
"Kamu gak akan tahu rasanya pacaran kalau kamu gak mau mencoba," ucapan Jaden terngiang-ngiang di benak Bia.
"Ish Bego deh gue kenapa gue mau-maunya nerima Jaden gitu aja," Bia menyalahkan dirinya sendiri.
"Elo kenapa sih Bi, gue lihat dari tadi elo uring-uringan terus," Tanya Keyla yang baru datang.
"Eh minuman gue tuh main minum aja," tegur Bia saat melihat Keyla meminum es boba miliknya.
"Ya ampun dikit doang, pelit amat," lirih Keyla namun terdengar juga di telinga Bia.
"Ngomong apa barusan, lo bilang gue pelit? terus yang selalu bayarin makan lo tiap hari siapa? Yang belanjain ini ono ini ono itu orang mana?" Sindir Bia.
"Ya elo lah," jawab Keyla enteng lalu memamerkan giginya.
"Eh Bi motor lo gimana udah balik?" tanya Keyla namun Bia hanya menggeleng lemah.
"Gue gak bisa tebus motor gue pakai uang, lo tahu sendiri kan semua kartu kredit gue dipegang bokap," ucap Bia dengan nada sendu.
"Ya tinggal minta balikin aja Bi sama bokap lo, gitu aja ko repot," ucap Keyla dengan entengnya.
"Ngomong emang mudah nyatanya gak segampang ngebalikin telapak kaki ogeb," Bia melempar sedotan ke arah Keyla.
"Hah gue bingung gimana cara ngebalikin telapak kaki ya," Keyla berfikir keras sambil mempraktekan apa yang Bia katakan.
"Heh lo ngapain, bener-bener ni bocah, gak gitu juga kali," Bia memutar bola matanya jengah.
"Terus Bi, Jaden kan kaya ngapain dia minta uang dari lo?" tanya Keyla.
"Elo tahu darimana dia kaya?"
"Yagh lo lupa apa amnesia? kan doi nganterin elo pakai mobil mewah udah pasti keturunan sultan lah apa lagi," tebak Keyla.
"Kalau lo gak mau kasih ke gue biar gue yang maju," kata Keyla.
"Maju apa?" tanya Bia.
"Maksud gue biar gue yang jadi ceweknya," usul Keyla.
"Emang dia mau?" ejek Bia.
"Belum ada lelaki yang pernah gue tolak selama ini,"
"Iya tapi lo yang ditolak," Bia menonyor kepala Keyla.
"Kekerasan anak dibawah umur lo," protes Keyla.
"Cih umur lo kan udah sembilan belas tahun udah gak jadi tanggung jawabnya komnas perlindungan anak lah," Bia membela diri.
"Tapi kan masih di bawah dua puluh tahun," Keyla menjulurkan lidah pada Bia.
Meskipun keduanya seperti anjing dan kucing kalau bertemu. Nyatanya mereka saling menyayangi satu sama lain. Bagaimana tidak Bia dan Keyla sudah berteman sejak balita. Walaupun kadang sering bertengkar tapi pertengkaran itu tak berlangsung lama.
Tin tin
Suara klakson mobil itu terdengar tak jauh dari tempat kedua gadis itu berada.
"Eh Key lo mau nebeng gue gak?" tanya Bia. Sejujurnya dia merasa canggung harus duduk berdua saja di dalam mobil dengan Jaden.
"Weh baik bener lo Bia, lo emang bestie gue," puji Keyla.
"Yuk ah," Bia menarik tangan Keyla dengan kasar.
"Hai," sapa Jaden pada Bia kekasihnya yang baru saja jadian.
Bia hanya tersenyum membalas sapaan Jaden lalu dirinya masuk bersama Keyla.
"Gue nebeng gak papa nih kak?" tanyanya pada Jaden.
"Gak papa lo tunjukkan rumah lo ntar gue anter pulang sampai rumah dengan selamat," jawab Jaden ramah.
"Bayar gak nih kak?" Tanya Keyla lagi.
"Gratis,gue kan bukan anak buah papanya Bia," Bia memberikan tatapan tajam pada Jaden.
"Maksudnya gue bukan driver taksi online," imbuh laki-laki berusia dua puluh delapan tahun itu.
"Maaf bukannya saya menolak tapi hati saya sudah ada yang punya," ucap Jaden seraya menatap ke arah Bia.
"E cie cie," Keyla mencolek bahu Bia namun malah mendapatkan tatapan tajam dari temannya itu.
...***...
"Makasih ya Kak," ucap Keyla setelah Jaden menurunkan gadis itu sampai depan rumahnya.
"Titip Bia ya kak," Keyla berucap pada Jaden tapi mengerlingkan matanya ke arah Bia.
"Anj*r masuk lo," usir Bia namun melambaikan tangan untuk bestienya itu.
Mobil Jaden pun meninggalkan halaman rumah Keyla. Bia yang duduk berdua saja merasa canggung di dekat Jaden.
"Tangannya kenapa diremas terus," Jaden meraih tangan Bia yang dingin. Ia sontak kaget. Jantung Bia seperti ingin loncat dari tempatnya.
"Kamu sakit beb?" Sesekali Jaden menoleh ke arah Bia lalu kembali fokus ke aspal di depannya. Bia menggeleng.
"Terus kenapa tangan kamu dingin banget?" tanya Jaden khawatir.
"AC nya bisa dikecilin gak?" kata Bia dengan ragu. Padahal tangannya dingin bukan karena AC yang menyala tapi karena gadis itu gugup duduk di samping lelaki yang baru resmi menjadi kekasihnya kemaren.
Jaden menahan tawanya saat mendapati kekasihnya itu gugup. "Kamu grogi ya deket sama aku?" Tanya Jaden.
"Enggak," elak Bia namun wajahnya memerah.
"Emm kapan kamu mau balikin motor aku ?" Tanya Bia.
"Tenang aja beb, motor kamu masih di bengkel nanti kalau udah selesai diperbaiki aku balikin kok," jawab Jaden.
"Loh kita dimana?" Tanya Bia saat mobil Jaden berhenti tapi bukan di depan rumahnya.
"Makan dulu, turun yuk mampir ke restoran ayam geprek mommy ku," ajak Jaden.
Bia masih terdiam di kursinya. Jaden berjalan memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Bia. Bia membuka sabuk pengamannya lalu turun perlahan.
"Makasih," ucapnya lirih.
Jaden menarik tangan Bia agar ikut masuk ke dalam. Bia masih berat hati rasanya ingin pulang saja tapi entah kenapa kakinya tidak bisa diajak kompromi.
"Kamu tunggu sini ya," Jaden memundurkan satu kursi agar Bia bisa duduk.
Sementara itu Jaden pergi ke belakang ujtuk menemui ibunya. Tak lama mereka berdua kembali. Bia langsung berdiri dari tempat duduknya untuk menyalami tangan Celine.
"Seneng sekali kedatangan calon mantu," perkataan Celine membuat wajah Bia bersemu merah.
"Duduk dulu sayang, kamu nikmati makanannya ya," ucap Celine lalu meninggalkan putranya dan gadis yang ia bawa.
"Makan beb, habis ini aku anterin kamu pulang," kata Jaden.
"Dugh gimana nih gue gak tahan makan sambel," batin Bia.
"Kenapa gak dimakan beb?" tanya Jaden setelah melihat Bia yang belum menyentuh makanan di depannya.
"Emm bungkus aja ya, tadi aku udah makan bareng Keyla," tolak Bia secara halus.
Setelah selesai makan Jaden dan Bia berpamitan pada Celine. "Bia ini buat orang tua kamu di rumah, salam dari tante ya." Celine memberikan satu plastik berisi paket ayam geprek spesial dari restorannya.
Bia menerima bungkusan itu. "Terima kasih banyak, Tante," ucapnya dengan lembut.
"Sering-sering mampir ke sini ya," kata Celine terakhir sebelum sepasang kekasih itu pergi.
...***...
"Makasih ya buat ayamnya," ucap Bia sebelum turun.
"Bi tunggu!"
Saat Bia menoleh wajahnya bertabrakan dengan wajah Jaden dan tanpa Bia duga bibirnya menempel di bibir laki-laki yang duduk di belakang kendali setir itu.
"Ih dasar mesum," Bia buru-buru berlari keluar mobil meninggalkan Jaden begitu saja.
Jaden tertawa melihat tingkah kekasihnya yang kekanak-kanakan. Meski begitu Jaden benar-benar tulus mencintai Bia. Ia ingin menunjukkan keseriusannya. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga Jaden tak mau lagi bermain-main seperti dulu bergonta-ganti pasangan yang sering ia lakukan sebelum bertemu Berlian.