
Sudah hampir sebulan Berlian dan Jaden pisah rumah. Berlian kini menyibukkan diri di kantor ojek onlinenya. Sedangkan Jaden masih sama, hampir tiap hari ia lembur di kantor namun pulang sangat larut.
Jaden benar-benar melupakan Bia. Bahkan berkirim pesan atau ngobrol lewat sambungan telepon pun mereka tak pernah. Rasya sangat sedih melihat putrinya tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Ia salah menilai Jaden.
Rasya menyempatkan diri mendatangi kantor Jaden. Dengan perasaan marah ia membuka pintu ruangan Jaden secara kasar.
Bruak
"Br*ng*ek," Rasya mencengkeram kerah Jaden.Jaden hanya diam saja. Ia tahu ini akan terjadi.
"Bisa-bisanya kamu mempermainkan anak saya," ucap Rasya dengan berapi-api.
"Maafkan saya pa," kata Jaden pasrah. Rasya bisa saja memukulnya seperti waktu itu.Waktu Rasya tahu putrinya dihamili Jaden.
"Aku salah menilai kamu, aku kira kamu laki-laki yang bertanggung jawab, nyatanya apa?" geram Rasya.
"Ceraikan putriku, seandainya kamu tidak bisa membahagiakan dia setidaknya kamu jangan sesekali menyakitinya," tegas Rasya lalu keluar dari ruangan Jaden.
Jaden terduduk lemas di kursi kebesarannya. Ia meraup mukanya kasar. "Sial," Jaden meninju udara karena frustasi.
"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Bagus yang khawatir.
"Tolong urus perceraianku dengan Berlian," kata Jaden pada asisten pribadinya.
"Apa pak? Anda yakin akan menceraikan istri anda?" tanya Bagus meyakinkan pendengarannya.
"Siapa yang mau bercerai?" tanya mom Celine yang berkunjung ke kantor anaknya.
"Mom, kenapa mom gak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Jaden pada ibunya.
"Mom berhak datang ke sini kapan saja karena kantor ini milik anak mommy," protes mom Celine.
"Mommy malu di depan ketemu besan mommy tapi mommy dicuekin, ini semua gara-gara kamu Jaden, kenapa sampai sekarang kamu malah bertambah acuh pada istrimu?" cecar Mom Celine.
"Stop ma, pikiran Jaden lagi ruwet," Jaden berkata dengan intonasi tinggi pada ibunya.
"Kamu berani ngebentak mommy?" tanya Celine tidak percaya.
"I'm sorry mom," ucap Jaden dengan nada lembut.
"Mommy gak mau tahu kamu harus minta maaf sama Berlian," kata Celine tegas.
Jaden menjambak rambutnya karena frustasi. Sebenarnya ia tak berniat mengabaikan Bia tapi rasa kecewa karena kehilangan anak menjadikan Jaden lupa diri.
...***...
Saat Bia akan keluar kantor ia tidak sengaja bertemu dengan Arif orang yang pernah ia tolong.
"Pak Arif," panggil Bia. Arif yang sedang memarkirkan motornya menoleh ke sumber suara.
"Non," sapa Arif seraya mengangguk hormat.
Ya Arif sekarang bekerja menjadi driver ojek online di perusahaan Bia. Jaden dan Bia saat itu memberikan Arif pekerjaan agar ia bisa membiayai hidup kedua anaknya.
"Lama tidak bertemu, kabar Banu dan Delima bagaimana pak?" Tanya Bia.
"Mereka baik non, Banu sudah bisa bersekolah lagi berkat non Berlian, sedangkan Delima saya titipkan ke tetangga agar saya bisa bekerja," terang Arif.
"Kapan-kapan boleh saya main ke rumah pak Arif?" Tanya Bia sungkan.
"Boleh non dengan senang hati," kata Arif dengan tersenyum.
"Ya sudah non saya ke bagian HRD dulu," pamit Arif.
"Oh silahkan," kata Bia.
...***...
"Bi elo mau pulang bareng gak kita ke kafe gue yuk!" Ajak Keyla.
"Next time aja Key gue mau pergi ke suatu tempat," tolak Bia.
"Ya udah gue balik dulu ya Bi," pamit Keyla kemudian cipika cipiki.
Berlian berencana ke tempat Arif sore itu sepulang kerja. "Assalamualaikum," Bia memberi salam pada yang punya rumah.
"Waalaikumsalam," Arif keluar sambil menggendong bayi yang berumur enam bulan.
"Ya ampun lucunya Delima," ucap Bia gemas saat melihat bayi Delima.
"Boleh saya gendong pak?" Tanya Bia meminta izin.
"Boleh non silahkan,"
"Oh ya ini tolong dibawa masuk ke dalam," Bia menyerahkan beberapa kantong yang berisi keperluan bayi pada Arif.
"Terima kasih banyak non," kata Arif seraya menerima bingkisan dari Bia.
"Oh ya Banu mana?" Tanya Bia yang tidak melihat Banu sejak tadi.
"Saya suruh beli gula tadi di warung depan," jawab Arif.
Bia pun duduk di kursi sambil menggendong Delima. Ia menciumi pipi Delima sayang. Bayi kecil itu pun terkekeh. Tanpa sadar Bia meneteskan air mata.
"Maaf non Berlian ini minumannya," Arif membuyarkan lamunan Bia.
Bia mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Oh iya makasih banyak pak Arif saya malah merepotkan," ucap Bia sambil tersenyum.
"Tidak non,"
"Kak Berlian," panggil Banu.
"Sini sini kakak kangen sama kamu," Berlian melambaikan tangan lalu menyambut Banu dengan pelukan.
Meskipun Berlian berasal dari keluarga yang berada tapi sikapnya lemah lembut dan amat peduli pada orang-orang di sekitarnya.Ia tidak pernah membeda-bedakan status.
"Apa kabar kak?" tanya Banu.
"Kakak sudah melahirkan ya, adeknya cewek apa cowok kak?" tanya Banu polos. ia tidak tahu kalau bayi Bia sudah meninggal.
"Cowok, tapi Allah lebih sayang sama anak kakak jadi sekarang anak kakak ada sama ibu kamu di surga," jawab Bia. sebenarnya ia tak ingin membagi kesedihannya pada orang lain. Ia hanya menjawab pertanyaan polos Banu.
Arif yang menyadari perkataan Bia jadi ikut prihatin. "Maaf non saya turut berduka cita," kata Arif dengan hati-hati.
"Iya pak gak papa, oh ya saya pamit ya sudah malam," kata Bia setelah melihat ke jam yang melingkar di tangannya.Lalu Bia menyerahkan Delima pada Arif.
"Jadi anak yang pinter ya sayang," pesan Bia pada Delima. Delima membalas dengan senyuman.
Di seberang jalan ada seseorang yang memperhatikan Bia dari kejauhan. Ia tampak mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras melihat kedekatan Bia dengan Arif.
"Shiiitt," umpat laki-laki itu lalu pergi.
Saat akan membuka pintu mobilnya, tangan Bia ditarik oleh seseorang. Bia pun kaget dan menoleh ke arah orang yang menariknya.
"Bagus ya, jadi selama aku gak ada kamu malah mesra-mesraan sama Arif," tuduh Jaden.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Jaden. Jaden mengusap pipinya yang terasa panas. Bia tak berniat menyakiti suaminya tapi dituduh seperti itu membuat hati Bia terasa sakit.
"Yang kamu tuduhkan padaku itu tidak benar," kata Bia dengan nada bergetar.
Ia pun berbalik agar air matanya tidak tumpah. Tanpa basa-basi ia segera masuk ke mobil dan melajukan mobilnya kencang meninggalkan Jaden.
"Ahssial," Jaden meninju udara.
"Bisa-bisanya aku menuduhnya tanpa bukti yang jelas, maafkan aku Bi aku terlalu cemburu," gumam Jaden penuh penyesalan.
"Dasar laki-laki bodoh," umpat seseorang yang memperhatikan pertengkaran Bia dan Jaden dari dalam mobilnya.
...***...
Makasih buat yang udah mampir ke karyaku, jangan lupa tinggalin jejak ya, like koment dan kaporitin biar awet di rak buku kalian.
Bunga nya dong biar wangi sama kopi-kopi gitu biar koin kalian berkurang hehe ✌️