My Beloved Partner

My Beloved Partner
63



"Apa yang terjadi?" tanya dad Darren.


"Raina demam,badannya menggigil dan keluar keringat dingin, cepat ambil mobil aku akan membawa Raina turun," perintah Julian pada Jaden. Jaden mengangguk dan segera melaksanakan perintah saudara kembarnya.


"Kabari kami kalau ada apa-apa?" pesan mom Celine.


Julian menggendong Raina yang tak sadarkan diri masuk ke dalam mobil. Jaden memegang kendali setir sedangkan Julian menemani Raina.


Dad Darren satu mobil dengan Berlian namun sebelum mereka ke rumah sakit, mama Ara minta diantar pulang karena papa Rasya sudah sangat khawatir padanya.


"Terima kasih sudah mengantar saya, maaf tidak bisa menemani Raina di rumah sakit," ucap mama Ara sedikit menyesal.


"Tidak apa bu, kalau begitu kami permisi," pamit dad Darren.Bia pun melambaikan tangan pada ibunya.


"Ma kenapa baru pulang?" tanya papa Rasya yang mengintrogasi mama Ara ketika baru sampai.


Mama Ara tersenyum pada suaminya lalu menggandeng tangan papa Rasya manja. "Ceritanya panjang, bolehkah aku beristirahat dulu, aku janji akan menceritakan semua yang kami lalui selama di Sukabumi," bujuk mama Ara agar papa Rasya tidak merajuk.


"Baiklah, sekarang mandilah aku akan memesan makanan cepat saji untukmu," kata papa Rasya.Mama Ara pun mengangguk.


...***...


"Jaden bisa cepat sedikit tidak?" bentak Julian.


"Elo buta bang, di depan macet banget," Jaden tidak kalah geram.


"Ck, kalau begini kasian calon istriku minta pengawalan polisi,elo lihat ada polisi gak?" tanya Julian memberi saran.


Dengan wajah cemberut Jaden pun turun saat melihat polisi yang sedang mengatur lalu lintas di depannya."Calon istri? sekarang aja lo baru ngakuin kemaren-kemaren lo kemana?" gerutu Jaden.


"Permisi pak bisa minta tolong, saya membawa orang yang sakit dan harus dilarikan segera ke rumah sakit, bapak bisa cek di mobil saya," Jaden pun mengarahkan salah seorang polisi tersebut ke mobilnya.


Julian membuka kaca jendelanya. "Tolong kawal kami sampai rumah sakit, istri saya dalam keadaan gawat pak," kata Julian.


Jaden memutar bola matanya jengah."Cepet banget ganti status tadi perasaan baru caon istri napa sekarang jadi calon istri??" batin Aden sambil menggelengkan kepalanya.


Sedangkan polisi tersebut nampak syok melihat dua orang yang berwajah mirip. Ia menujuk ke arah Jaden dan Julian. Jaden tambah geram. "Pak bisa kan kami minta pengawalan sampai rumah sakit?" sentak Jaden sehingga membuat polisi tersebut terkaget.


"I-iya bisa," jawab polisi itu terbata-bata.


Setelah itu poisi tersebut meminta izin pada temannya untuk mengawal mobil Jaden. Jaden memasuki mobil dan bersiap melajukan mobilnya kembali.


"Dasar orang aneh, lihat manusia kembar aja bingung," umpat Jaden pada polisi tersebut saat di dalam mobilnya.


Tidak lama kemudian mobil Jaden sampai di depan ruang UGD. Julian dengan sigap menggendong Raina dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Tolong pasien ini, dia membutuhkan perawatan," teriak Julian seraya menidurkan Raina di atas brankar.


Dua orang perawat pun menghampiri dan memeriksa keadaannya.Sedangkan Jaden mengucapkan terima kasih pada polisi yang telah membantunya.


"Gimana bang?" Jaden menepuk bahu saudaranya.


"Sedang ditangani," jawab Julian seraya meremas jari tangannya.


"Lo gak usah terlalu panik, dia udah dapat perawatan gue yakin dia bakal sembuh," ucap Jaden sok bijak.


Tak lama kemudian Darren dan Berlian sampai di rumah sakit. "Sayang bagaimana dengan Raina?" tanya Berlian pada suaminya.


"Sedang ditangani,"


"Syukurlah," ucap Bia sedikit lega.


"Oh ya Yang Keyla nyuruh aku ke kantor nih katanya ada meeting dadakan dengan klien kamu bisa nganter aku gak?" tanya Bia.


Jaden menoleh pada abangnya meminta izin dalam diam. "Kalian pergi aja, biar gue yang jaga Raina," kata Julian.


"Daddy juga akan menemanimu," kata dad Darren.


"Meeting apa sih Yang sore-sore gini?" tanya Jaden yang kesal. Karena jam menunjukkan pukul 16.00 WIB.


"Ada investor baru katanya yang mau menanam saham di perusahaan kita," kata Bia.


"Gak ada jam lain apa? aku kan kangen sama kamu," rengek Jaden.


"Ya udah si ntar malam juga kan kita udah di rumah ngapain juga cemberut gitu," kata Bia berusaha menghibur suaminya.


"Udah nyampe Yang,"


"Hah cepet banget," kaget Bia sampai tidak sadar kalau sebenarnya jarak rumah sakit ke kantor ojek online miliknya itu sangatlah dekat.


"Iya kan deket ini,"


"Kakak pulang duluan nanti kalau aku dah selesai meeting aku kabari ya," Bia melambaikan tangan pada suaminya.


Setelah memastikan mobil suaminya pergi. Bia masuk ke dalam kantor miliknya. Bia pun masuk ke ruangan Keyla.


"Ya ampun Bi lo kemana aja sih lama bener," gerutu Keyla.


"Ntar aja gue ceritanya ntar kelamaan lo dengerin cerita gue, mana bahan meetingnya?" Bia meminta laporan dari Keyla.


"Elo gak ganti baju dulu Bi, gue bisa siapin baju lo," kata Keyla memberi saran saat melihat atasannya itu mengenakan pakaian casual.


"Oh iya good idea, gue hampir lupa, thanks ya Key," Keyla mengagguk.


"Kita meetingnya dimana Key?" tanya Bia.


"Katanya dia mau mampir ke sini Bi, elo tahu gak yang bakal jadi investor kita ini yang punya travel terbesar lho se-Indonesia," ucap Keyla kagum.


"Alah, lo lupa bapak gue juga yang punya perusahaan ojek online TERBESAR se-Indonesia, kakek gue juga punya perusahaan perakitan mobil TERBESAR se-Indonesia," ucap Bia tak mau kalah.


"Yagh ko lo nyolot sih Bi," gumam Keyla.


"Ya habisnya lo lebay banget, ya udah kita tunggu aja orangnya," kata Bia.


...***...


Sementara itu Julian kini menunggui Raina di samping tempatnya berbaring. Julian menggenggam tangan Raina sesekali ia mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkan anaknya itu.


"Aku mohon bangun, jangan buat aku khawatir," ucap Julian dengan lirih.


Raina menggerakkan jarinya. Julian dapat melihat itu. Ia tampak senang kemudian Julian memanggil dokter untuk memeriksa Raina.


"Keadaannya sudah membaik, kalau memungkinkan besok bisa dibawa pulang," ucapan doktwr membuat Julian merasa lega.


"Ah aku dimana?" tanya Raina yang baru sadar.


"Kamu ada di rumah sakit kemaren kamu demam sampai tidak sadarkan diri,"


"Dimana anakku?" tanya Raina.


"Tenang saja dia aman bersama kakek dan neneknya," mendengar kata-kata Julian Raina merasa terharu.


"Kenapa kamu menangis?apa ada yang sakit?" tanya Julian panik.Wanita itu menggeleng.


"Aku hanya merasa beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang baik," kata Raina sambil terisak.


Julian membawa Raina ke dalam pelukannya. "Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan dirimu menderita sendiri, aku janji itu," kata Julian dengan nada yang lembut.


...💓💓💓...


Hallo my beloved readers semangat ya baca ceritanya jangan lupa tinggalin jejak