
Alex tidak melihat Sandra pagi ini. Dia pun menanyakan kepada Ciara. "Temen lo ke mana Ci?"
"Nggak tahu, Sandra gak ngasih kabar ke gue," ungkap Ciara.
Alex mencoba menghubungi ponsel Sandra. "Kok nggak aktif sih?" gerutu Alex sambil melihat ke layar ponselnya.
"Gimana Lex?" Tanya Ciara.
"Nggak aktif," jawab Alex. Seharian ini Alex tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. "Gue balik duluan," pamit Alex pada teman-temannya sesaat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
"Bos, kenapa?" Tanya Andi pada Amar.
"Palingan gara-gara Sandra nggak berangkat hari ini," pikir Amar.
"Kalian lihat Sandra nggak?" Tanya seorang siswi dari kelas lain.
"Elo siapa?" Tanya Ciara.
"Gue mau nyerahin surat ini sih, kemaren Alex ngusulin buat minta surat ke guru agar Sandra bisa masuk ke tim cheerleaders kami, denger-denger nyokapnya nggak ngebolehin dia pulang telat," kata siswa tersebut.
"Kasih ke gue aja nanti gue sampaikan," kata Ciara.
"Oke, thank you ya," siswi tersebut menepuk bahu Ciara sebelum pergi.
"Wih bentar lagi Sandra bakal jadi tim cheers nih, so pasti mereka bakalan menang terus kalau ada lomba," Ciara sengaja meninggikan intonasi suaranya agar terdengar oleh Bella.
Bella melirik tajam ke arah Ciara. Ia mengepalkan tangannya karena menahan arah agar tidak terpancing oleh omongan Ciara.
"Udah, lo jangan mancing emosi tu nenek lampir entar elo dicakarin kek waktu itu," ledek Agung.
"Ci, pulang bareng gue yuk! Bang Agung bawa motor yang baru dibeliin sama papa lho."
"Dih, pamer, gue kan tiap hari bawa mobil," kata Ciara sambil berlalu meninggalkan Agung.
Agung menepuk jidatnya. "Gue sumpahin mobil lo bocor bannya biar elo mengemis boncengan ke gue," teriak Agung.
"Berisik lo," kata Andi sambil meraup muka Agung.
...***...
Alex sudah sampai di kediaman orang tua Sandra. Tidak biasanya Sandra tidak izin masuk sekolah. Lalu ia beranikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar dengan pagar menjulang tinggi itu.
"Aden mau ketemu siapa?" Tanya Satpam penjaga rumah Sandra.
"Saya temannya Sandra, cuma mau tahu kenapa Sandra hari ini tidak masuk sekolah, Pak?" Tanya Alex dengan sopan pada pria paruh baya tersebut.
"Owh, Non Sandra diajak Tuan pergi," kata Satpam tersebut.
Alex mengerutkan keningnya. "Kemana pak perginya?" Tanya Alex lebih lanjut.
"Saya tidak tahu den, kejadiannya setelah tuan dan nyonya bertengkar, lalu tuan mengajak non Sandra pergi sambil membawa koper," terang penjaga rumah Sandra.
Alex meninju udara. Ia nampak frustasi bagaimana bisa Sandra pergi tanpa mengabari dirinya terlebih dulu.
Lalu ia meninggalkan rumah Sandra dan pulang ke rumahnya sendiri. Sesampainya di rumah Alex langsung naik ke atas tanpa memberi salam pada mamanya.
"Abang, nggak mau makan dulu?" Tanya Bia pada putranya. Alex menggelengkan kepalanya.
Bia memperhatikan wajah putranya itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia berinisiatif untuk pergi ke kamar putranya.
Sampai di kamarnya Alex membuang tasnya ke sembarang arah. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil melihat ke langit-langit rumahnya.
Tok Tok Tok
"Abang boleh mama masuk?" Teriak Bia dari luar kamar putranya itu.
"Sandra pergi ma," ungkapnya.
"Pergi kemana?" Tanya Bia lebih lanjut. Ia berniat mendengarkan curhatan anaknya.
"Kata penjaga rumahnya ayahnya membawanya keluar dari rumah setelah kedua orang tua Sandra bertengkar," kata Alex meneruskan kata-kata penjaga rumah tersebut.
"Mungkin mereka sedang ada masalah, sayang. Beri Sandra waktu untuk menyelesaikan masalahnya," Bia memberi saran pada putranya. Alex mengangguk.
...***...
Vero mengajak Sandra ke luar kota. Ia pulang ke kampung halamannya yang ada di kota K. "Nak, kita mulai lembaran baru kita di sini," kata Vero mencoba memberi pengertian pada putrinya.
"Kenapa kita tidak membeli rumah di kota saja, Pa?" Tanya Sandra.
"Uang kita tidak cukup nak. Papa mengalami bangkrut," ungkap Vero. Sandra menutup mulutnya karena kaget.
Sandra meneteskan air mata. Ia harus rela meninggalkan sekolahnya dan pindah ke tempat terpencil juga meninggalkan kekasihnya.
"Mulai sekarang papa akan menjadi petani di tempat ini, papa rasa kamu bisa membantu," usul Vero.
"Tapi bagaimana dengan sekolahku pa?" Tanya Sandra.
"Papa akan memindahkan sekolahmu di sini, nanti papa akan urus surat kepindahanmu dari kota," kata Vero.
Sandra tak menyangka hidupnya akan seburuk ini. Berpisah dari Alex padahal mereka belum lama jadian. Sandra juga harus menjalani hari-harinya tanpa kemewahan dan fasilitas seperti sebelumnya.
Sandra mencoba menghubungi Alex ketika daya ponselnya telah penuh. Tapi saat itu nomor ponsel Alex tidak aktif. Sandra telah berkali-kali menghubunginya tapi tetap saja tidak bisa.
Bahu Sandra meluruh. "Apakah Alex sudah melupakanku?" Tanya Sandra yang sedang bermonolog.
Mau tidak mau Sandra menjalani hari-harinya yang baru dengan berat tanpa kehadiran Alex.
...***...
Di tempat lain, Alex sedang mengunjungi toko buku. Kristal meminta abangnya mengantarkan ke toko buku. Ketika ia melihat sebuah novel berjudul MAAFKAN ADIKKU karya penulis yang sama dengan novel yang pernah ia beli, Alex menjadi teringat Sandra.
"Sebenarnya kamu pergi ke mana, aku sudah berhari-hari mencari mencarimu tapi sulit sekali menemukanmu," gumam Alex.
Alex meletakkan novel itu kemudian merogoh ponselnya. Ia ingin menghubungi Sandra. Tiba-tiba Kristal menepuk bahu kakaknya yang sedang melamun.
"Mikirin apa sih, ngelamun gitu, ntar ada setan lewat baru tahu rasa," ledek Kristal.
Karena terkejut ponsel Alex terjatuh. Layar ponselnya sampai pecah. "Ah rese lo cil, ganti nih ponsel," bentak Alex yang kesal karena ponselnya rusak.
"Maafin Kristal Bang, habisnya abang sih ngelamun jadi Kristal ngagetin abang, maaf kalau sampai mecahin ponselnya abang," kata Kristal dengan penuh penyesalan.
"Shiiit gue jadi nggak bisa hubungin Sandra." gumam Alex.
"Yuk bang ke konter hape kita beli lagi yang baru," kata Kristal.
"Tapi kontak gue ilang semua, dek," protes Sandra.
"Ya udah si besok kita minta ke temen-temen abang," usul Kristal membujuk kakaknya agar tidak marah lagi.
Kristal pun menarik tangan Alex agar lebih cepat berjalan menuju ke konter hp. "Elah laki apa bukan sih jalannya lemot aja dah kaya keong," ledek Kristal pada kakaknya.
"Berisik lo,"
Ketika Alex menoleh ke sembarang arah, ia melihat ibunda Sandra berada di mall yang sama dengannya.
Alex berjalan cepat ke arah Chloe. Namun, saat itu Chloe naik ke dalam lift. Alex tak dapat menyusulnya.
"Aishh menyebalkan sekali," kata Alex sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.