
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, kamu bawa apa Bi?" Ranya Ara yang melihat putrinya pulang membawa bungkusan.
"Oh ini buat mama," Bia memberikan bungkusan tersebut pada sang ibu. Ara menerima bungkusan itu.
"Kamu habis dari restoran ayam geprek langganan mama ya?" Tanya Ara setelah melihat bungkus plastik yang bertuliskan merk restoran.
"Iya, Bia naik dulu ya, Ma," pamitnya ke kamar.
...***...
Keesokan harinya Bia sudah bersiap ke kampus. Tas sudah digendong dan dengan menenteng sebuah buku yang tak muat di tasnya, Bia menuruni tangga.
"Pagi Ma, Pa," seru Bia.
Namun wajahnya yang ceria menjadi suram saat Bia mendapati Jaden sudah duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya.
"Kok udah ada di sini?" Tanya Bia dengan wajah cemberut.
Haruskah laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya itu numpang makan di rumah orang tuanya? Pikir Bia.
"Sini Bi, sarapan dulu sebelum ke kampus," ajak Ara.
"Wah mama masak segini banyak buat aku ma?" Tanya Bia yang kaget melihat meja makan penuh dengan berbagai jenis makanan.
"Pagi ini mama gak masak, ini semua Jaden yang bawa," jawab Ara.
Bia menatap laki-laki yang duduk di samping Rasya. "Sok perhatian banget sih," umpat Bia dalam hati.
"Kamu mau sarapan apa Bi? Banyak pilihan nih," tanya mamanya.
"Bia udah kenyang ma lihat makanan segini banyak," jawab Bia ketus.
"Eh nanti mubadzir lo kalau gak dimakan, lagian ini enak-enak semua,"
"Bia mau berangkat ke kampus sekarang, Ma," pamitnya pada sang ibu tak lupa menyalami Ara dan Rasya secara bergantian.
Begitu juga dengan Jaden. Ia pun menyalami tangan Ara dan Rasya. "Berasa jadi ibu mertua," batin Ara.
Keduanya pun memasuki mobil. Sejak kemaren Jaden mengantar jemput Bia sehari-hari meskipun dirinya sibuk dengan pekerjaan kantor. Tapi Jaden berusaha menjadi pacar yang baik untuk Bia.
Hingga terjadi kesalahpahaman di hari saat Jaden membawanya ke perayaan ulang tahun hotel Danz Smith milik Darren.
"Hari ini kamu cantik sekali, beb," puji Jaden yang melihat penampilan kekasihnya mengenakan dress panjang yang pas dengan ukuran badannya.
"Oh ya tunggu sebentar aku ambilkan minuman buat kamu," Bia mengangguk pelan.
"Eh Berlian elo datang ke sini juga?" Sapa teman laki-laki yang satu kampus Bia.
"Gue sama temen," jawab Bia. Tanpa ia sadari Jaden yang sedang memegang dua gelas minuman mencengkeram gelas yang ada di tangannya. Hatinya terasa sakit karena selama dua bulan sejak ia resmi berpacaran dengan Bia, gadis itu tak menganggap Jaden sebagai pacarnya. Walau Bia selalu cuek kepadanya, akan tetapi Jaden tak mempermasalahkan hal itu.Tidak disangka Bia hanya menganggapnya teman.
"Ya udah gue ke sana dulu ya Bi," pamit teman Bia.
Jaden mulai mendekat. "Tadi itu siapa Bi?" Tanya Jaden lalu memberikan segelas sirup kepada Bia.
"Oh temen sekampus," jawab Bia seraya menerima minuman dari Jaden.
"Bi kenapa kamu bilang aku ini teman kamu? Apa dua bulan kita berpacaran itu belum cukup untuk kamu membuka hati kamu untukku?" cecar Jaden.
"Aku...aku," Bia bingung harus menjawab apa. Nyatanya selama ini dia hanya ingin motornya kembali.
"Aku kira kamu juga menikmati masa pacaran kita, namun dua bulan ini tidak berarti buat kamu," cibir Jaden dengan senyum sinis.
"Aku akan kembalikan motor kamu, aku kira dengan menahan motormu aku bisa memanfaatkan kesempatan untuk membuat kamu bahagia, sayangnya aku salah," ucap Jaden yang pergi meninggalkan Bia di pesta itu sendirian.
Bia masih diam di tempat. Ia masih mengkoreksi dirinya sendiri. Sedangkan Jaden terlihat mendekati wanita yang berpenampilan seksi di acara tersebut. Mereka berdua terlihat akrab.
Bia jadi merasa bersalah telah menyakiti hati Jaden. Hingga ia memutuskan untuk meminta maaf saat itu juga. Namun saat Bia berusaha mencari laki-laki itu, Ia melihat pemandangan yang tak terduga. Jaden mencium seorang wanita dengan penuh nafsu di tempat yang sepi.
Tas yang Bia pegang terjatuh. Ia menutup mulut saking shoknya melihat adegan kekasihnya mencium wanita lain. "Dasar brengsssek," umpat Bia dalam hati.
Lalu Bia pun pergi meninggalkan pesta itu dengan menaiki taksi. Putri pasangan Ara dan Rasya itu terlihat menangis. Jaden menyadari bahwa Bia melihatnya. Ia sengaja memanas-manasi hati Bia agar gadis itu cemburu.
"Pergilah!" usir Jaden pada wanita yang dia bawa.
"Apa kau mengusirku?" Geram wanita itu.
Jaden tak menghiraukan perkataan wanita yang menemaninya tadi. Ia hanya bermaksud memanfaatkan wanita itu.
Jaden menjambak rambutnya lalu meninju udara. "Arrgh sial, kenapa juga gue harus senekat itu di depan Bia?" Geram Jaden pada dirinya sendiri.
"Bro, lo gak papa?" Tanya Julian yang melihat saudara kembarnya itu uring-uringan.
Jaden menggeleng lemah. "Gue balik dulu," Jaden menepuk bahu Julian lalu pergi. Hatinya sedang kalut ia hanya ingin menyendiri.
...***...
Bia mengusap sisa air matanya dengan punggung tangannya kasar. Ia tak mau orang tuanya tahu kalau dirinya habis menangis. Lalu Bia mengoleskan bedak tipis-tipis agar matanya yang merah bisa tertutupi.
"Perfect," ucapnya setelah menutup bedak padat di tangannya.
Seusai memberikan uang kepada sang supir taksi online, Bia masuk dengan langkah perlahan.
Namun saat ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di sofa bagian tengah, Ia langsung berlari ke arah tangga.
"Bi, masuk rumah ko gak salam dulu?" Tegur Rasya pada putrinya.
"Maaf pa, make up Bia luntur nih gara-gara keringetan, Bia cuci muka dulu ya," pamit gadis itu lalu berlari ke kamarnya.
"Emangnya berapa orang yang datang ke pesta itu sampai pendingin ruangan tidak berfungsi," selidik Ara.
"Ya ampun mama ada-ada aja," Rasya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan polos dari istrinya.
Sesampainya di kamar Bia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia kembali menangis. Entah karena ia merasa bersalah dengan perkaranya yang tidak mengakui Jaden di depan temannya ataukah karena melihat Jaden bermesraan dengan wanita lain.
Dadaa Bia serasa sesak sekali. Entah kenapa ia merasa sakit hati saat Jaden mencium wanita tadi. Bia seperti tidak dianggap oleh Jaden. "Apa mungkin kamu hanya ingin membalasku? atau untuk membuatku cemburu," gumam Bia.
"Brengsssek, dasar laki-laki tidak tahu diri," Teriak Bia dari dalam kamar.
"Anak kita kenapa pa? Apa perlu mama samperin?" Tanya Ara.
"Apa dia ada masalah? lihatlah putrimu ajak dia bicara," perintah Rasya diangguki oleh sang istri.
Tok tok tok
"Boleh mama masuk Bi?" Tanya Ara yang mengetuk pintu kamar Bia dari luar.
...❤️❤️❤️...
Tolong kasih aku dukungan ya bestie