My Beloved Partner

My Beloved Partner
54



Pagi ini Bulan akan kembali ke negaranya bersama Aiden. "Bulan pamit ya ma," katanya pada mama Ara.


"Hati-hati ya sayang, maaf mama tidak bisa mengantar kamu, nanti Berlian akan mengantarkan kalian," kata mama Ara pada Bulan dan Aiden.


Setelah itu, Bulan, Aiden dan Berlian berangkat ke bandara. "Kak, apa kakak tidak mau menemaniku di sini?" rengek Berlian pada sepupunya yang sudah ia anggap sebagai kakak kandung.


Bulan menggeleng. "Kakak dan kak Aiden akan merintis usaha bersama di sana, kamu baik-baik ya di sini, semoga masalah kamu cepat selesai," Bulan memeluk Berlian untuk terakhir kali.


"Kabari aku kalau kalian sudah sampai di sana," kata Bia seraya melepaskan pelukannya.


Setelah Bulan menempuh perjalanan selama enam belas jam dari Indonesia tibalah Bulan di Jerman. Ia berpisah dengan Aiden di bandara. Bulan pulang menggunakan taxi.


"Akhirnya kamu pulang juga, bagaimana keluarga di sana apakah mereka baik-baik saja hm?" tanya Andrea saat menyambut kepulangan putrinya.


"No mom, Berlian mengalami banyak masalah dalam pernikahannya, itu semua terjadi setelah ia kehilangan bayi yang ia kandung," terang Bulan.


Andrea syok mendengarnya. Ia bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya.Membayangkan nasib keponakannya itu tak terasa air matanya menetes.


"Ya ampun sayang bagaimana kejadiannya sampai Berlian kehilangan bayinya? Kenapa tidak ada yang mengabari?" cecar Andrea.


"Om Rasya dan tante Ara melarang Bulan memberi kabar pada keluarga kita yang ada di sini karena mereka tidak mau kakek dan nenek khawatir, Berlian jatuh saat menaiki tangga mom, ia terpeleset, bayinya meninggal setelah dilahirkan," ada perasaan getir saat menceritakan musibah yang dialami adik sepupunya.


"Kasian sekali Berlian," lirih Andrea.


"Iya mom kasian sekali dia, di saat ia sedang butuh dukungan suaminya malah meninggalkan Berlian dan sekarang mereka diambang perceraian," kata Bulan.


"Siapa yang akan bercerai?" tanya Emely yang samar-samar mendengar percakapan antara Andrea dan Bulan.


"Nenek,"


"Ibu,"


Andrea dan Bulan saling pandang. Bulan tidak tahu apakah ia harus menceritakan kejadian yang menimpa Berlian pada neneknya atau tidak. Bulan melihat ke arah ibunya. Andrea mengangguk memberi kode bahwa Bulan harus menceritakan semuanya pada Emely.


"Katakan Bulan siapa yang akan bercerai?" tanya Emely sekali lagi.


"Berlian nek," kata-kata Bulan sempat membuat neneknya syok.


Emely pun meneteskan air matanya. Tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia pun meminta penjelasan dari Bulan.


"Selama aku tinggal di Indonesia banyak masalah yang dihadapi Berlian nek, semenjak Berlian kehilangan bayinya..."


"Tunggu," Emely menjeda. "Apa maksudmu Berlian kehilangan bayinya?" tanya Emely bingung.


"Waktu itu Berlian jatuh dari tangga nek sehingga bayinya meninggal setelah dilahirkan akibat benturan yang sangat keras," terang Bulan.


Emely menagis tersedu-sedu mendengar berita buruk yang menimpa cucunya. "Kasian sekali kamu Berlian, nenek tidak bisa memberimu dukungan saat kamu butuh," ucap Emely dengan penuh penyesalan.


Hatinya begitu sakit seolah merasakan apa yang di alami oleh cucu kesayangannya. Sesaat kemudian Antoni datang. Ia heran kenapa istrinya menangis.


"Ada apa sayang, kenapa kau menangis hm?" tanya Antoni seraya mengusap lelehan di pipi istrinya.Emely tidak bisa menjawab karena ia masih saja menangis.


Andrea pun menceritakan apa saja yang Bia alami sesuai omongan Bulan padanya. Antoni manggut-manggut.


"Yah, apakah sebaiknya kita ke sana untuk membantu cucu kita?" tanya Emely pada suaminya.


"Kita bisa bantu apa bu? biarlah Berlian menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan kita, kita hanya bisa mendukung segala keputusan yang ia buat," kata Antoni dengan bijak.


"Benar kata Ayah bu, kalau kita ke sana dia akan malu, doakan dia dari sini saja Bu, aku yakin keponakan aku itu wanita yang tangguh dan mandiri, kita tunggu kabar dari mereka saja," kata Andrea menimpali.


...***...


Julian hampir saja tidak bisa menyamakan langkahnya dengan sang ibu. Mom Celine terlihat marah hari ini. Kemungkinan besar karena perkataan Bia yang mengaku mendapatkan surat gugatan cerai dari Jaden.


"Jadeenn," teriak mom Celine. Nafasnya terengah-engah, dadanya naik turun karena menahan amarah.


"Mom tenang mom tenang," Julian mencoba menenangkan ibunya yang sedang emosi.


"Sini kamu sini," mom Celine menarik telinga Jaden dengan kasar.


"Aw aw aw mom lepaskan mom sakit mom ampun," rengek Jaden agar mom Celine mau melepaskan tangannya yang sedang menjewer telinga Jaden.


"Kamu pantas mendapatkannya bahkan ini tidak seberapa jika dibanding sakit hatinya Berlian," sungut mom Celine.


Jaden bertanya ada kakaknya dalam diam. Julian hanya menggedikkan bahunya. Karena dirinya tidak tahu menahu penyebab mommynya marah.


"Jangan pura-pura beg* Jaden," ucap mom Celine yang sedang kesal.


"Untuk apa kau mengirim surat gugatan cerai pada menantuku hm?" mom Celine meminta penjelasan dari putranya


Jaden mengusap wajahnya kasar. "Darimana mom tahu?" tanya Jaden.


"Bia yang memberi tahu mommy kemaren," jujur mom Celine.


"Aku tidak ada niatan menceraikan istriku mom, saat itu aku mengutus Bagus dalam keadaan emosi sesaat, sumpah mom aku menyesal akan tindakanku yang gegabah," kata Jaden seraya menggenggam tangan ibunya agar beliau yakin.


"Awas saja kalau bohong, kau sudah robek kertas itu hm?" tanya mom Celine kemudian.


"Percuma mom pengajuannya sudah masuk ke pengadilan,tahap awal aku akan menjalani sidang mediasi, semoga sebelum saat itu aku bisa merebut hati Bia kembali," tekad Jaden.


"Apa yang bisa mommy bantu?"


"Doakan saja anakmu ini berhasil membawa menantu mommy pulang," kata Jaden dengan lembut kemudian mengecup tangan ibunya.


Mom Celine terharu. "Iya pasti," kata mom Celine dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya udah kita balik yuk mom," ajak Julian. Mom Celine pun pulang bersama anak sulungnya.


...***...


Setelah kepulangan ibunya Jaden berniat untuk menghampiri Berlian. Kali ini ia harus bisa meyakinkan istrinya itu bahwa dia tidak benar-benar ingin berpisah dengannya.


"Ah aku akan mampir membeli bunga kesukaannya," gumam Jaden ketika sedang mengendarai mobilnya.


Jaden pun hendak menepikan mobilnya namun saat ia menginjak pedal rem tiba-tiba saja tidak berfungsi. "Sial kenapa dengan remnya," umpat Jaden saat gagal menghentikan mobilnya.


Kemudian Jaden berfikir keras agar dia bisa mendapatkan pertolongan. Ia mengambil ponselnya di dalam dashboard mobilnya.Sayangnya ponselnya terjatuh.


Tangan Jaden meraba ke bawah berusaha meraih ponselnya tapi dari arah yang berlawanan ada mobil yang menyalip. Ia pun kaget sehingga ia membanting setir ke samping.


Bruak


Suara benturan yang begitu keras terdengar saat mobil Jaden menabrak sebuah pohon besar. Asap mengepul dari bagian depan mobilnya.


"Aagh," lenguh Jaden.Laki-laki itu merasakan darah mengalir dari kepalanya. Ia pun berusaha keluar tapi pandangan matanya mulai berkabut.