
Zidan menolak pulang ketika diajak oleh kakaknya. "Tidak, Kak. Aku ingin bergabung dengan mereka, boleh kan Sandra?" Tanya Zidan pada Sandra.
Sandra meminta dukungan pada Alex tapi Alex menolak. Lalu Sandra melihat ke arah Bia, Sandra merasa tidak enak pada pemilik rumah jadi Sandra mengiyakan pertanyaan Zidan.
"Ya sudah kakak pulang duluan, kamu nanti pulangnya naik taksi aja ya dek," kata Sovia. Zidan mengangguk.
"Wah nggak hanya bakar jagung nih roman-romannya bakalan ada hati yang terbakar," kata Agung tapi sambil berbisik ke telinga Andi.
"Tante, aku permisi ya," pamit Sovia pada Bia sambil mencium tangannya.
"Iya, sayang bilang makasih ya sama mama kamu," kata Bia pada gadis berhijab itu. Sovia mengangguk.
Setelah itu Alex dan teman-temannya menuju ke halaman belakang rumah orang tua Alex. "Yang cewek bisa ambil bahan makanan yang ada di dapur ya, yang cowok bisa nyiapin bakaran," perintah Alex pada teman-temannya.
Meski ada Zidan yang menurutnya akan merusak suasana tapi ia berusaha menahan amarahnya demi teman-temannya. Hari ini mereka akan merayakan acara reuni setelah sekian lama tidak kumpul bareng.
"Dapurnya sebelah mana sih, ini rumah kok gede bener," gumam Nabil.
"Wah bener-bener real sultan si Alex," imbuh Ciara. Sandra hanya terdiam.
"Kira-kira kalau elo nikah sama dia lamarannya apa ya?" Nabil tiba-tiba membayangkan Sandra sedang dilamar Alex.
"By the way elo ingat Adam nggak San, temen sekolah kita yang matanya ngantuk itu," kata Ciara.
"Kenapa emangnya?"
"Sekarang dia jadi sultan. Kemaren gue lihat dia viral di medsos, masa ya dia lamar cewek pakai mobil, rumah plus sertifikatnya, uang ratusan juta terus tiket liburan ke Amrik." Ciara bercerita dengan antusias.
"Ya ampun beruntung banget ceweknya," timpal Nabil yang kini mulai akrab dengan Ciara.
"Alah, cewek kalau udah ngumpul mah gini, tadi diperintah apa sama Alex?" Sahut Agung dari belakang.
Ketiga cewek terus jadi terdiam setelah kedatangan Agung. "Kita cuma bingung dimana dapurnya," kata Ciara beralasan.
"Bokis banget lo kira gue nggak denger lo lagi ghibahin orang tadi," sindir Agung.
"Yuk ah ambil bahan makanan yang mau dibakar," ajak Agung. Ia membantu mengangkat bahan makanannya.
Dari atas tangga Kristal turun. Ia melihat Agung bersama beberapa gadis yang ia duga teman Alex. Kristal meremas tangannya. "Mas Agung," panggil Kristal dengan emosi.
Agung menoleh. "Eh dedek gemoy." Panggilan Agung pada Kristal membuat ketiga teman wanita Agung merasa muak. Ciara sampai pura-pura muntah mendengar Agung membual.
"Sama siapa?" Tanya Kristal sambil melirik gadis-gadis yang ada di samping Agung.
"Mereka teman-teman Mas, teman-teman abang kamu juga," jawab Agung. Jantungnya berdebar ketika Kristal terlihat cemburu.
"Apa kabar Kristal?" Sandra mulai buka suara.
"Eh, kak Sandra?" Tanya Kristal memastikan. Sandra mengangguk.
Kristal langsung berhambur ke pelukan Sandra. "Ya ampun kak udah lama nggak main ke sini kakak kemana aja?"
Sementara itu Agung, Ciara dan Nabil meninggalkan Sandra bersama Kristal. Alex yang tak melihat kekasihnya itu merasa risau. "Lho Sandra mana Gung?" Tanya Alex yang cemas.
"Diculik sama adik lo," jawab Agung.
Tak lama kemudian Sandra terlihat berjalan dengan Kristal. "Eh kak Zidan di sini juga?" Tanya Kristal ketika melihat Zidan bergabung bersama teman-teman abangnya. Zidan tersenyum.
Alex terlihat tidak menyukai kehadiran Zidan. Tahu keadaan mulai memanas Andi mencoba mendinginkan keadaan. "Yuk ah mulai bakar-bakar gue udah laper," kata Andi sambil merangkul leher Alex.
"Kamu mau?" Zidan menawarkan jagung yang telah ia bakar pada Sandra yang sedang menunggu teman yang lainnya.
"Boleh," Sandra menerima jagung pemberian Zidan.
Alex melirik ke arah mereka. Ia semakin mempercepat kipasan tangannya. "Bos bos arangnya kemana-mana nih," protes Amar yang sedang menutup hidungnya.
"Eh sorry sorry," Alex jadi merasa bersalah.
"Gue bantu ya," Nabil tiba-tiba mendekat.
Deg
Jantung Amar serasa berhenti ketika Nabil mendekat. Sandra yang melihat kedekatan Nabil dan Amar dari kejauhan jadi senyum-senyum sendiri.
"San, gue udah lama suka sama elo," kata Zidan.
"Yess," ucapan Sandra membuat Zidan salah paham. Ia menyimpulkan kalau Sandra menerima pengakuan cintanya. Padahal Sandra sedang senang melihat Nabil yang sukses mendekati Amar.
"Sayang, kita pindah yuk gabung sama yang lain," ajak Alex sambil menarik tangan Sandra.
Zidan menghalangi mereka. "Tunggu," ucap sepupu Alex itu.
"Gue mau ajak Sandra gabung sama yang lain," kata Alex.
"Elo nggak bisa paksa dia," kata Zidan.
"Gue nggak maksa gue ngajak baik-baik," Alex meninggikan suaranya.
"Cukup," kata Sandra melerai keduanya.
"Kalian bisa nggak sih nggak berantem mulu?" Tanya Sandra pada kedua lelaki yang memperebutkan dirinya itu.
"Nggak bisa," jawab Alex dan Zidan kompak.
"Oke kalau gitu kalian ribut karena gue kan? Ya udah gue balik daripada bikin ribut di sini," Sandra hendak melangkahkan kaki tapi Alex menghadangnya.
"Sayang, jangan marahlah, maafin aku oke?" Bujuk Alex.
"Cih, penjilat," cibir Zidan.
"Diem lo!" Bentak Alex.
"Tu kan berantem lagi, udah ah mau pulang aja, Bil kita pulang aja!" Ajak Sandra pada Nabil.
"Yah, nanti ajalah San, masih jam segini." Penolakan Nabil membuat Sandra melotot pada gadis berkacamata itu.
"Iya iya gue ikut," gerutu Nabil.
Sandra menarik tangan Nabil agar berjalan lebih cepat. "Kok jadi gini sih?" Andi menyayangkan sikap Alex dan Zidan yang membuat Sandra pulang.
Agung, Amar, Andi serta Ciara juga pamit pulang. "Balik dulu bos!" Agung menepuk bahu Alex.
"Mas Agung, jangan pulang dulu lah," bujuk Kristal agar calon pacarnya itu tetap tinggal.
"Besok aja my baby gemoy, Mas Agung main ke sini lagi," kata Agung pada Kristal.
Sedangkan Zidan pulang tanpa pamit pada pemilik rumah menyusul Sandra. Sandra dan Nabil masih menunggu taksi di depan rumah Alex. "Jam segini jarang angkot lewat San." kata Nabil.
"Siapa bilang kita mau naik angkot? Kita naik taksi aja biar cepet," kata Sandra pada Nabil.
"Gue udah pesen taksi online," Benar saja tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan Sandra dan Nabil.
Driver itu membuka pintu mobilnya. "Dengan mbak Sandra?" Tanya driver yang usianya sekitar tiga puluh tahunan itu.
"Benar Pak," jawab Sandra lalu mereka naik ke dalam mobil.
Zidan melihat Sandra dan Nabil memasuki sebuah mobil berwarna hitam. Tak sengaja ia melihat ke nomor plat yang ada di mobil tersebut. "Plat luar kota?" Gumam Zidan.
Karena curiga Zidan pun mengikuti mobil tersebut. Ia memesan taksi online lalu meminta driver tersebut mengikuti mobil Sandra. Untungnya saat itu mobil taksi yang ditumpangi Zidan tak jauh dari lokasi jadi mereka bisa mengejar Sandra dan Nabil.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Ikuti terus ya ceritanya.