My Beloved Partner

My Beloved Partner
109



Jaden kembali ke rumah sakit untuk menyerahkan pesanan istrinya. "Sayang Ini pesanan kamu, rujak nggak pedes sama es boba buat mama juga," ucapnya ketika menyerahkan makanan yang mereka pesan.


"Makasih sayang kamu jadi suami aku," kelakar Bia.


"Ihk lebay," cibir mama Ara yang mendengarnya.


"Oh ya sayang aku harus mengurus sesuatu yang penting bersama Bagus apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal?" tanya Jaden meminta izin pada istrinya.


"Pergilah biar mama yang jaga Berlian," sahut mama Ara. Jaden merasa lega mendengar ucapan ibu mertuanya.


Setelah itu Jaden menemui Bagus. "Gus ada yang mau aku sampaikan, tapi sebelumnya kamu antarkan mereka pulang setelah selesai," perintah Jaden pada asistennya. Bagus mengangguk mengerti.


"Pulanglah nak, bapak di sini baik-baik saja, jagalah adikmu sementara waktu, titipkan dia kalau kamu berangkat sekolah seperti biasa," pesan Arif pada putranya, Banu.


"Banu pulang dulu ya Pak," pamitnya.


"Gus bagaimana kalau kita ketemuan di kantor saja," perintah Jaden."Baik Pak, saya akan menuju ke kantor setelah mengantarkan anak-anak ini," jawabnya.


Sementara itu mom Celine mendengar kabar kalau menantunya masuk rumah sakit dari Julian. Sebelumnya Jaden memberi tahu kondisi istrinya pada Julian yang tak sengaja menelepon adiknya pagi ini.


"Kenapa baru bilang?" protes mom Celine pada Julian.


"Mana Julian tahu mom, semalam waktu mengantar Sovia mereka masih baik-baik saja, kalau tidak diberi tahu Jaden pagi ini," Julian membela diri.


"Ya sudah antarkan mommy ke rumah sakit dimana Berlian dirawat," perintah mommy Celine pada anak sulungnya itu.


Julian pun menuruti perintah ibunya. Sebelum sampai di rumah sakit Julian menepikan mobilnya di sebuah toko bunga. Celine ingin membelikan buket bunga untuk menantunya itu.


Wanita yang masih cantik di usianya itu memilih bunga lili. Celine tahu kalau Berlian sangat menyukai bunga lili maka dari itu dia membelikannya.


Sesampainya di rumah sakit mom Celine melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Berlian.


"Sayang bagaimana keadaan kamu?" tanya mom Celine yang saat memasuki ruang rawat menantunya. Wanita itu menunduk hormat kala melihat besannya berada di situ.


"Mommy tahu dari mana Berlian di sini?" tanya Berlian.


"Dari suamimu," sahut Julian. Berlian beroh-oh ria.


Sementara itu Jaden sudah sampai di kantornya.Namun, kali ini laki-laki itu tidak memakai setelan jas. Ia hanya mengenakan sweater casual dan celana jeans panjang.


Tak lama kemudian Bagus tiba di ruangan Jaden. "Ada apa Pak?" tanya Bagus penasaran.


"Aku sempat melihat motor milik Arif berada di rumah sakit yang sama," terang Jaden.


"Apa anda yakin motor itu milik Arif?" tanya Bagus memastikan.


"Kau meragukan ingatanku? Aku bahkan mengingat nomor plat motornya."


"Tidak Pak," Bagus tidak berani membantah atasannya.


"Baik Pak," kata Bagus menuruti perintah atasannya itu.


...***...


Dokter masuk ke dalam ruangan Bia."Selamat pagi menjelang siang,'" sapa dokter itu dengan ramah.


"Pagi Dok," jawab mama Ara.


"Siang Dok," jawab mom Celine.


"Eh," kata mereka berdua bersamaan lalu tergelak.


"Bagaimana Dok apa saya boleh pulang sekarang?" sahut Bia sebelum dokter itu memeriksa.


"Saya periksa dulu ya Bu," jawab dokter itu dengan lembut.


"Setelah saya periksa kondisi ibu dan bayinya sehat jadi hari ini juga boleh pulang," ucapan dokter wanita itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu berucap syukur.


"Kalau begitu saya permisi semua," pamit dokter itu.


"Yuk ma kemasi barang-barang," ajak Bia.


"Kamu semangat sekali Bi, biar mama aja yang kemasi barang-barang, kamu istirahat saja," kata mam Ara.


"Saya bantu ya jeng," seru mom Celine.


"Ma aku ingin mampir untuk menjenguk Pak Arif sebelum kita pulang," kata Bia meminta izin.


"Arif? Siapa dia?" tanya mom Celine yang asing mendengar nama itu.


"Driver ojol yang kemaren ditolongin kak Jaden mom, dia korban begal," terang Bia.


"Baiklah, nanti kita jenguk sama-sama," balas mam Ara.


Setelah mereka selesai berbenah, ketiga wanita itu memasuki ruangan Arif.Arif menjadi terkejut melihat kedatangan Berlian dan dua wanita yang tidak ia kenal.


"Bu Berlian," Arif berniat bangun.


"Istirahat saja Pak, tidak perlu bangun," kata Bia.


"Bagaimana keadaan anda, oh iya perkenalkan ini ibu dan mertua saya," kata Bia memperkenalkan orang tuanya. Arif menunduk hormat.


"Saya sudah baikan mungkin besok sudah diperbolehkan pulang," jawab Arif.


"Tidak usah buru-buru pulang, anda harus dirawat sampai sembuh benar. Jangan risaukan masalah biaya, nanti akan ditanggung perusahaan," ucapan Bia membuat Arif merasa lega karena tak harus memikirkan biaya rumah sakit.