My Beloved Partner

My Beloved Partner
58



"Tinggalkan kota ini, saya akan memberimu uang yang sangat banyak jika kamu meninggalkan anak saya," ucap wanita paruh baya itu pada Raina.


Raina adalah gadis yang baru lulus SMA tapi harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara. Ia sudah melamar dimana-mana tapi tidak ada yang mau menerimanya bekerja dengan ijazahnya yang hanya lulusan SMA. Dengan terpaksa ia berkerja di srbuah bar. Itupun atas rekomendasi temannya.


Raina tidak punya pilihan. Semenjak kedua orang tuanya meninggal tidak ada lagi yang menjadi sandaran hidupnya.


"Saya tidak butuh uang anda nyonya," tolak Raina mentah-mentah.


"Cih, jangan munafik aku tahu kau itu miskin, terima saja uang ini dan jauhi anakku," bentak Nyonya Tamara pada wanita yang merupakan pacar anaknya itu.


Nyonya Tamara tidak menyetujui hubungan Raina dengan anaknya karena gadis itu bukan berasal dari golongan yang sederajat dengannya. Ia juga tahu kalau Raina bekerja di bar. Bagi Tamara, Raina hanya akan mencoreng nama baik keluarganya apabila menjadi menantunya.


Tamara tetap memaksa Raina menerima uang yang ia berikan. Ternyata uang bisa membeli perasaannya. Ia harus menjauhi kekasih yang ia pacari selama enam bulan terakhir ini.


Raina menyimpan uang itu di dalam tasnya. Lalu Raina bekerja seperti biasanya. Raina bukan tipe pelayan yang suka menjual diri. Selama ini ia hanya mengantar pesanan minuman pelanggannya. Tapi kali ini Raina ingin merasakan minuman itu.


Saat ia melihat pria duduk seorang diri ia menghampiri laki-laki tersebut."Tuan apa kau sendirian?" tanya Raina pada laki-laki di hadapannya itu.


Julian mendongak. Ia tidak merasa memanggil wanita penghibur. "Tinggalkan aku sendiri," teriak Julian diantara suara musik yang memekakkan telinga.


"Saya akan menemani tuan," Raina mendudukkan diri. Ia sedikit memaksa Julian agar Julian mau menemaninya.


Sungguh ini pertama kalinya Raina menawarkan diri. Pemilik bar yang melihat interaksi pegawainya dengan pelanggan begitu dekat tersenyum miring. Dulu ia sering memaksa Raina untuk menemani tamu-tamunya tapi Raina menolak dengan alasan ia hanya seorang waitress bukan wanita penggoda.


Raina menuang minuman ke gelas Julian. Julian mengernyit heran pada gadis kecil yang ada di hadapannya. Laki-laki itu tak sengaja mengamati wajah Raina, ia bisa menebak Raina masih berusia dua puluh tahunan.


"Apa yang membuatmu bekerja di sini?" tanya Julian memulai pembicaraan.


"Saya membutuhkan uang," jawab Raina dengan ekspresi wajah datarnya.


Julian dapat menangkap kesedihan di wajah gadis itu. Entah mengapa ia merasa iba. Julian menuangkan segelas minuman untuk Raina.


"Salam kenal," Julian mengangkat gelasnya kemudian diikuti oleh Raina.


Sebenarnya gadis itu ragu untuk meminum gelas berisi minuman haram itu. Tapi ia tidak enak dengan tamunya. Mau tak mau ia mencoba meminum minuman beralkohol itu. Raina meringis saat minuman haram itu mulai memasuki tenggorokannya.


Julian terkekeh saat melihat reaksi gadis yang ada di hadapannya itu. Ia bisa menebak gadis itu baru pertama kali merasakan minuman beralkohol.


"Mau tambah?" tawar Julian.


"Tidak tuan terima kasih, seharusnya saya yang menuangkan minuman untuk tuan," tolak Raina. Entah mengapa kepalanya mulai pusing.


"Kau tahu kenapa aku datang kemari?" Raina menggelengkan kepalanya.


"Saya juga sedang patah hati, ibu pacar saya tidak merestui hubungan kami, dia memberi saya uang banyak agar saya menjauhi putranya," Raina mulai hilang kesadaran saat dua kali meneguk minuman sialan itu.


Julian menggoyang tubuh gadis itu tapi gadis itu tidak bergerak. Ia pun menggendong gadis kecil yang mabuk itu dan membawanya ke dalam mobil.


Ketika di dalam mobil Julian yang hendak memasang sabuk pengaman untuk Raina tidak sengaja menyentuh bibir ranumnya. Julian seidkit kaget. Tapi di bawah pengaruh alkohol ia ingin melakukan lebih pada gadis yang ada di sampingnya itu.


"Oh shiiit kenapa denganku?" Julian merutuki kelakuannya yang tidak bisa menahan diri.


Tapi saat Julian akan menjauhkan kepalanya Raina justru membuka mata dan menarik tengkuknya . Julian menarik ujung bibirnya. Berciuman dengan gadis yang jauh lebih muda darinya tidaklah buruk.


Keduanya saling berpagutan. Julian membalas ciuman Raina dengan rakus. Ia tahu ini ciuman pertama Raina karena Julian merasakan Raina menciumnya dengan kaku.


Julian menghentikan ciumannya saat melihat gadia itu merasa mual.Tidak disangka gadia itu malah memuntahkan isi perutnya dan mengenai kemeja mahal Julian. "Sial," umpat Julian yang mendapati kemeja yang ia kenakan begitu kotor. Ia kemudian membawa gadis itu ke sebuah hotel yang tak jauh dari bar tersebut.


Dengan langkah yang setengah mabuk Julian menggendong gadis yang masih mengenakan seragam kerjanya itu menuju ke sebuah kamar.


Di sana Julian merebahkan tubuh Raina. Ia meminta orang suruhannya membawakan baju untuknya dan untuk Raina. Karena Julian melihat seragam gadis itu penuh dengan muntahan.


Setelah berganti pakaian ia ingin membantu gadis itu untuk mengganti pakaiannya. Ia sengaja tidak mengundang pelayan ke kamarnya. Karena Julian takut seseorang akan mengenali dirinya. Ia berfikir untuk meminimalisir gosip yang beredar di luar sana.


Saat Julian membuka kancing baju milik Raina, Julian menelan salivanya pekat. Ia melihat bagian dada gadis itu begitu putih dan mulus.


Julian laki-laki normal ia merasa jiwa kelakiannya muncul. Julian pun menyentuh buah melon milik Raina. Raina merasakan nikmat sehingga ia bersuara.


Julian semakin ingin melakukan lebih pada gadis yang ada di hadapannya itu. Ia seolah lupa akan nasehat Darren yang melarangnya.


Julian terus menikmati setiap lekuk tubuh Raina. Gadis itu pun merasakan sensasi aneh yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia mencengkeram kuat punggung Julian saat laki-laki itu melakukan penyatuan.


Julian yang telah melakukan pelepasan melihat noda darah di sprei itu. "Sial gadis ini masih virgin," umpat Julian. Ia menatap Raina dengan rasa bersalah. "Maafkan aku," lirih Julian kemudian turun dari tubuh Raina.


Julian mengamati wajah Raina dengan seksama. Ia tak mau menjadi baj*ngan yang tidak bertanggung jawab pada wanita yang telah ia tiduri. Ia pun melihat kalung yang bertuliskan nama Raina terukir di sana.


"Raina," lirih Julian lalu merebahkan diri di samping gadis yang tertidur karena kelelahan itu.


Keesokan harinya, Julian yang baru bangun meraba ke sekitar ranjang yang ia tiduri. Namun ia tidak menemukan siapa pun di sana. Kemudian Julian bangkit dan mencari di toilet. Sayangnya wanita yang ia cari juga tidak ia temukan.


"Ah sial kemana gadis itu pergi?" tanya Julian pada dirinya sendiri. Ia semakin merasa bersalah pada gadis yang ia jumpai semalam.


...***...


Kira-kira ada yang tahu kemana Raina pergi? Klik 💙 jika kamu ingin lanjut ceritanya.