My Beloved Partner

My Beloved Partner
177



Alex masih memikirkan pertemuannya dengan Ciara di hotel waktu itu. Saking penasarannya Alex bertanya kepada Sandra. "Apa kamu sudah pernah bertemu dengan ayah Ciara?" tanya Alex pada Sandra.


"Tidak, tapi Ciara pernah memperlihatkan wajah kedua orang tuanya melalui foto yang dia simpan di tasnya ketika SMA," ungkap Sandra.


"Ada apa Lex?" Tanya Sandra curiga.


"Kemarin aku tidak sengaja bertemu Ciara dengan laki-laki tua di hotel milik ayahku." Sandra kaget dengan pengakuan Alex.


"Waktu itu aku juga pernah melihat Ciara satu mobil dengan laki-laki asing. Tapi itu bukan ayahnya," ungkap Sandra.


"Apa kamu berpikiran sama denganku tanya Alex pada Sandra.


"Maksud kamu Ciara..." walaupun Sandra tidak meneruskan kalimatnya tapi Alex mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. Alex mengangguk yakin.


"Tidak mungkin bukankah Ciara berasal dari keluarga yang kaya. Untuk apa dia bekerja sebagai pemuas nafsu?" Ucap Sandra dengan lirih agar tidak ada yang mendengarnya.


Alex hanya menggedikkan bahunya. Tak lama kemudian Andi dan yang lainnya duduk satu meja bersama Alex dan Sandra di kantin.


"Nggak pesan makanan bos?" Tanya Agung yang melihat mejanya kosong.


"Belum, nungguin kalian," jawab Alex. Agung langsung girang.


"Gue heran deh sama lo Gung. Tiap hari kerjaannya nungguin traktirannya Alex mulu," ledek Amar.


"Ya gimana ya, dia bagaikan ATM berjalan."


"Sialan lo manfaatin gue?" Geram Alex. Tapi ia tahu Agung hanya bergurau.


"By the way, Nabil nggak ikut sama elo San?" Tanya Amar.


"Nggak tuh."


"Cie yang udah peduli sama Nabil," ledek Andi.


"Cie yang temenan bertahun-tahun tapi nggak berani nembak," balas Amar.


"Sialan lo," Andi mencebik kesal.


"Oh iya, Ciara mana?" Tanya Sandra pada Andi.


"Gue pikir elo tahu dimana dia San," balas Andi. Sandra menggeleng.


Andi menjadi risau. Lalu Andi bangkit dari tempat duduknya da mencari Ciara. "Elo tahu Ciara nggak?" Tanya Andi pada teman sefakultas Ciara.


"Nggak tahu, tapi dia izin balik duluan sama dosen," jawab gadis yang ditanyai oleh Andi tersebut.


"Elo tahu kemana dia?" Tanya Andi lagi. Mereka menggeleng. Andi semakin khawatir tapi dia tidak tahu kemana dia harus mencari Ciara.


...***...


Ciara kembali janjian dengan laki-laki yang kemaren bertemu dengannya. Tapi sepertinya nasibnya sedang sial hari ini. Istri dari laki-laki itu memergoki Ciara sedang berjalan dengan suaminya.


Tanpa aba-aba wanita itu menarik rambut panjang Ciara. "Dasar ja*lang sialan," umpat wanita itu geram.


"Rupanya kau yang selama ini berselingkuh dengan suamiku," tuduh wanita itu.


Jaden dan Darren yang baru turun dari lift tak sengaja melihat keributan terjadi di hotelnya. "Ada apa itu ribut-ribut?" Tanya Darren yang penasaran.


"Biar aku lihat, dad. Daddy pergilah lebih dulu!" Pinta Jaden pada ayahnya.


Wanita itu hendak melayangkan sebuah tamparan ke pipi Ciara tapi Jaden menangkap tangan wanita itu sehingga tangannya tidak jadi mengenai Ciara.


"Tolong jangan buat keributan di hotel ini," kata Jaden dengan tegas.


"Siapa kamu? Berani-beraninya menahan tanganku," geram wanita itu.


"Saya pemilik hotel ini," ucap Jaden dengan tegas.


"Saya tidak ada urusan dengan anda. Saya hanya ingin memberikan wanita ini pelajaran karena telah berselingkuh dengan suami saya," tunjuk wanita itu pada Ciara.


Ciara tertunduk malu. Sekarang dia menjadi pusat perhatian karena terang-terangan dilabrak oleh istri laki-laki yang menjadi pasangannya.


"Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu menggodaku agar aku memberikan semua kebutuhanmu," kilah laki-laki itu.


Ciara menarik sudut bibirnya. "Anda yang bilang sendiri kalau istri anda sudah membosankan makanya anda memilih jalan denganku," balas Ciara.


"Kamu..." laki-laki itu akan melayangkan tamparan juga karena merasa tidak terima dengan tuduhan Ciara. Namun, Jaden mendorongnya.


"Cukup, bubar kalian semua. Kalian membuat pengunjung hotelku ketakutan. Selesaikan urusan kalian di rumah!" Bentak Jaden.


Semua orang kemudian membubarkan diri. Ciara menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari istri laki-laki tua itu. "Fhuh, hampir saja, untung ada papanya Alex," gumam Ciara yang berada di dalam taksi.


Jaden memijit pangkal hidungnya setelah membubarkan pertengkaran yang melibatkan suami istri serta selingkuhannya itu.


"Kenapa Pa?" Tanya Alex.


"Alex, kenapa kamu tiba-tiba ke sini?" Tanya Jaden balik.


"Pa, aku lupa kalau mobilku masih di kator polisi, tolong perintahkan anak buahmu untuk mengambilnya," pinta Alex pada ayahnya.


"Kamu pasti kebut-kebutan lagi," gerutu Jaden. Alex hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini untuk yang terakhir kali ya Lex," ancam Jaden. Dia hanya tidak mau Alex kenapa-kenapa.


"Siap bosque," jawab Alex selengekan.


...***...


Sandra menemui Ciara. Mereka janjian di sebuah kafe. "Kamu kenapa Ci? Kelihatannya ngos-ngosan gitu?" Tanya Sandra pada Ciara yang baru sampai.


"Ah tidak ada apa-apa, kamu mau ngomong apa San?" Tanya Ciara yang tiba-tiba meneguk minuman Sandra.


"Mau aku pesankan lagi?" Tawar Sandra.


"Boleh," jawab Ciara tanpa ragu.


Setelah memesankan minuman untuk sahabatnya Sandra langsung mengutarakan maksudnya.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Siapa laki-laki dewasa yang jalan sama kamu?" Tanya Sandra to the point.


"Siapa? Papaku?" Ciara pura-pura tidak mengerti maksud Sandra.


"Meski aku hanya melihat foto ayahmu sekilas, tapi aku tahu yang bersamamu waktu itu bukanlah papamu," cecar Sandra pada Ciara.


"Kamu mau aku menjawab jujur?" Tanya Ciara balik.


"Kamu tidak..." Sandra tidak meneruskan omongannya takut Ciara tersinggung.


"Pada kenyataannya aku memang wanita penggoda suami orang." Pengakuan Ciara membuat Sandra menganga tak percaya. Setahunya Ciara gadis yang periang. "Mana mungkin kamu berbuat hal serendah itu Ci?" Sangkal Sandra.


Ciara tiba-tiba menangis. "Aku sudah tidak perawan lagi San," akunya.


Andi tak sengaja membeli minuman di tempat yang sama. Ia menjatuhkan minumannya setelah mendengar pengakuan Ciara. Andi tampak kecewa pada Ciara. Ciara dan Sandra menoleh ketika Andi menjatuhkan minumannya.


"Andi, Andi," teriak Ciara memanggil nama laki-laki yang ia cintai sejak SMA.


Sandra menciba menenagkan Ciara yang menangis sesenggukan. "Duduk dulu Ci, aku tahu Andi sangat syok mendengar pengakuan kamu," kata Sandra.


"Aku baru melakukannya beberapa bulan belakangan ini. Aku terjebak oleh kebutuhan ekonomi San. Keluargaku bangkrut sedangkan kamu tahu pergaulan kami di tengah orang-orang elite. Kami tidak mau orang-orang mencibir dan menghina kami. Satu-satunya jalan adalah mencari uang dengan jalan yang tidak biasa," ungkap Ciara.


"Seharusnya kamu ceritakan permasalahan kamu pada kami, kamu punya teman-teman yang bisa membantu kamu bahkan masalah keuangan sekalipun."


Ucapan Sandra membuat Ciara menyesal akan tindakan bodohnya yang menjual diri demi mendapatkan banyak uang. "Kalau saja waktu bisa kuputar aku pasti akan memilih jalan yang kamu sarankan," ucap Ciara dengan penuh penyesalan.


...❤️❤️❤️...


mampir ke novel ini juga ya dears