
"Bi kebetulan kami mau ngomong sama kamu," kata Rasya.
"Ada apa pa?" tanya Bia.
"Papa sudah dengar Jaden sudah melamar kamu, lalu apa jawaban kamu?" tanya Rasya to the point.
"Aku belum memikirkan hal itu, saat ini aku masih ingin menikmati masa mudaku," kata Bia.
"Tapi sayang Jaden akan sangat kecewa kalau kau menolaknya, kamu akan menyakiti hati seseorang yang mencintai kamu," kata Ara.
"Ma lagian aku masih kuliah aku belum berfikir untuk berumah tangga, bagaimana kalau setelah menikah aku langsung hamil nanti kuliahku bisa keteteran,"
"Bia kamu tahu mama dan papa juga menikah saat kami masih kuliah, bahkan mama melahirkan kamu saat papa sedang menjalani sidang skripsinya," terang Ara mengingat kejadian waktu lampau.
"Ma sekarang dan dulu zamannya berbeda ma," sanggah Bia.
"Apa yang berbeda? semua sama saja Bia asal kita bisa menjalaninya dengan baik," kata Ara.
"Cukup ma," Rasya mencoba menenangkan istrinya.
"Kami tidak akan memaksamu Bia, tapi kamu coba pikirkan sekali lagi, apakah kamu tidak akan rugi melepas laki-laki sebaik Jaden," kata Rasya.
"Entahlah Bia bingung," gadis itu berlari menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya.
Bia membanting pintu kamarnya. Ia kesal dengan nasehat yang diberikan orang tuanya. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya. Tampak kekhawatiran di benaknya setelah berumah tangga. Ia pikir ia tidak akan bebas melakukan apa yang ia mau.
Keesokan harinya Ara yang tidak melihat putrinya di meja makan menyusul Bia ke kamarnya.
"Bia bangun sayang kamu gak kuliah pagi ini?" teriak Ara dari luar.
Tak mendapat jawaban dari dalam Ara lalu mencoba membuka pintu kamar putrinya. Ternyata kamarnya tidak terkunci. Ara pun masuk dan mendekat ke ranjang king size itu. Namun ia tidak mendapatkan putrinya tertidur di sana.
Setelah itu Ara mencoba membuka kamar mandi. Namun Bia tak juga ditemukan. Saat Ara menoleh ke meja kecil yang terletak di samping ranjang, ia menemukan sebuah surat yang ditulis dengan tangan.
"Ma Berlian pergi sementara, sampaikan maaf untuk Jaden karena tidak bisa memenuhi permintaannya,"
Begitu isi surat yang Bia tulis sebelum pergi meninggalkan rumah secara diam-diam.
"Papa," teriak Ara yang keluar dengan membawa kertas yang berisikan tulisan tangan putrinya.
"Ada apa ma?" tanya Rasya yang melihat istrinya panik.
"Berlian kabur pa," ucap Ara sambil terisak.
Rasya kaget dan mengambil kertas dari tangan istrinya."Anak itu keterlaluan," geram Rasya.
Ia pun meminta orang suruhannya untuk mencari keberadaan sang putri. Ia juga mengecek CCTV rumahnya namun tampaknya CCTV itu sengaja dimatikan pada saat kepergian Bia sehingga Rasya merasa kecolongan.
Setelah dua hari kepergian Bia yang tidak kunjung ditemukan, Ara masih saja bersedih. Namun ia belum sempat mengabarkan hal itu pada Jaden. Ia juga tak mau Jaden menyalahkan putrinya yang menghindar hanya karena dia memintanya untuk menikah dengan pemuda itu.
...***...
Jaden yang sudah dua hari tidak mendengar kabar dari kekasihnya merasa gelisah. "Kenapa handphone nya selalu tidak aktif," kesal Jaden karena setiap kali menelpon ke nomor Bia selalu operator yang menjawabnya.
Ia pun berinisiatif untuk menanyakan keberadaan Bia pada Keyla. Jaden menyempatkan diri datang ke kampus tempat mereka menimba ilmu pada saat jam makan siang.
"Kamu gak bareng Bia?" tanya Jaden.
Keyla menggeleng. "Sudah dua hari ini kata temannya dia tidak masuk," jawab Keyla.
"Aku hubungi dia ke nomornya tapi tidak direspon apa handphonenya rusak? atau dia sengaja mengganti nomor untuk menghindariku?" tebak Jaden.
"Entahlah kak sudah beberapa hari ini aku tidak chatingan sama dia, biasanya kalau ada apa-apa dia selalu menghubungi aku, apa kalian ada masalah?" tanyanya balik pada Jaden.
Jaden menggeleng."Mungkin dia sengaja menghindar dariku karena aku memintanya untuk menikah," ucap Jaden lirih.
"Kak ayo kita ke rumahnya," ajak Keyla sambil menarik tangan Jaden.
Mereka pun menuju ke rumah Berlian menggunakan mobil milik Jaden. Tidak sampai setengah jam mereka sampai di halaman rumah Bia.
Tin tin
Jaden membunyikan klakson mobilnya agar Satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Setelah mobil Jaden memasuki halaman mereka bergegas turun.
"Assalamualaikum ma," Keyla nyelonong lebih dulu. Keyla memang sudah terbiasa memanggil Ara dengan sebutan mama seperti yang Bia lakukan karena sejak kecil mereka sudah sering bermain bersama.
"Waalaikumsalam Key," jawab Ara yang mendengar salam dari putri sahabatnya itu.
Ara melihat Keyla yang tidak datang sendiri menjadi kaget saat Jaden datang bersamanya.
"Bia mana ma sudah dua hari gak ngampus apa dia sakit?" cecar Keyla pada ibunda Bia.
Ara tak lantas menjawab. Ia malah menangis tersedu-sedu di depan Keyla dan juga Jaden. Keyla menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana cara menenangkan Ara.
Setelah lama menangis Ara akhirnya bisa bicara."Maafkan anak tante Jaden, Bia kabur dan dia meninggalkan ini," Ara memberikan secarik kertas yang bertuliskan pesan terakhir Bia sebelum meninggalkan rumah.
Bahu Jaden meluruh saat membaca isi pesan yang Bia tulis. Hatinya terasa hancur mendapatkan penolakan dengan cara seperti ini. Begitu pun Keyla dia tidak menyangka sahabatnya itu tega melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang-orang di sekitarnya.
"Tante dan om sudah mencari keberadaannya tapi hasilnya nihil," imbuh Ara. Dia sungguh menyesali perbuatan bodoh putrinya. Ia sangat malu harus berbicara di depan Jaden.
"Aku sudah tahu dimana keberadaan anakmu ma," suara bariton itu membuat semua orang menoleh.
"Bia ada di Jerman bersama kakek dan neneknya, aku heran padahal semua kartu kreditnya sudah aku sita kenapa dia bisa membeli tiket untuk terbang ke luar negeri," kata Rasya.
Mendengar perkataan suaminya,Ara menangis kencang. "Maafkan mama pa, waktu itu mama memberi kartu debit mama ke Bia dan lupa mengambilnya kembali," jujur Ara.
Tak mau mendengar lebih banyak soal Bia yang kabur dari rumah Jaden berpamitan.
"Maafkan putri om yang bertindak ceroboh nak Jaden," ucap Rasya penuh penyesalan atas sikap putrinya yang menyakiti hati Jaden.
Jaden menggeleng. Ia berusaha tabah dan menahan air matanya agar tidak jatuh karena hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini. Ia pun pergi tanpa mengajak Keyla.Gadis itu masih sibuk menghibur Ara yang sedih karena ditinggal pergi oleh putrinya.
Jaden mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lalu di tengah perjalanan ia menepikan mobilnya.
"Kenapa kamu tega sekali pergi tanpa pamit seperti ini Bia," geram Jaden sambil memukul setir mobilnya.Tampak kekesalan di wajah tampannya itu.
Dalam sejarah perjalanan cintanya tidak pernah ada yang membuat nya patah hati seperti ini. Karena sebelumnya ia tidak pernah mencintai seseorang sedalam rasa cintanya pada Bia.