
"Jaden, Daddy mau bicara sama kamu," kata Darren saat Jaden baru menginjakkan kakinya di rumah.
"Ada apa dad?" meski enggan menanggapi daddynya Jaden tetap menghampiri Darren.
"Duduk!" perintah Darren pada putranya.Jaden pun patuh pada ayahnya.
"Jaden, apa daddy mengajari kamu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti ini hm?" tanya Darren berusaha tidak emosi.
Jaden hanya diam."Lalu kenapa kamu menelantarkan istrimu?" Darren mulai geram.
"Apa kamu kecewa karena kalian kehilangan anak?" Tebak Darren namun tebakannya itu benar adanya.
"Nak, kamu ingat dulu mommy juga pernah kehilangan adik kalian karena sebuah kecelakaan tapi daddy tidak marah, bahkan daddy selalu ada buat mommy mu, dia butuh dukungan, daddy yakin itu juga dirasakan oleh Berlian," kata Darren menasehati.
Jaden menunduk dan merasa menyesal karena melimpahkan kesalahan pada istrinya.
"Jangan buat diri kamu menyesal karena telah menyia-nyiakan Berlian, bukankah kamu sendiri yang menginginkannya sampai kamu menghalalkan segala cara dulu," Dad Darren mengingatkan cara Jaden yang salah demi memiliki Bia.
Setelah percakapan itu Jaden kembali merenungkan kesalahannya. Namun Bagus datang dan membuyarkan lamunannya.
"Pak sudah waktunya bertemu dengan klien," kata Bagus.
Jaden pun berdiri. Ia merapikan jasnya lalu berjalan menuju ke parkiran mobil. Sesampainya di restoran yang ditentukan, Jaden tidak sengaja berpapasan dengan Bulan. Namun, ia mengernyitkan keningnya saat Bulan menggandeng Aiden.
"Kalian?" tunjuk Jaden pada Bulan dan Aiden.
"Kebetulan sekali bertemu di sini, kenalin ini tunanganku, dialah yang membuatku menolak kakakmu," kata Bulan berterus terang.
"Ayo sayang kita tidak perlu berbicara pada orang yang tidak punya hati seperti dia," Bulan menyindir Jaden.
Jaden mengepalkan tangannya. Ia tidak marah ataupun tersinggung atas perkataan Bulan. Akan tetapi dia tahu alasan Bulan menyindirnya.
"Pak mari," ajak Bagus agar atasannya tetap fokus pada meeting yang akan dilakukan dengan kliennya.
...***...
"Bi elo jadi kerjasama bareng Samuel lagi? Bukannya dulu dia yang nolak elo ya, kenapa sekarang malah dia yang ngajakin elo kerjasama?" tanya Keyla bingung.
"Gue gak tahu motifnya apa yang jelas kerjasamanya menguntungkan buat gue," kata Bia penuh keyakinan.
"Nanti sore perlu gue temenin gak?" tanya Keyla.
"Gak usah Key, gue tahu Samuel gak suka sama orang yang belum dia kenal, waktu itu aja pas Jaden datang nyamperin gue kerjasamanya langsung dia batalin," tolak Keyla dengan halus.
"Yasudah kalau gitu kita makan siang di kafe gue yuk, nyokap gue kangen sama elo katanya," ajak Keyla bersemangat.
Bia pun merangkul sahabatnya dan berjalan bergandengan seperti waktu dulu mereka masih kuliah.
Sesampainya di kafe Keyla, Bia disambut oleh Lulu, ibunda Keyla. "Ya ampun Berlian tante kangen banget sama kamu, ayo duduk," Lulu mengajak anak sahabatnya itu duduk.
"Pesen makan yang banyak gak usah bayar," kata Lulu.
"Ah yang bener tante?" goda Bia.
"Eh Key tumben kafe lo jam segini ada penyanyinya," tanya Bia saat melihat ke arah panggung.
"Mereka baru di sini, mungkin lagi gladi resik," jawab Keyla asal.
"Suaranya bagus juga Key," puji Bia saat vokalisnya mulai menyanyi.
"Shiit ngena banget tu lagu, gue berasa kesindir," umpat Bia.
"Emang elo tahu apa artinya tu lagu Bi?" tanya Keyla heran.
Tanpa sadar air mata Bia meleleh mendengar lagu yang dibawakan oleh vokalis band tersebut. Keyla membawa Bia dalam pelukan dan menepuk pelan punggungnya untuk menguatkan sahabatnya.
"Udah jan nangis lagi, gue suruh ganti aja tuh lagu, lagian siang-siang gini dengerin lagu melo bikin mood gak bagus ya gak," kata Keyla.
...***...
Jaden memutuskan mencari istrinya setelah menyelesaikan meetingnya.
"Apa perlu saya temani pak?" tanya Bagus menawarkan diri.
"Tidak saya juga punya privasi, serahkan kunci mobilnya," pinta Jaden.
Kemudian ia melajukan mobil kencang dan menghubungi kontak Bia namun nomor yang ia tuju tidak dapat dihubungi.
"Sial, gak aktif," umpat Jaden sambil memukul kemudi mobilnya.
Lalu Jaden menghubungi nomor Keyla. Keyla mengernyit heran. "Ngapain ni orang tiba-tiba nelpon gue?" gumam Keyla.
"Hallo," jawab Keyla malas.
"Key, elo tahu dimana Berlian?" Tanya Jaden.
"Ngapain kak Jaden tanya-tanya soal Bia, bukannya sekarang kak Jaden udah gak peduli lagi sama dia?" geram Keyla pada suami sahabatnya itu.
"Keyla," bentak Jaden.
Keyla tersentak kaget. "Bia lagi meeting sama Samuel di restoran XX," Keyla menutup mulutnya karena sadar sudah keceplosan.
Jaden memutus sambungan telepon sepihak. Ia pun menambah kecepatan mobilnya.
"Dasar laki-laki gak ada akhlak," umpat Keyla sambil menjauhkan telepon dari telinganya.
Di restoran XX Bia sedang mengadakan meeting dengan Samuel. Beberapa hari lalu Samuel mendengar kalau Bia sudah tidak bersama Jaden. Ia mengira mereka berpisah. Maka ia berniat mendekati Bia kembali. Sudah sejak lama Samuel menaruh hatinya pada Bia namun sayang Bia sudah menikah dengan Jaden.
"Bi elo sudah gak sama suami lo?" pertanyaan Samuel membuat Bia memicingkan matanya. Wanita itu tidak suka Samuel tiba-tiba membahas masalah pribadinya.
"Fokus aja ke kontrak kerjasama kita Sam," elak Bia.
"Bi elo tahu gue sudah lama suka sama elo," Samuel tiba-tiba meraih tangan Bia dan menggenggamnya.
Bia jadi salah tingkah. "Em Sam gue izin ke toilet dulu ya," Bia berusaha menghindar.
Pada waktu Bia pergi ke toilet Samuel memasukkan sesuatu ke minuman Bia. Ia menyeringai licik. "Tunggu aja setelah kamu minum ini Bi, kamu akan jadi milikku," gumam Samuel.
"Sorry gue lama," Bia tak enak hati.
"Jadi gimana Bi elo terima cinta gue?" desak Samuel.
"Sam, please gue masih bersuami," tolak Bia secara halus. Lalu ia meminum jus yang ada di hadapannya untuk meredam emosinya.
"Tapi suami elo gak peduli kan sama elo," tuduh Samuel. Bia terdiam. Sesaat ia merasakan pusing di kepalanya.
"Kepala gue kenapa jadi berat gini sih?" keluh Bia sambil memegang kepalanya yang pening.
"Kenapa Bi, gue antar pulang ya?" tawar Samuel.
"Mobil gue?"
"Nanti gue suruh Keyla ngambil mobil lo," kata Samuel sambil menahan senyum.
Samuel menggandeng bahu Bia karena sempoyongan.
Di saat yang bersamaan Jaden melihat mereka baru memasuki mobil. Ia curiga terjadi sesuatu pada istrinya. Maka ia putuskan mengikuti mobil yang dikendarai Samuel.
Apa yang akan terjadi setelah itu?
Buat yang penasaran lanjut terus ya bacanya. Like koment dan favoritkan ya.