
"Mama," Jaden kaget saat mama mertuanya sudah berada di depan pintu.
"Apa Berlian ada di sini?" tanya mama Ara lembut. Ia *******-***** tangannya karena cemas.Jaden mengangguk.
"Silahkan masuk ma," ucap Jaden dengan sopan.
"Mama," panggil Bia.
"Benar kan dugaan mama kamu ada di sini, apa kalian sudah baikan?" cecar Ara.
Keduanya tidak menjawab. Tapi mama Ara bisa melihat ekspresi senang di wajah Jaden. "Syukurlah mama senang kamu gak jadi janda muda," celetuk Ara.
"Ya ampun mama ngomongnya ko gitu," protes Bia.
"Jaden mama mohon jangan tinggalin Bia lagi, mama tahu Bia sangat mencintai kamu meskipun kamu sempat tak peduli padanya," mohon Ara pada menantunya.
"Jaden janji ma, Jaden akan menjaga Bia dengan sepenuh hati," ucap Jaden sambil menggenggam tangan mama Ara untuk meyakinkan.
Hati mama Ara manjadi lega mendengar perkataan Jaden. Ia tahu Jaden bukan orang yang suka mengumbar janji. Mama Ara pun tersenyum pada menantunya.
"Ya sudah mama pulang dulu, kalian mau berangkat ke kantor kan?" tanya mama Ara.
"Iya ma," jawab Jaden.
"Ma aku bareng ya," sahut Bia.
"Lho kamu gak bareng sama suami kamu Bi?" tanya mama Ara heran. Mungkinkah putrinya itu masih marah pada suaminya, pikir mama Ara.
"Ya sudah, nak Jaden, Bia boleh kan bareng sama mama?" tanya mama Ara.
"Ma, gak usah izin kali," ketus Bia.
Jaden menangkap kekesalan di wajah istrinya.Dari pada ia berdebat di depan ibu mertuanya Jaden pun akhirnya mengizinkan. "Ya sudah ma, gak papa," kata Jaden lembut.
"Kami duluan ya nak," pamit mam Ara.
Jaden meraih tangan ibu mertuanya lalu menciumnya. "Hati-hati ma,Bi," kata Jaden yang menoleh ke mama Ara lalu berganti ke istrinya.
"Bi kamu gak salaman sama suami kamu, hm?" tanya mam Ara.Bia mencium tangan Jaden dengan terpaksa.
Meskipun mam Ara berangkat bersama Bia. Jaden mengikuti mobil mereka dari belakang. Ia ingin memastikan keduanya dalam keadaan baik-baik saja.
Sesampainya di kantor ojek online Bia disambut Keyla. Keyla melihat sekilas mobil Jaden ada di belakang mobil yang ditumpangi oleh atasannya itu.
"Bu bos," sapa Keyla basa-basi.
"Kemana aja lo, nyokap lo khawatir katanya semalam elo gak tidur di rumah, tadi pagi dia nelpon gue," tanya Keyla.
"Keppo,"
"Bi mobil kak Jaden ko ngikutin elo, jangan-jangan elo udah baikan sama dia dan elo semalam tidur di rumahnya?" tebak Keyla.
Bia tak menanggapi. Wanita itu berjalan meninggalkan Keyla. Namun Keyla yang masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya kemudian mengekori sahabat sekaligus atasannya itu.
"Ngapain lo ke ruangan gue? ada yang perlu gue tanda tangani?" tanya Bia pada Keyla.
"Lo gak mau cerita sama gue, lo sekarang udah berubah Bi,gue masih sahabat elo kan?" desak Keyla.
Bia menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya pelan. "Iya semalam gue tidur di rumah kak Jaden,"
Keyla mendekat ke arah Bia ia sangat ingin mendengar pengakuan Bia."Terus terus," kata Keyla.
"Ini semua gara-gara si Samuel br*ng*ek itu, kemaren dia nyampurin sesuatu ke minuman gue, gue rasa dia punya niat jahat sama gue," Bia bercerita dengan nada kesal pada Samuel.
"Kurang ajar tu orang," umpat Keyla.
"Iya," jawab Bia pasrah.
"Ih novel banget sih, tapi kak Jaden keren ya dia nolongin elo di saat yang tepat, elo harus berterima kasih sama gue, coba kalau kemaren dia gak nelpon gue mana tahu dia kalau elo lagi sama Samuel," kata Keyla panjang lebar.
"Iya terima kasih nona Keyla, tapi lo gak bermaksud minta imbalan kan ke gue," tebak Bia.
"Ih tahu aja lo Bi, hari ini kan hari belanja nasional," sahut Keyla.
"Terus?" Bia menautkan alisnya.
"Ya elo transfer ke dompet digital guelah biar gue bisa shopping-shopping di marketplace," cerocos Keyla.
"Oke, lo minta berapa?" tanya Bia.
"Lima juta aja," kata Keyla bersemangat.
"Oke, gue transfer tapi bulan ini elo gak terima gaji, gaji elo udh gue bayar dimuka," ketus Bia.
"Yagh elo tega sama gue Bi," Keyla mendapatkan tatapan tajam dari Bia.
"Saudara Keyla tolong profesional dalam bekerja," kata Bia tanpa melihat ke arah Keyla. Ia sedang mengetik di laptopnya.
"Ih bener-bener ya lo, awas aja ntar gue kerjain," Keyla mendapatkan ide di benaknya. Ia pun tersenyum lalu keluar dar ruangan Bia.
...***...
Pagi itu Jaden datang ke hotel Danz Smith untuk menemui Julian yang akan membahas mengenai proyek baru yang sedang mereka kerjakan.
Julian melihat hal tak biasa pada diri Jaden. "Tumben wajah lo sumringah kaya gini? Habis dapat tender ya lo?" tanya Julian kepo.
Jaden menggelengkan kepalanya. "Ini tu lebih dari tender bang," jawab Jaden mengingat percintaan panasnya semalam setelah lebih dari sebulan ia tak merasakan kenikmatan berhubungan dengan pasangan.
"Memangnya apa?" tanya Julian semakin penasaran saja.
"Ah elo gak akan ngerti, kalau gue jelasin juga kasian elo gak ada lawannya bang," ledek Jaden yang malah mendapatkan lemparan bantal dari Julian.
Jaden malah terkekeh setelah puas meledek abangnya. "Makanya bang cepetan lo nikah," kata Jaden sok peduli.
"Biar lo tahu gimana rasanya surga dunia," imbuh Jaden seraya tertawa mengejek.
"Cih, aku kira kamu jadi nyeraiin Bia, padahal gue siap nampung dia di hati gue yang lagi kosong ini,"
"Kamprett lo bang, nyumpahin gue jadi cerai sama Bia," umpat Jaden yang kesal dengan abangnya.
Ah iya dia belum memeberitahu Bagus. Jaden pun berlari ke luar ruangan Julian.
"Jaden ini berkasnya," Ruby hendak menyampaikan berkas pada Jaden tapi laki-laki itu berlari keluar.
"Kirim aja ke kantor aku," teriak Jaden.
Ruby menoleh ke arah Julian. Ia mencari tahu dalam diam. Julian hanya menggedikkan bahu. Ia juga tidak tahu apa yang menyebabkan Jaden pergi begitu saja.
Jaden mencoba menghubungi Bagus. Namun yang menjawab malah operator jaringan seluler. Sepertinya Bagus sedang menelpon seseorang. "Ah sial," umpat Jaden yang kesal karena tidak dapat menghubungi asistennya.
Jaden pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap Bagus belum mengurus surat perceraian yang ia minta kemaren.
...❤️❤️❤️...
Jangan lupa kasih vote ya biar masuk rekomendasi lagi. Kasih semangat aku dengan memberikan bunga padaku
Love love sekebon buat yang nagsih like dan komennya juga.