
"Pak, anda darimana?" Tanya Ruby yang melihat Julian berjalan dari arah yang berlawanan dengannya.
"Aku mampir ke toilet karyawan sebentar."
"Anda sakit perut?" Tanya Ruby penasaran.
"Tidak, perutku tidak sehat. Aku memuntahkan semua sarapan pagiku." Ruby mengerutkan keningnya mendengar ucapan atasannya itu.
Kini keduanya memasuki lift yang dikhususkan oleh para petinggi kantor. "Mungkin anda salah makan," sahut Ruby.
Julian tidak menjawab. Dia tiba-tiba menutup hidungnya ketika mencium bau parfum milik Ruby. Ruby yang merasa, mencium bau badannya sendiri. "Apa saya bau, Pak?" Tanya Ruby memastikan.
"Kamu bau sekali, perutku mual mencium bau parfummu." Jawaban Julian membuat Ruby kesal tapi ia coba menahannya.
"Biasanya saya juga pakai parfum ini tiap hari tapi anda baik-baik saja." Ruby mencebik kesal. Ingin sekali ia mencakar muka Julian yang menyebalkan. Bagaimana tidak ia memakai parfum yang diimportnya dari Paris tapi Julian masih menyebutnya bau.
Lift pun terbuka. Julian berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Ia terlihat lemas setelah muntah. "Ya ampun aku nggak bisa kerja kalau begini caranya," gumam Julian.
Laki-laki itu keluar dari toilet. Ia melonggarkan dasinya lalu duduk di kursi kebesarannya. "Ruby tolong perintahkan OB untuk mengantarkan secangkir teh panas untuk saya!" Kat Julian melalui telepon yang terhubung dengan ruangan sekretarisnya.
Tak lama kemudian, OB datang membawakan teh panas untuk Julian. Ia merasa baikan setelah meminum teh hangat itu. "Begini lebih baik," ucapnya lalu mulai bekerja.
Ruby masuk untuk menyerahkan berkas-berkas yang harus ditandatangani onleh Julian. "Anda baik-baik saja, Pak?" Ruby mencemaskan keadaan atasannya itu. Pasalnya kemeja yang ia kenakan berantakan.
"Tidak, aku sedang tidak enak badan. Mungkin aku akan pulang lebih cepat hari ini. Tolong handle kantor setelah aku pulang!" Perintah Julian pada Ruby.
"Baik, Pak."
...***...
Raina datang ke rumah ibu mertuanya untuk menitipkan Sovia. "Mom aku titip Sovia sebentar ya," kata Raina sambil memberikan tangan gadis kecil usia dua tahunan itu.
"Kamu mau kemana nak?" Tanya mom Celine.
"Aku ingin pergi ke dokter."
"Kamu sedang sakit?" Tanya Mom Celine khawatir.
"Tidak, aku ingin periksa ke dokter kandungan mom, sepertinya aku hamil lagi sudah beberapa minggu ini aku telat menstruasi," akunya.
Mom Celine merasa senang mendengar kabar gembira itu. Artinya di keluarga mereka akan bertambah satu orang anggota keluarga baru. "Mommy harap kamu benar-benar hamil, apakah suamimu sudah tahu?" Tanya Mom Celine.
"Ya sudah hati-hati ya, bilang sama supir jangan ngebut!" Pesan mom Celine sebelum Raina keluar dari rumahnya.
Mom Celine mengajak Sovia keluar jalan-jalan. Namun, sebelumnya ia menelepon suaminya.
"Dad, temenin mommy makan siang ya, kita janjian di mall sekalian mommy mau ajak Sovia kebetulan ibunya sedang ada urusan," kata mom Celine melalui sambungan telepon.
Setelah itu Mom Celine menggendong cucunya dan memasuki mobil. "Ayo sayang kita jalan-jalan sama oma dan opa ya," ajak Celine dengan lembut. Gadis kecil itu hanya tersenyum ketika mendengar kata jalan-jalan.
Sesampainya di sebuah mall yang ia sepakati dengan suaminya, mom Celine mengajak Sovia berbelanja terlebih dulu. Ia ingin membelikan cucunya baju yang lucu-lucu.
"Eh ini ada rumbai-rumbainya, kamu suka?" Tanya Mom Celine pada Sovia yang berada di atas kereta belanja dorong. Sovia menggeleng. Gadis kecil itu menunjuk mainan yang ada di outlet tersebut.
Mom Celine mengikuti arah tangan kecil cucunya. "Ow kamu pengen beli mainan?" Tanya ibunda Julian. Sovia mengangguk. Tangannya ingin meraih mainan itu tapi tidak sampai.
"Sebentar ya oma ambilkan." Celine mengambil satu set mainan es krim untuk cucunya.
"Kamu ingin ini?" Sovia mengangguk. Ia senang sekali mendapat mainan baru.
Mom Celine pun membayar mainan itu. Pukul dua belas siang saatnya dia ke restoran yang ia sepakati dengan suaminya.
"Ayo sayang kita makan dulu," ajak mom Celine sambil menggendong cucu kesayangannya.
"Kamu berat juga ya," kata Mom Celine pada Sovia sambil mencolek hidungnya yang mungil. Sovia terkekeh.
Rupanya Darren telah sampai duluan di restoran tersebut. Laki-laki itu tersenyum melihat istri dan cucunya.
"Opa sudah sampai duluan."
"Iya baru saja sampai. Kalian belanja apa?" Tanya Darren pada cucunya yang menggemaskan. Ia mengambil alih gendongan dari tangan istrinya.
"Belanja mainan, tadi aku nawarin di baju tai tidak mau," ungkap sang istri.
"Pesan makanan dulu yuk."
Setelah memesan makanan salah seorang pengunjung tiba-tiba menyapa mereka. "Anaknya cantik sekali, Bu," kata pengunjung wanita itu yang melihat Sovia.
Celine dan Darren saling pandang. "Iya, terima kasih," jawab Celine sambil terkekeh kecil.
"Oma," panggil Sovia kemudian. Wanita itu pun terkejut ketika balita itu memanggil Celine dengan sebutan oma.