My Beloved Partner

My Beloved Partner
100



"Cantik juga sekertaris ini, ****," batin Dani ketika menatap Ruby.Ia menarik ujung bibirnya.


"Sialan, nih cowok nyebelin banget sih, ngelihat gue kaya ngelihat ikan asin, dasar kucing garong," umpat Ruby dalam hati.


"Terima kasih tuan Dani senang bekerja sama dengan anda," Julian mengulurkan tangan pada Dani.


Dani mengerutkan keningnya saat melihat sikap Jaden yang begitu sopan kali ini.Meski begitu Dani berusaha bersikap profesional.


"Sama-sama," Dani membalas uluran tangan Julian.


Setelah itu Julian dan Ruby pergi meninggalkan restoran. Dani masih tinggal di tempat.


"Sialan lo Jul, puas lo udah ngerjain gue," gerutu Ruby sambil mengerucutkan bibirnya.Ia sangat kesal apalagi saat mengingat tatapan mesum Dani.


Julian hanya tertawa menanggapi omelan Ruby."Jangan salahin gue, ini semua rencana Jaden,"ucap Julian tidak mau kalah.


"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?" Tanya Ruby yang penasaran.


"Nanti kau akan tahu,"jawab Julian.


...***...


Sementara itu di tempat lain Jaden mulai risau.Ia kemudian mengambil ponsel dan menghubungi saudara kembarnya."Bagaimana bang?" Tanya Jaden yang penasaran.


"Beres." kata Julian singkat.


Jaden merasa lega.Kini ia tidak perlu khawatir dengan hadirnya pebinor.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore. Julian memperbolehkan Ruby untuk pulang lebih dulu.


"Kamu yakin tidak mau ditemani lembur?" Tanya Ruby memastikan.


"Pulanglah anggap saja aku berbaik hati padamu hari ini," kata Juliansambil terkekeh.


"Cih, bilang saja kau merasa bersalah sudah mengerjai aku hari ini," sarkasnya.


"Ya terserah kau sajalah," Julian lebih memilih mengalah daripada harus berdebat dengan Ruby.


Ruby kemudian menuju ke tempat parkir di mana mobilnya berada. Ia pulang mengendarai mobil sendiri. Sayangnya di tengah perjalanan ban mobilnya tiba-tiba kempes.


"Arrgh sial," Ruby memukul setir mobilnya saking kesalnya.


Ruby kemudian turun untuk mengecek ban mobilnya yang kempes.Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun,tidak ada yang bisa dimintai tolong.Jalanan yang ia lewati waktu itu sedang sepi.


Kemudian ia menelepon Julian meminta bantuan agar mengirim tukang bengkel mobil langganannya untuk memperbaiki ban mobilnya.


Pakaian Ruby yang minim mengundang sejumlah laki-laki nakal menggodanya.


"Nona apa anda perlu bantuan?" goda laki-laki tak dikenal itu. Mereka berpakaian seperti preman.Ruby menjadi takut.


"Tolong jangan ganggu saya," pinta Ruby dengan sopan.


"Hei siapa bilang kami mengganggumu,kamu yang mengundang kami," kata salah satu preman itu sambil tertawa keras.


Ruby baru menyadari kalau pakaiannya lah yang membuat mereka mendatangi dirinya."Sial ini gara-gara Julian," umpat Ruby. dalam hati.


"Akan kuberikan uang tapi setelah itu pergilah,"Wanita itu mencoba bernegosiasi dengan ketiga laki-laki asing itu.


"Hei nona kami tidak membutuhkan uangmu tapi kami ingin tubuhmu," kata preman itu dengan memberikan tatapan mesum pada Ruby.


Dua orang preman menahan tangan Ruby. Sedangkan satu dari mereka mencium Ruby.Wanita itu berusaha memberontak sayangnya kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan mereka.


"Berhenti!" Teriakan dari seseorang buat aktivitas mereka terhenti.


Ruby melihat ke sumber suara."Dani?" gumam Ruby dengan lirih.


"Lepaskan wanita itu!" Bentak DaniĀ 


"Heh memangnya kau siapa berani sekali memerintah kami," tanya salah seorang preman itu dengan nada bicara yang ditinggikan.


"Aku suaminya," bohong Dani.Ruby mendelik ke arahnya.Dani mengulas senyum saat melihat ekspresi wajah Ruby.


"Aku hitung sampai tiga kalau kalian tidak juga melepaskan istriku kalian akan terima akibatnya," ancam Dani.Kali ini dia tidak main-main dengan ucapannya.


"Satu,dua..."


"Banyak cing cong hajar dia!" perintah salah seorang dari mereka.


Salah satu dari mereka melangkahkan kakinya lebih dulu.Setelah itu ia melayangkan pukulan ke arah Dani.Tapi pukulan itu dapat dihindarinya.Dani mendorong laki-laki itu dari belakang hingga dia jatuh tersungkur ke tanah.


Setelah melihat temannya kalah, preman lain ikut maju untuk menghajarnya.Ia mencoba menendang Dani dengan kaki tapi Dani menangkisnya dengan kaki juga.Kaki mereka saling beradu.Sayangnya preman itu tak cukup kuat dalam mempertahankan diri.Ia pun jatuh dan merintih kesakitan.


"Hah segitu saja kemampuan kalian?" ejek Dani sambil tersenyum meremehkan.


Kini Dani menatap tajam ke arah satu orang lagi yang masih mencengkeram tangan Ruby.Laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ruby.


Preman yang tersisa itu merasa ketakutan.Melihat teman-temannya dihajar sampai babak belur ia memilih bersujud di kaki Dani dari pada ia bernasib sama dengan teman-temannya.


"Tolong maafkan saya saya janji tidak akan mengganggu istrimu lagi," ucap laki-laki itu dengan nada bergetar.


Dani menyunggingkan senyumnya."Sayang ayo kita pulang aku rasa kecoa ini sudah jera,"ucapnya pada Ruby.


Ruby memilih mengikuti permainan Dani dengan berpura-pura menjadi pasangan suami istri agar dirinya aman.


Ia menyambut uluran tangan Dani kemudian berjalan melewati preman itu.Para preman tersebut berlari tunggang langgang mengendarai motornya.


"Terima kasih," ucap Ruby kemudian.Dani mengulas senyumnya.


"Hanya itu caramu berterima kasih?" tanya Dani. Ruby merasa jengah ia seolah keluar dari mulut macam masuk ke mulut buaya.Buaya darat maksudnya.