
"Mommy," teriak Bia saat memasuki rumah mertuanya.
"Berlian jangan teriak-teriak," kata mom Celine sambil menutup mulutnya sendiri dengan satu jari.
"Ups maaf mom, babynya lagi tidur ya?" tanya Berlian. Mom Celine mengangguk. Ia menoleh ke arah Jaden.
"Kamu belanja apa aja tadi?" tanya mom Celine seraya mengambil sedikit barang bawaan Jaden.
"Liat deh mom aku belanja baju lucu-lucu banget buat si baby," Bia mengeluarkan satu per satu barang belanjaannya.
Mulai dari topi,baju, jumper, sampai selimut yang berwarna serba pink. Semua itu dipilih untuk anak Julian. Bayi yang masih belum memiliki nama.
Mom Celine bahagia melihat menantunya itu terlihat ceria saat menunjukkan barang belanjaannya. Wanita yang masih cantik di usianya yang tak muda lagi itu merasa kasian pada manantu kesayangannya itu karena kehilangan anak yang seharusnya sudah berumur satu tahunan kalau saja dia tidak meninggal.
"Duduk dulu mommy buatin minum,"kata mom Celine tapi Berlian mencegahnya."Gak usah mom nanti kita ambil sendiri," kata Bia yang tidak mau merepotkan mama mertuanya.
"Mom bagaimana keadaan Raina?" tanya Jaden namun tiba-tiba seseorang menjawab mereka dari arah luar.
"Aku sudah baikan," Raina berada di ambang pintu rumah besar itu.
Julian mendorong kursi roda yang diduduki Raina. Keadaannya yang lemah tidak memungkinkan untuk berjalan. Waktu itu Julian ingin sekali menggendong wanita yang telah melahirkan anaknya itu namun Raina menolak dengan alasan bukan mahromnya.
Mom Celine dan yang lainnya berdiri. Mereka terkejut pasalnya Julian tidak memberitahukan kepulangan Raina.
"Sayang apa kau sudah baikan?" mom Celine meraih tangan Raina dan ingin membantu Raina berdiri.
"Seharusnya dia belum boleh pulang mom,tapi dia kangen sama bayinya," sahut Julian.Julian clingak clinguk mencari keberadaan bayinya.
"Dia sedang tidur bang," jawab Jaden yang menangkap gelagat abangnya. Julian beroh oh ria.
Mom Celine mendudukkan Raina dengan hati-hati. Raina bisa melihat sifat keibuan yang dimiliki mom Celine. Ia merasa diistimewakan padahal dirinya belum menjadi bagian dari keluarga itu.Wanita yang berhijab itu tampak menitikkan air mata.
"Sayang kenapa kamu menangis, apa ada yang sakit?" tanya mom Celine panik seraya mengangkat dagu wanita yang ada di hadapannya itu.
Julian sempat mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang mengira Raina mengalami kesakitan. Tapi rupanya laki-laki itu salah.
Raina menggeleng."Saya merasa terharu, sebelumnya tidak ada yang memperhatikan saya seperti ini," kata Raina sambil terisak.
"Syukurlah, mommy kira kau sakit lagi," kata mom Celine yang merasa lega.
"Dengar nak, anggaplah mommy ini seperti ibumu sendiri, lagipula sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami benar begitu Julian?" mom Celine melirik ke arah putranya.
Blush. Wajah Raina memerah saat mendengar perkataan mommy Celine. Sedangkan Julian jadi salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Di sisi lain Bia sedang mendandani anak Raina dan Julian. Ia gemas sekali dengan bayi perempuan yang gembul itu.
Bia memakaikan baju beranda warna pink yang baru saja ia beli. Tampak lucu dan menggemaskan. Ditambah sepatu berkepala boneka yang terbuat dari bulu. Ia juga memakaikan asesoris berupa gelang manik-manik yang lucu yang sempat ia beli di toko perlengkapan bayi tadi.
"Hei lihatlah aku sangat cantik," Bia keluar dari kamar dengan menggendong bayi Raina.
Semua orang terkekeh melihat kelakuan Bia dalam mendandani bayi mungil itu.Tapi tidak dengan Julian."Kau apakan anakku?"
"Anakku? Julian mengakui kalau bayi itu anaknya?" ada rasa bahagia yang terbesit di hati Raina.
"Kenapa? aku cantik kan?" kata Bia manja sambil menirukan suara anak-anak.
"Kau pikir anakku itu boneka," sungut Julian. Ia mengambil alih anaknya dari gendongan Bia.Raina sangat bahagia melihat Julian begitu menyayanginya anaknya.
"Terima kasih Ya Allah atas segala rejeki yang kau berikan," ucap Raina dalam hati.
"Ya ampun papamu sangat galak nak," protes Bia seraya mengerucutkan bibirnya.Jaden meraih pinggang istrinya dan tersenyum."Sudahlah nanti kita buat bayi yang banyak,"Bia melotot mendengar perkataan Jaden.Laki-laki yang notabene suami Bia itu malah mendapatkan respon pukulan dari istrinya.
"Jangan mesum," sungut Bia.Jaden malah terkekeh.
Bia dan Jaden merasa mereka sudah terlalu terlam di rumah besar itu.Keduanya pun pamit pada mom Celine.
"Onty pulang dulu ya cantik," Bia berpamitan pada bayi yang berada di pangkuan ibunya itu.
"Terima kasih sudah membelikan banyak baju untuk bayiku," kata Raina tidak enak hati
"Oh ya kalian belum memberinya nama," Bia menoleh pada Raina lalu bergantian pada Julian.
"Sepertinya kalian masih bingung, bagaimana kalau aku yang memberinya nama?" Bia berpendapat. Namun sebelum pendapatnya disetujui ia sudah mengutarakan nama yang ia pilih untuk anak Julian dan Raina.
"Sovia, kamu princess Sovia," Bia mencubit gemas pipi gembul bayi yang baru genap berumur seminggu itu.
"Nama yang bagus," Raina menoleh pada Julian tentu saja ia ingin meminta pendapat calon imamnya itu.
"Mommy juga setuju dengan nama itu," kali ini mom Celine ikut menimpali.
Julian mend3s@h. Mau tak mau Julian menyetujui nama yang diberikan oleh adik iparnya itu. Ajaib memang Bia selalu memberikan banyak kejutan yang tak terduga bagi keluarganya.
"Ya baiklah, tidak buruk," Julian menjawab pasrah sebenarnya ia ingin memberikan nama untuk anaknya tapi sayangnya belum ada bayangan dalam benaknya. Lagipula kasian juga jika bayi itu tidak memiliki nama padahal usianya sudah seminggu setelah dilahirkan. Akan kesulitan jika memanggilnya apabila tidak memiliki nama.
"Oke Sovia, onty Bia dan uncle Jaden pualng dulu ya," Bia melambaikan tangan pada Julian dan yang lainnya.
Setelah kepulangan Jaden dan istrinya. Mom Celine meminta Raina membawa bayinya masuk. Julian terpergok mengamati wajah cantik Raina. Pandangan mereka bertemu beberapa detik lalu Raina mengalihkan pandangannya ke segala arah.
Wajah wanita yang sedang menggendong bayi itu jadi memerah karena malu. Ia bahkan jadi salah tingkah hingga saat berjalan ia malah menabrak tubuh kekar Julian karena menunduk .
"Kemarikan anak itu biarkan daddynya yang menggendong,bukankah dokter melarangmu mengangkat sesuatu yang berat," ucap Julian penuh perhatian.
Hati Raina menjadi menghangat. Entah mengapa setiap ucapan yang dilontarkan Julian membuat hatinya meleleh. Ia bahkan tidak tega untuk marah pada Julian yang telah menghamili dirinya dan membuat hidupnya penuh dengan cibiran dari orang lain.
"Aku akan menikahimu segera," kata Julian mantap saat menatap manik mata Raina.
"Tidak secepat itu," suara bariton itu mengalihkan pandangan keduanya.
...💓💓💓...
Hai my beloved readers jangan lupa buat vote dan kasih giftnya ya. Aku update tiap hari ko cuma jamnya aja yang gak tentu.