My Beloved Partner

My Beloved Partner
37



"Dad," panggil Jaden


"Hemm," jawab Darren tanpa menoleh ke putranya karena dirinya sedang sibuk memeriksa laporan.


"Daddy sedang sariawan?" canda Jaden agar daddynya itu mau menoleh ke arahnya.


"Gus belikan obat sariawan terbaik untuk daddyku," imbuh Jaden.


Darren melepas kacamata yang ia pakai."Katakan apa perlumu kemari?"tanya Darren seraya menatap ke arah anaknya.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu dad, tidakkah seorang anak wajar bila memperhatikan kesehatan orang tuanya," kata Jaden beralasan. Namun bukan Darren namanya jika tidak mengetahui rencana putranya.


"Tidak usah berbelit-belit daddy sedang sibuk sekarang," kata Darren dengan tegas.


Jaden mendekat ke arah dadddynya. "Tapi janji daddy jangan marah,"


Hm


"Dad aku telah merusak meeting istriku dengan investornya saat itu, lalu aku berjanji padanya akan mengganti rugi bahkan akan membeli sebagian saham perusahaan miliknya," terang Jaden.


"Lalu?" Darren memicingkan matanya.


"Ayolah dad, kau tahu maksudku?" kata Jaden sambil menaik turunkan alisnya.


Darren menutup berkas yang sedang ia periksa. "Baiklah katakan pada menantuku untuk datang ke kantorku, membeli sebagian kecil saham perusahaan miliknya tidak jadi masalah bagiku, itu hal kecil," kata Darren dengan percaya diri.


Jaden mengembangkan senyum di wajahnya."Thank you dad, lalu bagaimana caraku berterima kasih padamu dad?" kata Jaden yang merasa tidak enak karena Darren sudah memenuhi permintaannya.


"Nanti malam datanglah ke rumah untuk makan malam di rumah," ajak Darren.


"Baiklah dad, bilang ke mommy siapkan makan malam yang enak untuk menantu dan putranya yang tampan ini," kata Jaden sambil tersenyum.


"Dasar kau ini," Darren melempar pulpen ke arah Jaden, sayangnya dia dapat menghindar. Jaden pun keluar diikuti asistennya.


"Gus kita ada jadwal apa hari ini?" tanya Jaden pada asistennya.


"Sementara tidak ada tuan," jawab Bagus setelah melihat ke layar ipad yang ia pegang.


"Oke, kamu pulanglah lebih cepat hari ini,aku ingin menjemput istriku," pinta Jaden.


"Biar saya saja yang bawa mobilnya tuan," kata Bagus yang merasa tidak enak pada atasannya.


"Aku juga punya privasi Gus," balas Jaden seraya menepuk pundak kiri laki-laki itu.


Jaden pun pergi meninggalkan Bagus. Ia berjalan sambil menimang kunci mobil di tangannya menuju ke parkiran mobil.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit dari hotelnya, Jaden sampai di kantor Bia. Ia turun dengan gagah memakai setelan jas yang rapi ala eksekutif muda.


"Selamat sore tuan," sapa Satpam yang mendekat ke arah Jaden.Jaden mengangguk lalu ia berjalan menuju ruangan Bia.


Para karyawan di kantor ojek online tersebut merasa kagum dengan ketampanan yang dimiliki suami atasannya itu.


"Eh lihat tuh suami bu bos ckckck sempurna banget,"


"Beruntungnya bu bos dapat suami setampan itu, kalau gue jadi bu bos udah gue kekepin di rumah aja pokoknya,"


"Ngawur lo,eh tapi elo gak denger ya isunya bu bos hamil duluan," kata salah seorang karyawan.


Terdengar kasak kusuk yang membicarakan Jaden dan Bia. Namun Pak Rio segera menegur mereka. "Kembali bekerja di sini bukan ajang ghibah," tegur Pak Rio.


Tok tok tok


"Silahkan masuk," kata Bia tanpa melihat ke orang yang mengetuk pintu.


"Permisi bu bos," Jaden berpura-pura menjadi bawahan.


"Tehnya taruh aja di meja pak," kata Bia saat ia mengira OB yang mengirim teh pesanannya.


Jaden menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang begitu sibuk. Ia pun mendekat lalu menutup laptop istrinya. "Apa yang kamu lakukan?" geram Bia namun saat ia menoleh tertanya sang suami sudah berdiri di hadapannya.


"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Bia heran.


Bia terkekeh. "Kau memang lebih mirip dengan OB," ejek Bia pada suaminya.


"Ada apa kakak ke sini?" imbuhnya.


"Tentu saja menjemputmu,kita pualng sekarang,mom dan dad mengajak kita makan malam," Jaden menarik tangan Bia lalu Bia pun terpaksa berdiri mengikuti langkah suaminya.


"Tapi beberapa hari yang lalu kita baru dari sana kan?" tanya Bia. Ia agak sedikit kesulitan mengikuti langkah suaminya yang panjang.


Ketika Jaden berhenti Bia tak sengaja menabrak dada bidangnya hingga ia mengaduh seraya mengusap dahinya yang sakit.


"Ada yang ingin daddy sampaikan padamu," kata Jaden membuat istrinya itu mengerutkan keningnya.


"Apa itu?" tanya Bia.


"Kau akan tahu saat kita selesai makan malam," bisik Jaden di telinga istrinya.


Jantung Bia berdebar kencang saat merasakan hembusan nafas beraroma mint itu. Wajahnya juga mulai memerah karena malu.


Jaden menahan senyum melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan itu. Baginya suatu kesenangan tersendiri melihat tingkah konyol Bia.


Mereka pun pergi menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Jaden sendiri. Laki-laki itu melajukan mobil dengan pelan agar perut Bia tidak mengalami banyak guncangan.Laki-laki itu sangat peduli dengan keselamatan calon bayinya.


Namun baru melaju beberapa menit Bia tertidur di kursi penumpang. Jaden menghentikan mobilnya sejenak untuk membetulkan posisi tidur Bia. Ia memandang lekat wajah calon ibu dari anaknya itu. Hidung mancung, bulu mata lentik, kulit putih mulus rasanya tidak bosan untuk dipandang. Hingga Jaden menatap bibir ranum istrinya yang sudah lama tidak dicicipi.


Cup


Jaden mulai menempelkan bibirnya ke bibir Bia. Ia juga me**mat bibir istrinya dengan lembut hingga Bia menggeliat. Sadar kalau ada sesuatu yang menempel di bibirnya, Bia pun mengerjapkan mata.


Ia mendorong suaminya saat tahu Jaden sedang menciumnya. "Ngapain sih?" tanya Bia seraya mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya.


"Incip yang manis-manis," seloroh Jaden diiringi tawa.


"Hish, kalau mau makan yang manis-manis nanti aku beliin permen lollipop aja di mini market tuh deket situ ada," Bia menunjuk jalan ke arah mini market terdekat.


"Haha kamu bisa aja sayang," Jaden tertawa dan mengacak gemas rambut Bia.


"Hiiih kenapa sih cowok suka banget ngacak rambut cewek, gak tahu apa nyisirnya lama banget, cowok tuh enak rambutnya pendek gak disisir juga gak kelihatan nah cewek kalau gak disisir kaya kun..." Jaden terlebih dulu membungkan mulut istrinya yang cerewet itu dengan bibirnya.


"Menang banyak," kata Jaden tersenyum penuh kemenangan. Bia lalu memukul bahu suaminya.


"Dasar mesum," umpat Bia kesal.Ia oun mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kamu suka kan?" goda Jaden.


"Gak,"


"Alah ngaku aja?"


"Enggak,"


"Gak nolak?" Jaden memberikan pertanyaan jebakan.


"Gak,eh," Bia menutup mulutnya dengan tangan.


Jaden pun terkekeh.Tak lama setelah itu seorang polisi mengetuk pintu mobil Jaden karena terlalu lama menepi.Jaden pun membuka kaca mobilnya.


"Selamat malam pak," sapa polisi tersebut sembari memberikan hormat.


"Selamat malam," jawab Jaden.


"Maaf anda berada di kawasan dilarang parkir, kalau tidak ada kepentingan silahkan lajukan mobil kembali," perintah Polisi tersebut.


"Owh maaf pak, saya akan jalankan mobil saya sekarang juga," Jaden menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu ia kembali memacu kuda besi yang ia kendarai menuju ke rumah orang tuanya.


...❤️❤️❤️...


Jadiin favorite kalian ya