My Beloved Partner

My Beloved Partner
138



Keesokan harinya, Sandra merasakan badannya demam. Wajahnya terlihat pucat ketika gadis itu bercermin di depan kaca yang ada di kamarnya.


Namun, Sandra tetap memaksakan diri untuk masuk ke sekolah. "Non yakin enon kuat belajar di sekolah?" Tanya asisten rumah tangganya.


"Tenang aja mbok, aku nggak apa-apa," jawab Sandra sambil memaksakan senyumnya. Kali ini Sandra menaiki taksi menuju ke sekolahnya.


Pagi ini Alex tak melihat Sandra di tempat biasa. Sampai hampir jam tujuh ia menunggu kedatangan Sandra tapi Alex tak juga melihatnya. "Apa hari ini dia tidak masuk ya?" Gumam Alex. Ia pun memutuskan untuk melajukan motornya.


Sesampainya di sekolah, Sandra turun dari taksi itu. Ciara menepuk bahunya. "Tumben naik taksi?" Tanya Ciara.


"Iya, aku males naik ojek Ci," jawab Sandra.


"San, wajah kamu kelihatan pucat apa kamu sedang sakit?" Tanya Ciara. Sandra hanya membalasnya dengan senyuman. "Gue bantu jalan ya," kata Ciara yang khawatir dengan keadaan Sandra.


Ciara dan Sandra berjalan menuju ke kelasnya bersama. Sesampainya di kelas Sandra meletakkan tasnya kemudian duduk perlahan.


"Elo nggak ke UKS aja?" Tanya Ciara pada teman sebangkunya. Sandra menggeleng. "Gue di sini aja."


Tak lama kemudian geng A4 (Alex, Agung, Andi dan Amar) masuk ke kelas. Hari ini mereka beruntung datang sebelum gerbang sekolah di tutup.


"Coba aja gue nggak bawa mobil, elo, elo udah dihukum buat nyapu lagi hari ini," kata Andi sambil menunjuk Agung dan Amar.


"Elo emang terbaik, men" puji Agung seraya merangkul leher Andi.


Alex menatap Sandra yang sedang merebahkan kepalanya di atas meja.


"Selamat pagi anak-anak." Guru mata pelajaran mulai memasuki ruang kelas.


Di tengah acara mengajarnya, Bu Elsa melihat Sandra dari tadi hanya merebahkan kepala. Lalu ia menegur Sandra. "Sandra apa kamu tidak memperhatikan penjelasan yang saya sampaikan?"


Mendengar teman sebangkunya ditegur Ciara bersuara. "Sandra sedang sakit bu," sahut Ciara. Bu Elsa segera mendekat. Ia menyentuh kening Sandra. "Kamu demam, San. Ke UKS aja!" Perintah Bu Sandra.


Sandra berdiri tapi kakinya lemas, badannya pun ambruk. Beruntung Alex duduk di sampingnya sehingga pemuda itu menangkap tubuh Sandra.


Ia menggendong tubuh gadis itu sampai ke ruang UKS. Bu Elsa memerintahkan Ciara untuk mengikuti. "Tolong jaga dia sementara!" Ciara mengangguk.


"Ya ampun, elo kenapa bisa sampai demam gini sih?" Batin Alex ketika menatap wajah Sandra yang sedang digendong.


Sesampainya di ruang UKS, Alex merebahkan tubuh Sandra dengan perlahan. Alex memegang kening Sandra. "Ci ambilin kompres deh!" Perintah Alex pada Ciara.


Ciara pun mengambil baskom kecil lalu kain untuk mengompres demamnya. Kebetulan hari ini tidak ada yang jaga di ruang UKS karena petugas sedang libur.


Alex membetulkan tangan Sandra yang menggantung. Saat ia menyentuh telapak tangannya terasa dingin. Ia pun berinisiatif menggosok kedua telapak tangannya kemudian menempelkan pada telapak tangan Sandra. Ia melakukannya berulang-ulang sampai tangannya terasa hangat.


Ciara merasa tersentuh ketika melihat perhatian Alex pada Sandra. "Gue tinggal dulu ya Lex, nggak apa-apa kan?" Tanya Ciara.


"Elo pergi aja, lagian ini udah ganti jam pelajaran, nanti elo dikira bolos sama guru," kata Alex.


Alex memutar bola matanya malas. "Iya, bawel." Setelah itu Ciara pun meninggalkan ruang UKS.


Alex menatap wajah cantik Sandra. "Kenapa elo bisa sampai sakit begini sih?" Tanya Alex pada Sandra yang masih pingsan.


Alex memilih bersandar di kursi sambil menaikkan kakinya ke atas meja. Sejam kemudian Sandra tersadar. Ia memindai ke sekeliling ruangan.


"Alex?" Ucapnya lirih ketika melihat pemuda itu tidur di atas kursi sambil bersidekap.


Sandra melempar sesuatu ke arah Alex. "Bangun woi!" Pekik Sandra.


"Ck, lagi enak-enakan tidur juga, ganggu aja," gerutu Alex.


"Yee, ni anak ke sekolah bukannya belajar malah tidur doang," cibir Sandra.


"Suka-suka guelah, orang ni sekolah punya..." Alex menghentikan omongannya, hampir saja dia keceplosan.


"Punya siapa?" Tanya Sandra.


"Ya punya yayasanlah masa punya lo." Alex mengalihkan pembicaraan. Sandra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurb temannya itu.


"Gue mau balik ke kelas." Sandra turun dengan perlahan.


Alex segera berdiri dan membantu Sandra. Pemuda itu memegang tangan gadis yang berbulu mata lentik itu. Sejenak pandangan mereka bertemu. Sandra dan Alex sama-sama merasakan debaran jantung yang cukup keras.


Sesaat kemudian mereka saling menyadari. Sandra melepas pegangan Alex. "Gue bantu jalan?"


"Nggak usah, gue bisa sendiri." Tolak Sandra yang merasa canggung.


"Oh iya elo harus minum obat. Ini paracetamol, obat penurun panas." Alex menyodorkan sebutir pil pada Sandra.


Sandra ragu. Alex pun menjelaskan padanya. "Gue tu nggak bodoh kalau soal ginian, mama gue sering kasih ini kalau gue lagi demam, tenang aja gue nggak akan bunuh elo," katanya untuk meyakinkan Sandra.


Sandra pun menurut. Lalu ia mengambil segelas air dan meminum obat yang diberikan Alex. Alex merasa lega ketika temannya itu mau meminum obatnya. Setidaknya demamnya akan berkurang secara perlahan setelah ia meminumnya.


Kedua siswa tersebut kembali ke ruang kelasnya. Namun, ternyata berbarengan dengan bel istirahat. "Eh kita ke kantin aja."


Tanpa meminta persetujuan Sandra, Alex menarik tangan gadis itu. Ia berjalan perlahan. Sandra hanya bisa diam menurut karena Alex tidak mau melepas pegangan tangannya.


Ia meminta Sandra duduk. Sementara itu, ia memesankan makanan dan minuman untuk Sandra.


...🌼🌼🌼...


Seneng nggak lihat Bang Alex perhatian sama cewek cem-cemannya?


Dukung Bang Alex dengan memberikan gift tiap hari ya, sekarang kan nggak perlu susah-susah ngumpulin koin dulu. Tonton iklannya sampai selesai dengan begitu kalian sudah memberikan tips 10 koin.