My Beloved Partner

My Beloved Partner
83



Keesokan harinya Bia mengajak Sovia jalan-jalan pagi di taman sambil berolahraga. Namun, ia menempatkan bayi itu di stroller.Tak disangka Bia bertemu dengan mantan pacarnya.


"Dia anak kamu Bi?" tanya Dani tak percaya mantan kekasihnya itu sudah memiliki anak dengan laki-laki lain.Padahal ia berniat merebut hati Bia dari suaminya itu.


Bia memiliki ide untuk mengerjai Dani."Iyalah,kamu pikir anak siapa? Kamu gak lihat wajahnya mirip gini?" Bia mendekatkan wajahnya dengan Sovia.


"Gak mirip sama sekali,gak ada bule-bulenya," sanggah Dani setelah membandingkan wajah Bia dan anak kecil yang anteng dalam stroller itu.


"Gen bapaknya lebih kuat daripada emaknya, lebih mirip suamiku kan?" tanya Bia sambil mengulum senyum melihat kebingungan di wajah Dani.


"Tapi masa gak ada gen kamu yang nyangkut ke dia sih Bi," Dani berjongkok melihat wajah Sovia lebih dekat. Anak itu tiba-tiba menyemburkan air liurnya ke wajah Dani. Ia jadi terkejut. Bia tertawa terbahak-bahak.


"Namanya Sovia, kamu sih ganggu dia," cibir Bia yang kesal karena laki-laki itu tak kunjung pergi.


"Hai Sovia, kenalin calon papa baru kamu," Dani mengerlingkan sebelah matanya pada Bia.


"Dih," Bia bergidik ngeri dibuatnya.


Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan kedekatan mereka.Ia tidak suka melihat Bia begitu dengan laki-laki lain.Ia pun pergi sambil membawa kembali sebuah kotak yang rencananya akan diberikan pada Bia.


"Oh ya kamu sudah terima buket bunga yang aku krim ke kamu kan waktu itu," ungkap Dani.


Deg


"Jadi buket bunga itu bukan dari suamiku?" tanya Bia pada dirinya sendiri.


Bia yang sadar akan perubahan sikap suaminya beberapa waktu lalu itu membuat dirinya segera mengambil ponsel dari saku celananya.Ia pun memilih menjauh dari Dani.Dani hanya menatap kepergian Bia.


"Gus kamu dimana?" tanya Bia saat itu.


"Suamiku ada?" tanyanya lagi.


"Beliau sedang keluar, ada yang ingin anda sampaikan?" Bagus balik bertanya pada istri atasannya itu.


"Sejak kapan kalian kembali dari luar kota?" tanya Bia memancing jawaban agar ia mengetahui suaminya berbohong atau tidak.


"Maaf kita tidak ada kunjungan ke luar kota dalam minggu ini Nyonya," jawab Bagus.


Bia lalu menutup telepon dan membawa Sovia masuk ke dalam mobil. Ia meletakkan bayi itu pada car seat baby yang ia sediakan di mobilnya.Ia melajukan mobil itu menuju ke hotel suaminya.


Sedangkan di rumah Raina panik karena Bia tidak kunjung kembali dari taman.Ia kemudian mengadu pada mertuanya.Mom Celine ikut khawatir karena ponsel Bia tidak bisa dihubungi.


Akhirnya mom Celine meminta bantuan pada Julian untuk mencari keberadaan Bia dan Sovia, putrinya.


Brak


Bia membuka pintu ruang kerja Jaden dengan kasar.Akan tetapi saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ia tak menemukan Jaden maupun asistennya itu.


"Kemana mereka?" gumamnya sambil menggendong Sovia.


Ia yang sedang kalut kemudian menelpon ponsel Jaden tapi sayangnya tidak aktif.Bia semakin kesal. Lalu Sovia menangis karena dirinya merasa capek dan haus.


Bia kemudian mencoba menenangkan Sovia tapi tidak berhasil. Ia makin panik dan gusar. "Sayang berhentilah menangis," pintanya pada anak yang belum lancar berbicara itu.


"Hei kamu apakan dia sampai menangis begitu?" tanya seseorang dengan nada berat sehingga membuat Bia tersentak kaget.