My Beloved Partner

My Beloved Partner
154



"Dih, jadi pacar nggak ada pengertiannya sama sekali," Sandra mencebik kesal.


"Lah, nyonya marah Bos," kelakar Agung, sedangkan Andi dan Amar tertawa mendengar Agung meledek Alex.


Alex mengikuti langkah kekasihnya. "Kamu marah?" Tanya Alex.


"Nggak, cuma kesel aja, aku dari tadi haus kamu main ambil aja minuman orang aja," protes Sandra.


"Maaf, aku beliin minuman yuk!" Bujuk Alex.


"Yang dingin," kata Sandra. Ia sudah tidak marah lagi.


"Iya," Alex mengacak rambut Sandra gemas. "Jadi pengen cium," goda Alex kemudian yang malah mendapat pukulan kecil di bahunya.


"Siapa pasangan favorit lo di sekolah ini?" Tanya Andi pada kedua temannya.


"Gue sih dukung Alex sama Sandra selain nama belakang mereka hampir sama, mereka juga gak lebay pacarannya," kata Amar.


"By the way Ciara belum ada yang punya tuh, gue mau coba deketin dia ah," seru Agung. Entah kenapa Andi merasa tak rela.


"Udah lo sama Bella aja lebih cocok." Andi meraup muka Agung.


"Tangan lo bau saus bencong," umpat Agung.


Seusai istirahat Alex memberikan buku novel yang ingin dibeli oleh Sandra kemaren ketika di toko buku. "Nih buku kamu."


"Eh, makasih," ucap Sandra dengan girang. Ia bahkan memeluk novel yang diberikan oleh Alex.


"Gue jadi iri sama novel itu."


"Kenapa?"


"Pengen di peluk juga," rengek Alex pada Sandra.


"Gung, Alex pengen dipeluk sama lo," goda Sandra pada Alex yang malah meminta Agung untuk memeluk kekasihnya itu.


"Sini, Bos." Agung hendak memeluknya tapi Alex buru-buru menghindar. Aksi kejar-kejaran di dalam kelas pun dimulai. Teman-teman Alex, menertawakan kedua pemuda itu.


...***...


"Bos, kita balik duluan ya," pamit teman-teman Alex. Alex melambaikan tangan pada teman-temannya.


"Kita pulang yuk!" Ajak Alex pada kekasihnya.


"Sandra tunggu!" Seseorang memanggil Sandra.


"San, gue dari kelas IS-2 gue mau nawarin elo gabung di tim cheerleaders kita elo mau nggak?" Kata seorang siswi yang berdiri di hadapannya.


"Sorry, tapi gue nggak bisa," tolak Sandra.


"Kenapa San? Koreo lo bagus kok, Bella udah mengundurkan diri dari tim cheerleaders kita jadi kita kekurangan anggota."


"Gue punya alasan pribadi kenapa gue nggak bisa ikut, maaf." Sebenarnya Sandra ingin ikut bergabung tapi mamanya pasti akan mempermasalahkan jika ia pulang terlalu sore.


"Apa kamu takut sama mama kamu?" Tanya Alex. Sandra mengangguk jujur.


"Aku punya ide, gimana kalau kita minta surat resmi dari sekolahan agar kamu diizinkan sama mama kamu buat gabung," usul Alex.


"Boleh juga tuh Lex," timpal siswi yang bernama Mita itu.


"Nanti gue coba minta sama Bu Dea," timpal Mita. Alex mengangkat jempolnya.


Setelah itu Sandra diantar pulang oleh Alex. "Yang, mau mampir beli cilok nggak?" Alex tak sengaja melihat tukang penjual cilok. Sandra pun menengok.


"Boleh deh, kasian bapak-bapaknya kayaknya lagi sepi jualan, oh iya Lex aku lupa ini kan hari Rabu aku biasanya ngajarin anak-anak buat baca tulis, aku mau telepon papa buat minta izin dulu," kata Sandra. Alex mengangguk.


Kemudian Alex memesan cilok untuk dirinya dan sang kekasih. Sandra berjalan mendekat setelah ia selesai menelepon. "Udah?" Tanya Alex pada Sandra.


"Udah, papa ngizinin kok, aku nggak berani telepon mama soalnya dia pasti ngelarang aku," kata Sandra sambil terkekeh.


"Lex, beli ciloknya banyak banget," protes Sandra ketika melihat penjual itu membungkus banyak cilok.


Seusai memborong cilok mereka menuju ke tempat yang biasa digunakan oleh Sandra untuk mengajari anak-anak kurang mampu itu baca dan tulis.


"Maaf ya adik-adik, kakak jarang kemari," ucap Sandra dengan wajah sendunya.


"Iya, kak nggak apa-apa," jawab mereka dengan kompak.


Sebelum Sandra mulai mengajar ia membagi-bagikan cilok yang mereka beli tadi di perjalanan. "Lain kali kakak pasti akan bawakan makanan yang lebih enak dari pada ini." Mendengar ucapan tulus dari kekasihnya, hati Alex menjadi terenyuh.


Lalu Sandra mulai mengajari anak-anak itu membaca dan menulis. Sedangkan Alex duduk di belakang sedang sibuk memotret Sandra yang sedang mengajar.


Lalu Alex memajang foto Sandra ke beberapa media sosialnya.


"My girl is so beautiful"


Begitulah caption yang ia tulis. Tak lama kemudian banyak chat yang masuk ke handphone Alex. Alex mengulas senyum tapi enggan membalas chat tersebut. Ia kembali memandang wajah Sandra yang amat cantik. Aura kehangatannya semakin nampak jelas saat ia mengajari anak-anak itu dengan telaten.


"Calon istri idaman dah," gumam Alex sambil terkekeh kecil.


Lalu seorang anak kecil menyenggol lengan Alex karena sedari tadi Alex melamun ketika memandang wajah Sandra. Anak itu merasa terganggu dengan sikap Alex.


"Kakak suka ya sama kak Sandra?" Ledek anak kecil itu. Alex hanya menyuruhnya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Anak kecil itu malah tertawa.


"Kalian yang di belakang, berisik sekali," omel Sandra pada kedua laki-laki beda generasi tersebut.


"Tu kan disuruh diem," Alex menempelkan ujung telunjuknya pada bibirnya supaya anak itu diam. Ia pun menurut.


Seusai mengajar Sandra pamit pada anak-anak itu. "Terima kasih ya kalian mau ikut belajar bareng kakak," kata Sandra.


"Iya, kak," jawab semua anak dengan kompak.


Setelah itu Alex mengantar kekasihnya pulang. "Kamu capek?" Tanya Alex penuh perhatian.


Sandra tersenyum mendengar pertanyaan Alex. "Nggak kok, aku malah seneng banget berkesempatan mengajari mereka, jadi ilmuku nggak sia-sia, kamu tahu nggak ilmu itu nggak akan habis meski sudah dibagi beberapa kali, justru akan bertambah setelah kamu membaginya," kata Sandra dengan bijak.


Tidak salah Alex memilih Sandra sebagai kekasihnya. "Aku makin sayang sama kamu, cium boleh nggak?" Goda Alex.


Sandra tertawa mendengar rayuan gombal Alex. "Nanti aja kalau udah resmi," jawab Sandra.


"Resmi apa?" Tanya Alex. Ia seakan mendapatkan kode dari pacarnya.


"Eh??" Sandra malah tidak siap memberi alasan.


"Nggak papa, lupain aja!" Jawabnya dengan gugup.


"Kalau dikit aja boleh nggak?" Alex kembali menggodanya. Hingga Sandra mencebik kesal. Ia tak sampai memukul Alex karena Alex sedang mengemudi. Ia sadar akan bahayanya jika dia mengganggu Alex.


Alex melirik ke arah Sandra. Wajah Sandra yang memerah itu membuatnya gemas sekali. Ia hanya bisa mengacak rambut Sandra dengan sayang.


Jantung Sandra berdebar tiap kali Alex menyentuh kepalanya. "Lex, rambut aku jadi berantakan kan?" Sandra pura-pura protes agar tidak kelihatan malu di depan Alex.


"Tapi suka kan?"


...❤️❤️❤️...


Othor : Duh Bang Alex othor sampai eneg digoda terus sama abang, eh. 🤣


Alex : Othor mah baperan, orang gue goda Sandra.


Othor : Sandra itu yang buat karakter siapa?


Alex : Ya elu lah, pikun nih emak-emak


Othor : berani debat emak eh othor gue bikin putus lo ntar


Alex : ampun thor jan ngadi-ngadi, eh nggak lagi-lagi 🙏


Othor : 🤣🤣