My Beloved Partner

My Beloved Partner
32



Waktu menunjukkan pukul 14.30 Jaden mengajak Bia ke sebuah restoran. Ia tahu istrinya pasti sudah merasa kelaparan. Agak telat jika disebut sebagai acara makan siang.


"Yang tadi itu mantan pacar kamu?" tanya Jaden seolah sedang menyidang istrinya.


Bia melirik suaminya sekilas."Itu hanya masa lalu," jawab Bia sambil mengaduk-ngaduk makanan yang disajikan di depannya.


"Kamu boleh bercerita ko kalau kamu ingin, aku siap jadi pendengar setia kamu," ucap Jaden saat melihat suasana hati istrinya yang kurang baik.


Akhirnya Bia angkat suara. "Dia pengkhianat, gak ada yang bisa dibanggakan," kata Bia sedikit kesal.


"Kalau boleh tahu kamu kenal dia dimana?" selidik Jaden.


Bia mengernyit heran."Kepo," batin Bia namun ia akhirnya menjawab pertanyaan suaminya.


"Dia kakak tingkatku, dulu aku sering dikerjai saat ikut OSPEK sama kakak seniorku dan dia selalu membantu aku saat aku sedang kesulitan, sejak itu aku akrab dengannya,aku kira dia orang baik ternyata dia laki-laki yang tidak cukup dengan satu wanita saja," kata Bia jujur mengingat masa lalunya.


"Owh," jawab Jaden singkat sambil menyeruput jus alpukat kesukaannya.Ada perasaan tak rela di hatinya mengingat wanita yang ia cintai pernah berhubungan dengan laki-laki yang memiliki bibit-bibit pelakor seperti Dani.


"Ah sudahlah jangan ngomongin dia, aku jadi tidak berselera makan,memikirkannya saja aku membuatku mual," kata Bia menghentikan aktivitas makannya.


"Lalu bagaimana dengan masa lalumu? aku tidak tahu berapa banyak wanita yang kau kencani?" pertanyaan Bia membuat Jaden terbatuk.


Uhuk


Uhuk


"Emm aku bahkan lupa berapa banyak wanita yang aku kencani," jujur Jaden sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bia menghela nafasnya kasar."Jadi kamu ini bekasnya banyak orang dong," ledek Bia.


"Sayang percayalah padaku aku tidak pernah melakukan sesuatu melebihi ciuman pada mereka," kata Jaden gugup saat mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Haish bibirmu juga bekas, kasian sekali nasibku ini memiliki laki-laki sepertimu," Bia menghela nafasnya kasar.


"Lalu apakah saat aku menciummu dulu adalah ciuman pertamamu?" goda Jaden.


"Tentu saja," geram Bia sambil melempar sumpit. Bukannya kesal Jaden justru tertawa."Beruntung sekali diriku ini mendapatkan ciuman pertamamu," ucap Jaden dengan bangga.


"Menyebalkan sekali," protes Bia. Ia mencebik kesal.


"Aku ingin pulang," pinta Bia kemudian ia berdiri terlebih dulu dan meninggalkan Jaden yang masih terduduk di kursinya.


"Sayang tunggu," Jaden mengeluarkan sejumlah uang kemudian ditaruhnya di atas meja. Setelah itu ia mempercepat langkahnya untuk menyusul sang istri.


Bia menunggu Jaden di samping mobilnya karena Jaden yang membawa kunci. "Cepat bukakan aku tidak tahan di sini panas sekali," keluh Bia sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke muka.


"Baik tuan putri," goda Jaden sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Sesampainya di rumah Bia hendak masuk kamar tapi ia tidak tahu dimana kamar mereka.


Jaden yang mengetahui gelagat istrinya kemudian mendekat ke arah Bia."Kamar kita di atas sayang," tunjuk Jaden.


"Owh," jawab Bia lalu saat Bia akan naik tangga Jaden menghentikan langkah istrinya itu.


Lagi-lagi perhatian kecil yang Jaden berikan membuat hati Bia melting. Ia sungguh menyukai sikap suaminya itu. Meskipun dulu sang suami menginginkannya dengan cara paksa tapi ia tahu suaminya sangat perhatian.


"Waw megah sekali," puji Bia saat melihat kamar dengan nuansa monokrome dengan perabot modern di dalamnya.


"Kamu suka?" tanya Jaden memastikan. Bia pun mengangguk.


"Emm apa pakaianku sudah Bagus pindahkan kemari? Badanku lengket aku ingin mandi dan berganti pakaian," kata Bia.


"Mari aku tunjukkan pakaianmu," Jaden membawa Bia ke dekat lemari besar yang ada di kamar itu.


"Ini pakaian yang aku siapkan untukmu sayang,semoga ukurannya sesuai denganmu, Bagus mungkin akan mengirim pakaianmu sebentar lagi," kata Jaden sambil memperlihatkan lemari yang penuh pakaian baru yang sengaja ia beli.


Benar saja setelah itu terdengar suara bel dari pintu luar. Jaden menoleh. "Aku ke depan dulu,biar aku yang bukain pintu," kata Jaden pada istrinya. Bia pun mengangguk.


Kemudian Jaden membukakan pintu rumahnya. "Sore pak, ini baju-baju bapak dan nyonya," kata Bagus yang sore itu datang berkunjung.


"Bawa masuk!" perintah Jaden pada asistennya.


"Letakkan dulu di situ, Gus bisakah kamu carikan asisten rumah tangga untuk mengurus rumah ini saya tidak mau istri saya mengurus rumah sebesar ini sendirian. Dan kamu sendiri tahu dia bekerja, oh carikan saya supir juga supaya istri saya ada yang mengantar kalau pergi kemanapun dia mau," perintah Jaden kembali dijawab dengan anggukan kepala oleh asistennya.


"Pak besok ada meeting dengan orang Thailand jam 11 siang..." Jaden menyela omongan Bagus.


"Kamu yang tangani, saya harus menemani istri saya memeriksakan kandungannya," tolak Jaden.


"Baik pak," Bagus mengangguk pasrah.


"Kalau tidak ada lagi yang bisa saya bantu saya mau undur diri," kata Bagus dengan ekspresi wajah yang datar.


"Terima kasih banyak Gus," Jaden menepuk bahu asistennya. Ia sebenarnya tidak enak dengan Bagus karena banyak merepotkan dirinya terutama sejak beberapa hari terakhir untuk menghandle meeting-meeting penting. Namun Bia juga sangat berarti baginya terlebih ada anak yang harus ia jaga yang ada di dalam perut istrinya.


"Kamu akan mengerti jika kamu sudah menikah nanti," imbuhnya sebelum Bagus pergi.


Setelah itu Bia turun dari lantai atas. "Apa Bagus sudah pulang?" tanya Bia


"Ya sayang," jawab Jaden seraya menghirup aroma parfum istrinya dalam-dalam.


"Emm wangi sekali sayang," puji Jaden.


"Iyalah wangi orang habis mandi," kata Bia lalu ia mendekatkan diri ke tubuh suaminya untuk mencium bau tubuhnya.


"Eyiuh mandi sana kamu bau sekali," kata Bia sambil menutup hidungnya dengan tangan.


Jaden yanb merasa dinilai lalu mencium bau badannya sendiri. "Oke baiklah, daddy mandi dulu ya nak," Jaden membungkuk dan mengusap perut Bia. Kecupan singkat pun mendarat di kening wanita yang sedang hamil muda tersebut. "I love you mommy," kata Jaden sedikit berbisik.


Deg


Jantung Bia berdebar kencang saat sang suami menyentuh perutnya. Belum lagi keningnya yang terasa panas setelah dicium. Bia menyentuh kedua pipinya dengan tangan. Wajahnya merah merona. Ia menahan senyumnya. *Melting again.


...❤️❤️❤️...