
Sore ini cuaca terasa panas. Setelah acara meeting di luar selesai Julian memutuskan untuk mampir membeli minuman dingin di sebuah restoran.
"Ice coffe moccachino satu," ucap Julian bersamaan dengan seorang wanita yang berparas cantik.
"Nona," tunjuk Julian.
"Anda tidak bersama adik saya?" tanya Bulan yang menoleh ke sana kemari mencari keberadaan adik sepupunya.
"Saya Julian, apa anda masih belum bisa membedakan wajah saya dengan wajah Jaden?" tanya Julian.
"Maaf, kita baru sekali bertemu jadi saya belum bisa membedakannya,"
"Gak masalah," balas Jaden sambil mengulas senyumnya yang menawan.
"Ice coffe moccachino," bartender memberikan pesanan Bulan dan Julian bersamaan.
Tapi tangan mereka bertemu di satu gelas ice coffe. Bulan cepat-cepat mengangkat tangannya. "Sorry," kata wanita yang notabene adalah sepupu Bia tersebut.
"Mari kita duduk di sana," ajak Julian dengan ramah menunjuk sebuah meja yang kosong.Bulan mengangguk setuju.
"Anda tidak kembali ke negara anda? Saya dengar anda tidak tinggal di Indonesia?" tanya Julian penasaran kenapa wanita yang ia taksir masih tinggal di sini padahal acara pernikahan sepupunya sudah selesai.
"Saya ada pekerjaan di sini," kata Bulan setelah itu menyedot minuman kesukaannya.
"Maaf anda bekerja di bidang apa?" tanya Julian lagi.
"Saya seorang desainer interior," kata Bulan.
"Owh kebetulan saya bekerja di bidang perhotelan, apa kita bisa kerja sama?" tawar Julian.
"Aku tidak yakin, karena setelah pekerjaan saya selesai saya akan kembali ke Jerman," tolak Bulan secara halus.
"Baiklah saya tidak akan memaksa, ini kartu nama saya, jika anda berubah pikiran anda bisa hubungi saya," Julian memberikan kartu namanya pada Bulan. Bulan terpaksa mengambilnya.
"Saya ada urusan, saya permisi dulu," pamit Bulan setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Aku akan segera mendapatkanmu," gumam Julian dengan seringai liciknya.
...***...
Bulan tinggal di rumah orang tua Bia sementara waktu sampai urusan pekerjaannya selesai.
"Malam ma,pa," sapa Bulan yang baru sampai di rumah itu.Bia juga memanggil Ara dengan sebutan mama dan Rasya dengan sebutan papa. Sejak kecil Bulan sudah menyukai mama Ara bahkan sebelum ia menikah dengan papa Rasya.
"Malam sayang, mama ambilin kamu makan sekalian ya," tawar mama Ara.
"Boleh ma, Bulan kangen sekali makan masakan mama," ucapnya yang bersemangat hingga membuat hati Ara meleleh.
"Bagaimana pekerjaan kamu Bulan?" tanya Rasya.
"Sejauh ini lancar pa, tapi beberapa hari ke depan aku boleh kan tinggal bersama kalian," tanya Bulan.
"Tentu saja rumah ini sepi sejak Berlian tinggal bersama suaminya," balas mama Ara.
"Thank you ma," Bulan mengecup tangan mama Ara sebagai ucapan terima kasih.
...***...
Di rumah baru Jaden.
"Kau akan tidur dimana?" tanya Bia.
"Tentu saja kita akan tidur satu ranjang di kamar ini," jawab Jaden.
"Tidak, emm.. bukankah rumah ini besar pasti ada kamar lain yang masih kosong," tolak Bia.
"Tapi kita sudah menikah sayang, sudah sepantasnya kita tidur di tempat yang sama,"
"Aku masih belum terbiasa,"
"Oh ayolah kalau aku tidur di luar atau di tempat lain bagaimana kalau tiba-tiba orang tua kita datang dan memergoki kita tidak tidur di kamar yang sama, apakah mereka tidak akan berfikir macam-macam tentang kita,"
Bia sejenak berfikir.Ia tidak melihat sofa di kamar itu."Baiklah tidurlah di sini tapi pisahkan dengan guling, jangan melewati batas," tegas Bia.
"Oke, baiklah," jawab Jaden pasrah akan keputusan Bia.
"Owh kenapa aku tidak kepikiran untuk menyingkirkan guling menyebalkan itu," rutuk Jaden dalam hatinya.
Pasangan suami istri itu pun tidur di satu ranjang yang sama namun terpisah oleh guling di tengah-tengahnya.
"Oh Tuhan aku tidak bisa tidur, kamu gak boleh tidur Bia, jangan sampai tangan Jaden menyentuhmu," batin Bia yang berbicara di dalam hatinya.
Bia mencoba menahan matanya agar tidak tertidur. Namun matanya sungguh tidak bisa diajak kompromi, kini ia sudah terlelap.
Perlahan Jaden menyingkirkan guling yang memisahkan jarak di antara mereka. "Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak memelumu sayang," gumam Jaden dengan lirih.
"Aaaa," Bia menjerit saat tangan Jaden melingkar di perutnya.
Sontak Bia kaget dan reflek memukul Jaden dengan bantal hingga suaminya mengaduh.
"Aw sakit sayang, kenapa kasar sekali membangunkanku," protes Jaden pada istrinya.
"Kamu jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya," geram Bia.
Jaden terkikik. "Aku hanya memanfaatkan peluang," ucapnya tanpa wajah berdosa sedikitpun.
Bia memberikan tatapan tajamnya kemudian wanita itu bangun lalu ia menyambar handuk kimono yang tergantung di dalam lemari.
"Mau aku temani?" goda Jaden yang malah mendapat pelototan dari istrinya.
"Aku bukan anak kecil," jawab Bia sebelum masuk ke kamar mandi.
Jaden puas sekali melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan. "Sekarang aja malu-malu, tapi lihat saja nanti siapa yang malu-maluin," cibir Jaden.
Tak lama setelah itu, Bia yang baru kelaur dari kamar mandi melihat suaminya sudah rapi. "Loh kamu mandi di bawah kok sudah rapi saja?" tanya Bia seraya mengusap-usap rambutnya yang masih basah.
"Ia kamu kelamaan sayang, bukankah hari ini kita janjian dengan dokter kandungan," kata Jaden sambil bercermin.
"Lalu kenapa harus memakai setelan jas lengkap?" tanya Bia.
"Aku ada jadwal meeting setelah mengantarmu, bisakah kita berangkat sekarang agar kita tidak kesiangan," kata Jaden sambil melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oke baiklah, tunggu di bawah," perintah Bia
"Aku akan tunggu di sini," tolak Jaden.
"Enak saja, aku akan berganti pakaian, keluar dulu," Bia mendorong tubuh Jaden sampai ke luar pintu kamarnya.Jaden terkekeh.
Tak lama kemudian Bia turun dari tangga dengan menggunakan setelan blouse lengan pendek dan celana kantor serta sepatu high heels.
"Sayang kenapa kau memakai setelan kerja," tanya Jaden.
"Aku juga tidak mau di rumah sendirian aku akan ke kantorku sebentar untuk mengecek laporan anak buahku," kata Bia
"Baiklah, aku akan mengantarmu setelah kita periksa kandunganmu, tapi tidak adakah sepatu flat yang bisa kau kenakan?" tanya Jaden.
"Kenapa aku tidak cocok dengan sepatuku ini, ini sepatu limited edition lho,"
"Bukan begitu sayang, sebaiknya kamu pakai sepatu flat, aku takut kamu jatuh," kata Jaden.
"Aku tidak punya," Jaden menghela nafasnya panjang."Ya sudah kita sudah terlambat," ajak Jaden.
Ia pun menarik tangan Bia. Kali ini ia menelusupkan jemarinya ke jemari lentik istrinya. Bia melihat ke arah tangannya yang digandeng oleh Jaden. Ada perasaan yang berdesir di dadanya.
...***...
"Nyonya Berlian," panggil suster yang bertugas menemani dokter kandungan yang praktek.
"Selamat pagi," sapa dokter tersebut ramah.
"Pagi dok, kedatangan kami kemari untuk memeriksakan kehamilan istri saya," Jaden berbasa-basi.
"Masuk minggu ke berapa?" tanya dokter.
"Saya tidak tahu dok,saya lupa terakhir kali menstruasi kapan" jawab Bia.
"Mari langsung rebahan di atas ranjang,kita USG dulu untuk memastikan usia janin," pinta sang dokter pada Berlian.
Lalu dokter mengoles gel di atas perut Bia. "Kehamilannya masuk delapan minggu ya," terang dokter.
"Janinnya sehat kan dok?" tanya Bia penasaran.
"Iya Alhamdulillah sehat, nanti saya akan buatkan resep vitamin saja," kata dokter.
Setelah selesai Jaden berkonsultasi."Dok kenapa istri saya yang hamil tapi saya yang muntah-muntah ya," kata Jaden menyampaikan keluhannya.
Dokter wanita yang berjilbab itu tersenyum."Itu namanya kehamilan simpatik ya pak, jadi karena ikatan yang kuat yang menyebabkan hal itu terjadi, jangan khawatir itu normal," Jaden bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.
"Sayang,aku antar sampai ke kantormu ya?" tawar Jaden.
"Tidak aku yakin kamua akan telat meeting jika kamu mengantarku, aku akan naik taxi saja," tolak Bia secara halus.Ia tahu suaminya sedikit gelisah karena Bagus sudah menghubungi ponselnya Beberapa kali.
"Baik hati-hati ya, kabari aku jika sudah sampai sana," Jaden memberikan kecupan singkat di kening istri tercintanya lalu pergi.
**Like
Like
Like**