
Ara yang kagum dengan sikap Jaden yang dianggap begitu keren karena meminjamkan jas untuk menutupi tubuh Bia yang basah layaknya pemain-pemain film drakor kesukaannya, memiliki ide untuk membuat Bia dan Jaden semakin lengket.
Sabtu ini Bia libur kuliah. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi namun gadis itu belum bangun juga.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Bia. Akan tetapi gadis berusia 20an tahun itu masih terlelap di atas ranjangnya. Ara coba membuka pintu kamar Bia ternyata tidak terkunci.
"Ya ampun anak perawan jam segini ko belum bangun, sholat subuh apa gak tadi?" Omel Ara pada putrinya.
"Aku lagi berhalangan, Ma," jawab Bia dengan suara parau dan mata masih terpejam.
Ara duduk di ranjang putrinya. "Ayo bangun Bi?" Ara menggoyang tubuh putrinya dan mencoba menyingkap selimut yang membalut tubuhnya.
"Biarin aku tidur lebih lama lagi ma," Bia menarik kembali selimutnya. Ara menggelengkan kepalanya saat anaknya itu susah dibangunkan.
"Hish ni anak susah banget dibangunin, apa perlu mama guyur kamu pakai gayung hm?" ancam Ara agar Bia mau bangun.
"Ish mama ganggu aja," kesal Bia. Namun, pada akhirnya ia bangun dengan terpaksa. Rambutnya masih berantakan.
"Ya ampun mandi sana biar iler kamu ilang," ejek Ara pada putrinya.
Bia lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangan. "Mana, gak ada?" Kata Bia saat tak mendapati apa-apa.
"Bangun, habis ini anterin makanan buat Jaden," perkataan Ara membuat Bia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Lah tumben, Ma?" Tanya Bia yang kaget.
"Sekali-kali kamu main ke kantornya," usul Ara.
"Males ma, Bia malu kalau mesti nyamperin dia. Lagian dia kan udah gede bisa jajan di luar," tolak Bia.
"Ya ampun ini anak gak ada perhatiannya sama pacar, udah mandi sana terus anterin makanan yang mama buat pacar kamu," Ara menarik tangan Bia agar turun dari ranjangnya. Lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Sambil menunggu Bia keluar dari kamar mandi, Ara menyiapkan baju untuk putrinya pakai. "Cantik nih, punya baju begini cantik ko gak pernah dipakai sih?" Gumam Ara melihat dress warna putih yang ia keluarkan dari lemari Bia.
"Cepet banget Bi mandinya, kaya bebek," ejek Ara saat Bia baru keluar dari kamar mandi tanpa melihat ke arah putrinya.
"Ya emang mau ngapain lagi ma di dalam?" Seloroh Bia.
"Nih pakai baju yang ini," Ara memberikan dress yang ia pilihkan untuk putrinya.
"Ngapain pake beginian sih ma kan bukan pergi ke acara resmi," tolak Bia yang tidak menyukai dress pilihan ibunya.
"Sekali-kali dandan yang cantik Bi, anak gadis mesti pandai merawat diri, udah cepetan pakai," Bia cemberut mendengar perintah ibunya. Bahunya meluruh ia terpaksa memakai pakaian itu.
"Nah cantik kan," puji Ara saat melihat dress yang Bia pakai terlihat sangat cocok dikenakan oleh putrinya itu.
"Duduk sini sayang," Ara menyuruh Bia duduk di depan cermin. Ia membuka tas make up yang ia sempat ambil di kamarnya saat Bia mandi tadi.
Dengan tangannya yang terampil Ara memoles wajah Bia dengan bedak. Lalu memakaikan eye shadow warna peach. Kemudian membuka eye liner dan memoleskan pada matanya. Tak lupa mengusapkan maskara pada bulu mata Bia agar terlihat lentik.
"Mau diapain sih ma?" protes Bia saat ibunya tak selesai mendandani dirinya. Bia yang sehari-hari tak pernah memakai make up merasa risih ibunya terus menyentuh wajahnya dengan polesan yang tak pernah ia gunakan sebelumnya.
"Diem nanti wajah kamu jadi jelek kalau kebanyakan protes," omel Ara.
"Eh eh rambut Bia mau diapain, Ma?" Bia merasakan rambutnya ditarik oleh sang ibu.
"Ini namanya dicatok, lagian rambut lempeng-lempeng aja, sekarang tuh modelnya yang curly gitu Bi," Bia memutar bola matanya jengah. Merasa sang ibu terlalu berlebihan mendandani dirinya.
"Bia gak suka ma," rengek Bia.
"Selesai, nah gini kan cantik," Ara memuji hasil karyanya.
Bia terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang berubah curly. Ditambah sentuhan make up natural dan dress yang cocok dipakai membuat tampilan Bia begitu sempurna.
Bia sesaat tertegun melihat dirinya sendiri di depan cermin. "Mau jadi kurir makanan aja dandan secantik ini," protes Bia.
"Hei kamu akan menjemput jodohmu ups salah, kamu akan bertemu pacarmu sekali-kali buat dia tidak bisa melirik wanita lain," Ara dengan seringai liciknya.
"Ngomong apa sih ma, gaje," Bia pun keluar dari kamarnya.
"Bi sepatumu ganti jangan pakai yang itulah," larang Ara. Ara menunjukkan sepatu heels yang ia tenteng.
"Ma kalau aku pakai sepatu chats kesannya santai kalau aku pakai heels ntar dikira mau kondangan,"
"Oh bener juga," kali ini Ara menyetujui saran putrinya.
"Ya sudah Bia berangkat sekarang ya ma,bagi duit dong ma," pamit Bia seraya mencium tangan ibunya.
"Kamu naik mobil mama aja," perintah Ara. Bia lalu menengadahkan tangannya. Namun, Ara malah menepuk tangan putrinya itu.
"Pakai sopir biar gak ketahuan papa," kata Ara. Bia nampak kecewa.
"Hati-hati ya sayang, salam buat pacar kamu yang keren itu," Bia menoleh ke arah ibunya lalu memicingkan matanya sebentar lalu berbalik badan dan keluar rumah.
"Kalau gak dipaksa gak mau nih dandan kaya gini, malu banget untung tadi bawa masker," gumam Bia di depan spion mobil ibunya.
"Yuk pak berangkat," ajaknya pada sang sopir saat dirinya naik ke mobil.
Setelah tiga puluh menit perjalanan dari rumahnya Bia sampai di depan hotel Danz Smith. Ia pun turun lalu meminta sopir untuk menunggunya karena sang ibu tidak memberinya uang saku.
"Ya kali mama lupa ngasih uang saku hari ini, biarin supirnya gue tahan, biar nyokap gak bisa jalan kemana-mana," gumam Bia dibalik masker yang ia pakai seraya berjalan di lobi hotel bintang lima tersebut.
"Gue telepon dia dulu atau langsung naik aja ke ruangannya ya?" Sesaat setelah berfikir, " Ah gue naik aja, kelamaan kalau nunggu dia di bawah," katanya.
Gadis cantik dengan balutan dress warna putih yang sedang menggunakan masker untuk menutupi wajahnya itu menaiki lift sampai ke lantai dimana ruangan Jaden berada. Seingatnya dulu ia pernah dibawa paksa ke ruangan itu. Padahal yang membawanya itu bukan Jaden melainkan Julian.
Tangan Bia agak dingin. Ia ragu untuk kembali melangkahkan kaki ke ruangan Jaden. Ia mengatur nafasnya sejenak lalu memantapkan diri.
"Bisa bertemu dengan Pak Jaden?" Tanya Bia pada sekretaris yang sedang sibuk mengetik menggunakan keyboardnya itu.
Wanita di hadapan Bia itu menoleh. "Dengan siapa? Apa sudah ada janji sebelumnya?" Selidik wanita itu.
Bia menggeleng. Ia masih menggunakan masker sehingga Ruby tidak mengenali gadis yang ada di hadapannya itu. Ruby hanya memperhatikan tampilannya dan rantang makanan yang gadis itu bawa.
Tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari ruangan tersebut. Bia dan Ruby sama-sama menoleh ke arahnya.