah menunggu," Ara menggandeng tangan Bia dan menuntunnya berjalan.
Di aula tempat akad nikah berlangsung, penghulu dan orang-orang yang akan menyaksikan prosesi pernikahan tersebut sudah berada di tempatnya.
"Kamu siap nak?" tanya Darren pada putranya Jaden.
"Siap dad," yang menjawab malah Julian.
"Elo apaan sih orang gue juga yang mau nikah," protes Jaden pada saudaranya.
"Ups sorry, elo yang mo nikah gue yang gugup," balas Julian sambil tertawa nyengir.
"Kepada calon mempelai pria dipersilahkan untuk menuju kursinya, karena acara akad nikah akan segera dilangsungkan," pembawa acara memimpin jalannya prosesi.
Rasya bertindak sebagai wali yang menikahkan anaknya secara langsung. Jadwn begitu gugup hingga Rasya bisa merasakan tangannya yang begitu dingin. Namun Jaden berusaha tenang agar tidak salah ketika mengucapkan ijab qobul.
"Sah" kata yang ditunggu-tunggu semua orang. Jaden menjadi lega, begitu pula dengan keluarga lainnya. Akhirnya Jaden dan Bia resmi jadi suami istri.
"Selamat bro," Julian menyelamati saudaranya dengan menepuk bahunya.
"Thank you brother," jawab Jaden sambil tersenyum. Terlihat raut wajah bahagia pada dirinya.
"Jaden," panggil mama Celine yang sedang menggandeng tangan Berlian