
"Pak sepertinya di depan ada kecelakaan," kata Didu aasisten pribadi Rasya.
"Ah kemungkinan ini akan lama," tebak Rasya.
Mobil yang dikendarai oleh Rasya berjalan perlahan. Ketika ia menoleh ke luar jendela mobilnya, Rasya seolah mengenal mobil yang mengalami kecelakaan tersebut.
"Tunggu, sepertinya aku mengenal mobil itu," Rasya meminta Didu menghentikan mobilnya.
Rasya keluar dari mobil dan menembus kerumunan. Laki-laki yang masih tamoan di usianya itu kaget saat ia mendapati menantunya mengalami kecelakaan.
"Tolong bawa dia ke mobil saya," teriak Rasya panik.
"Kita antar dia ke rumah sakit," titah Rasya kemudian Didu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai di rumah sakit Rasya memanggil perawat agar segera menangani Jaden.
Rasya kemudian menelpon ke nomor putrinya tapi tidak aktif.Lalu Rasya menelpon istrinya agar ia bisa memberitahu sang putri.
Mam Ara segera menuju ke kantor putrinya. Wanita yang masih sangat cantik di usinya itu melaju dengan kecepatan tinggi.
"Sayang," panggil mam Ara setelah sampai di kantor ojek on-line.
"Ada apa mam?" tanya Bia heran. Pasalnya sang ibu tidak mengabari lebih dulu.
"Ikut mama sekarang," mam Ara menarik tangan putrinya. Ia tidak mau Bia syok mendengar kabar Jaden jadi mam Ara mengajak Bia.
"Kemana mam, tapi kerjaan Bia," tolak Bia.
Mam Ara berhenti sejenak. "Biar Keyla yang handle, kamu bisa diandalkan kan Key?" tanya mam Ara pada Keyla.
"Ya mam, elo pergi aja Bi," kata Keyla.
Mam Ara pun menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit dimana Jaden dirawat. Bia heran kenapa ibunya mengajak dirinya kemari.
"Mam siapa yang sakit?" tanya Bia bingung.
"Jaden," mendengar nama suaminya disebut Bia menjadi syok. Matanya berkaca-kaca.
Wanita itupun berlari mencari keberadaan suaminya. Saat ia melihat sang papa berdiri di depan ruang UGD Bia langsung menghampirinya.
"Mana kak Jaden pa?" tanya Bia panik.
"Dia baik-baik saja kan pa?" tanyanya lagi sambil memiringkan kepalanya menengok ke ruang UGD.
"Tenanglah sayang, suamimu pasti baik-baik saja, kita tunggu dokter ya," Ara mengelus-mengelus rambut putrinya supaya lebih tenang.
Bia masih saja menangis. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien," panggil dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Bia cemas.
"Beliau baik-baik saja tapi masih belum sadar, nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan," terang dokter yang merawat Jaden.
Mam Ara mengajak Bia duduk. "Minum dulu sayang," mam Ara juga memberikan air mineral agar Bia sedikit tenang.
Setelah dua jam menunggu Jaden akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Bia dan keluarganya diperbolehkan masuk meski Jaden belum sadar. Keluarga Jaden juga sudah ada di ruangan yang sama.
"Nak apa tidak sebaiknya kamu makan dulu, dari tadi pagi kamu belum makan," mom Celine membujuk menantunya.
Bia menggeleng. "Bagaimana Bia bisa makan mom melihat kak Jaden seperti ini," Bia terus menggenggam tangan suaminya. Sesekali ia mengecup dan menempelkan tangan Jaden di pipi.
Semua orang masih menunggu Jaden sadar. Hingga sebagian orang pulang kemudian keesokan harinya mereka kembali ke rumah sakit untuk menjenguk anak dan menantunya.
Bia tertidur dalam posisi duduk. Jaden mulai sadar. Ia tersenyum melihat istrinya itu menggengam tangannya. Saat Bia bergerak Jaden kembali memejamkan mata.
"Eugh," Jaden pura-pura tersadar sambil memegangi kepalanya.
Bia yang menyadari hal itu merasa sangat senang karena suaminya sudah mulai membaik. "Kak Jaden, kak Jaden udah sadar," ucap Bia senang.
"Kamu siapa? aku dimana?" Jaden pura-pura tidak mengenali Berlian.
"Kak, kakak tidak mengenali aku?" tanya Bia sedikit kecewa.
"Kamu siapa?" tanya Jaden pada istrinya. Mata Bia sudah berkaca-kaca.
Lalu Dad Darren mendekat. "Apa kau mengenal kami?" tanya Dad Darren.
"Mom, dad, Julian," Jaden menyebut mereka satu-persatu.
"Kamu mengingat mereka kenapa kamu tidak mengingat ku hua hua," Bia menangis sesenggukan di hadapan semua orang.
Jaden ingin tertawa tapi ia menahannya. Ia tidak tahan melihat wajah istrinya yang menggemaskan itu.
"Sudahlah Berlian, kalau kunyuk ini tidak mau mengenalmu, lupakan dia, aku bersedia menikahimu kalau kalian sudah bercerai," kata Julian sambil membawa Berlian dalam pelukannya.
"Sialan," Jaden melempar bantal ke arah Julian.
"Siapa bilang aku tidak mengingat istriku yang cantik ini," Jaden menarik tangan Berlian dan membawanya ke dalam pelukan.
Bia mendongak. "Jadi kamu ingat aku?" tanya wanita itu.
"Tentu saja sayang," jawab Jaden sambil tersenyum.
"Kamu jahat, jahat, jahat," Bia memukul dada bidang suaminya.
"Aw sakit Yang," Jaden meringis kesakitan.
"Biarin salah sendiri berbohong," Bia mengerucutkan bibirnya. Jaden kemudian memberi kecupan singkat di bibir istrinya.
"Dasar anak kurang ajar, beraninya pamer kemesraan di depan orang tuamu," Dad Darren geram dengan kelakuan anaknya.
"Maaf dad aku tidak tahan untuk tidak mencium istriku," kata Jaden sambil menaik-turunkan alisnya.
"Mommy senang kalian bisa akur kembali," kali ini giliran mom Celine yang bersuara.
"Jaden janji mom, Jaden tidak akan meninggalkan istriku ini, promise," kata Jaden dengan lembut sehingga membuat wajah Bia memerah.
"Aku juga akan membatalkan gugatan ceraiku, sungguh aku kalut waktu itu sehingga membuat keputusan yang sangat bodoh," jujur Jaden.
"Papa juga ikut bersalah dalam hal ini," suara bariton itu membuat semua orang menoleh.
"Waktu itu papa juga ikut andil dalam keputusan Jaden, karena papa yang meminta Jaden menceraikan kamu sayang,maafkan papa," ucap papa Rasya penuh penyesalan.
"Tidak pa, seharusnya Jaden yang meminta maaf pada papa karena telah menyia-nyiakan putri papa, Jaden maklum kalau papa bersikap seperti itu," kata Jaden bijak.
"Sayang, bagaimana denganmu apa kau sudah memaafkan suamimu?" tanya mom Celine.
Bia mengangguk."Iya mom, Berlian sudah memaafkan kak Jaden, tapi berjanjilah jangan meninggalkan aku lagi," ancam Bia.
"Siap tuan putri, aku janji akan setia sama kamu selamanya," Jaden meraih pinggang istrinya kemudian memeluk erat Berlian.
"Julian bagaimana denganmu, di sini hanya kau yang tidak punya pasangan, kapan kau akan mengenalkan pasangan mu pada kami?" tanya Darren pada putra sulungnya.
"Aku curiga Dad kakakku itu belok," kata Jaden diiringi tawa mengejek. Mendengar itu Julian melempar bantal sofa ke arahnya. Namun Jaden dapat menangkisnya.
"Seharusnya mati saja kau," umpat Julian kesal.
"Julian," mom Celine melotot pada Julian supaya anaknya itu tidak berkata kasar pada saudaranya.
Semua orang terkekeh mendengar gurauan antara kakak adik kembar tersebut.
...❤️❤️❤️...
Pliss kasih kembang ya my beloved readers, ikuti terus ceritanya aku akan rajin update biar masuk rekomendasi beranda lagi.